Admeliora Karya Betty Goenawan dan Memahami Professional Ghosting
•
3 Menit Baca
Oleh:
Selamat berakhir pekan.
Berikut informasi seputar tren yang sedang ramai dibahas di publik.

Di tengah kesibukan memimpin OCBC Sekuritas dan dinamika pasar modal, Betty Goenawan menyalurkan kreativitas serta emosinya melalui hobi melukis aliran abstrak dan realisme cat air. Bagi Betty, seni lukis bukan sekadar pelarian untuk menemukan ketenangan, melainkan bentuk ekspresi diri yang seimbang dengan kehidupan profesionalnya, yang bahkan membawanya turut serta dalam pameran seni bertajuk Laboro Vinco.


Dunlop Posko Mudik 2026: Salah satu perusahaan ban terbesar, Dunlop menghadirkan posko mudik untuk para pelaku perjalanan dalam menyambut Idul Fitri 1447 H pada 14-20 Maret 2026 di Rest Area KM. 57, Tol Jakarta - Cikampek. Berbagai layanan dibuka gratis untuk para pelaku perjalanan seperti konsultasi dan cek ban, relaksasi kursi pijat, isi angin nitrogen. Selain itu juga akan ada promo pembelian ban, cashback hingga Rp 3 juta, dan kesempatan memenangkan berbagai hadiah menarik. Posko Mudik Dunlop akan buka selama 24 jam.
Ramadan Live “Feast”: Now Playing Festival menggelar edisi spesial “Ramadan Live” bertajuk “Feast” di Stadion Siliwangi, Bandung, pada Sabtu, 14 Maret 2026. Acara ini menjadi sorotan karena memadukan musik, kuliner, dan suasana Ramadan yang hangat, dengan penampilan musisi ternama seperti Opick, Hindia, serta Feast yang telah dikonfirmasi bergabung dalam lineup. Festival ini diharapkan menjadi salah satu agenda utama Ramadan di Jawa Barat, menarik ribuan pengunjung untuk merayakan bulan suci sebelum periode mudik Lebaran.

Jadi professional ghosting adalah sebuah perilaku di mana seseorang memutuskan secara sepihak tanpa adanya penjelasan, pun menghindari atau mengabaikan seluruh komunikasi dengan kolega, perusahaan, atau pimpinannya.

“Berangkatlah, niscaya engkau akan mendapatkan ganti untuk semua yang engkau tinggalkan. Bersusah payahlah, sebab kenikmatan hidup direngkuh dalam kerja keras. Ketika air mengalir, ia akan menjadi jernih, dan ketika berhenti ia akan menjadi keruh..." Begitu petuah Imam Syafi’i mengalir, jernih seperti air yang bergerak, menyapa jiwa yang beku agar kembali hidup.
Etos kerja bukan sekadar istilah, melainkan napas jiwa yang menuntun manusia dalam memaknai hidup. Ia menentukan apakah kerja hanya jadi beban, atau justru jadi jalan untuk menemukan makna, martabat, dan pengabdian. Di dalam etos, kerja tak lagi soal perut, tapi soal jiwa yang ingin membekas di kanvas sejarah.
Namun, di negeri yang fasih berdoa ini, kenapa ladang produktivitas kering, etika sosial lemah, dan korupsi menjamur? Apakah doa kita telah terpisah dari tindakan? Apakah ibadah hanya menundukkan tubuh tanpa menyentuh cara hidup?
