Soft Power Indonesia Didorong Jadi Mesin Ekonomi Baru
Kekayaan budaya Indonesia sudah saatnya dikomersilkan, Bisa menjadi kekuatan ekonomi dan soft power.
Kekayaan budaya Indonesia sudah saatnya dikomersilkan, Bisa menjadi kekuatan ekonomi dan soft power.
Gelaran budaya di Indonesia, dinilai memiliki potensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia, di tengah ketergantungan terhadap sumber daya alam yang semakin terbatas.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, kekayaan budaya Indonesia dapat dikembangkan menjadi engine of growth, alih-alih dipandang sebagai beban anggaran atau cost center. Budaya ini bukan cost center, tapi budaya itu adalah investment,” kata Fadli Zon dalam forum Generasi Indonesia Bertutur yang digelar Tutur Media Digital di Jakarta, Jumat (4/9/2025).
Menurut Fadli, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar, mulai dari bahasa, tradisi lisan, pengetahuan tradisional, permainan rakyat, olahraga tradisional, pangan lokal hingga seni. Kekayaan tersebut dapat menjadi modal penting untuk memperkuat identitas sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi baru.

Ia menyebut, Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa dan 718 bahasa. Selain itu, terdapat ribuan ekspresi budaya, baik dalam bentuk warisan budaya benda maupun tak benda.
Fadli menilai, pengembangan ekonomi budaya semakin penting karena sumber daya alam yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi memiliki keterbatasan. Apalagi industri budaya dan kreatif menyumbang US$4,3 triliun atau setara 6% Produk Domestik Bruto (PDB) global.
Industri ini juga menciptakan 30 juta lapangan kerja di seluruh dunia. “Batu bara, nikel, bauksit, timah semuanya akan habis. Tapi budaya tidak akan ada habis-habisnya, selama manusianya itu ada,” kata Fadli.
Kebudayaan, sambungnya, juga dapat menjadi instrumen soft power, sebagaimana yang telah dilakukan sejumlah negara. Ia mencontohkan Amerika Serikat dengan industri Hollywood dan Korea Selatan melalui gelombang budaya Korea atau Korean Hallyu, termasuk K-Pop dan drama Korea.
Ia menilai, Indonesia memiliki modal budaya yang tidak kalah besar untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi dan soft power.
Potensi ekonomi tersebut terlihat dari perkembangan industri kreatif Indonesia, terutama film dan musik.
Fadli mengatakan film Indonesia saat ini telah menguasai sekitar 67% pangsa pasar bioskop dalam negeri. Potensi juga terdapat pada industri musik. Fadli menyebut sekitar 80% masyarakat Indonesia mendengarkan musik Indonesia.
Fadli juga melihat museum kini mulai jadi bagian dari ekosistem ekonomi budaya. Ia mencontohkan pengelolaan museum di Prancis yang mampu menghasilkan pendapatan melalui tiket masuk, merchandise, makanan dan minuman, hingga aktivitas pariwisata.
Salah satu contoh yang dia soroti adalah Istana Versailles. Dengan harga tiket sekitar 65 euro dan jumlah pengunjung yang disebut mencapai sekitar 30.000 orang per hari.

Menurutnya, Indonesia juga memiliki peluang serupa jika situs budaya dan museum dikelola dengan baik. Karena itu, pemerintah tidak berhenti pada pelestarian benda dan situs budaya. Pemerintah juga mendorong pengembangan industri budaya dan kreatif.
"Kita bisa berkolaborasi dengan banyak pihak. Jadi tidak hanya ini merupakan tugas dari pemerintah pusat atau pemerintah provinsi atau kabupaten kota, tapi harus melibatkan swasta, korporasi, individu-individu filantropis, dan juga tentu saja komunitas komunitas budaya yang ada di berbagai tempat bagaimana memajukan budaya kita," katanya.
Namun, potensi tersebut ada akhirnya tidak hanya bergantung pada kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia, tetapi juga pada kemampuan generasi muda mengolahnya menjadi karya dan gagasan yang memiliki nilai ekonomi.
Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat mengatakan, generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi atau sekadar penghasil konten. Perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial, justru harus dimanfaatkan untuk menghasilkan pemikiran dan gagasan yang bermutu.
"Kita membutuhkan generasi yang memiliki kebebasan berpikir sekaligus integritas berpikir. Jangan puas jadi content creator, jadilah idea creator. Jangan hanya mengejar perhatian, bangunlah pemikiran. Jangan hanya bertanya apa yang sedang viral, tetapi tanyakan pula apa yang penting bagi masa depan Indonesia," kata Komaruddin.
Ia menegaskan, persoalan yang lebih penting bukan lagi apakah teknologi akan mengubah kehidupan manusia, karena perubahan tersebut merupakan sesuatu yang pasti terjadi. Tantangannya adalah bagaimana manusia tidak sekadar menjadi korban perubahan, tetapi mampu mengarahkan perubahan tersebut.
Komaruddin menilai tantangan itu semakin penting karena ruang publik saat ini menghadapi banjir informasi. Setiap orang dapat memproduksi dan menyebarkan informasi dengan mudah. Namun, semakin banyak informasi yang beredar, semakin penting pula memastikan siapa dan apa yang dapat dipercaya.
"Di tengah begitu banyak orang yang buat konten, yang akan dibutuhkan masyarakat bukan sekadar konten yang banyak, tetapi pemikiran yang bermutu. Bukan sekadar informasi yang cepat tepat, tetapi informasi yang benar. Bukan sekadar sesuatu yang viral tetapi sesuatu yang memiliki makna," katanya.

Ia menilai kondisi ruang digital juga berpotensi mengubah ruang publik dari tempat pertukaran nalar menjadi ruang yang didominasi emosi, opini, dan sensasi. Fenomena tersebut dapat terlihat dari penyebaran hoaks, kemarahan, kebencian, hingga praktik doxing yang menurutnya semakin biasa terjadi.
Komaruddin mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi demokrasi. Menurut dia, demokrasi memang selalu gaduh karena memberi ruang bagi perbedaan pendapat dan partisipasi masyarakat. Namun, kegaduhan tersebut harus tetap diimbangi dengan kualitas informasi dan diskusi.
"Democracy is restless, democracy is noisy, itu kita jaga. Jadi kalau tidak noise, tidak restless, itu bukan demokrasi. Hanya di situ yang diperlukan adalah yang berkualitas, informasi, diskusi, debat yang berkualitas," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Pendiri sekaligus Presiden Komisaris Tutur Media Digital Don Bosco Selamun mengatakan, forum “Generasi Indonesia Bertutur” digagas sebagai ruang untuk menghadirkan narasi yang jernih di tengah derasnya arus informasi dan beragamnya pandangan di ruang publik.
Ia menilai dibutuhkan ruang yang memungkinkan orang menyampaikan pandangan secara jernih, spesifik, dan fokus.
"Saya kira saat ini, salah satu penyakit kita adalah confusing menghadapi media, confusing menghadapi berbagai informasi. Ini adalah salah satu penyakit yang kita sekarang hadapi. Nah, kita mencoba forum ini akan berlanjut dengan penuturan-penuturan yang kita anggap bening," katanya.

Ia mengatakan narasi yang disampaikan tidak harus selalu besar atau membahas persoalan yang kompleks. Sebuah sudut pandang yang sederhana pun tetap penting, selama disampaikan dengan kejernihan.
Don Bosco berharap forum tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap cara generasi baru memahami berbagai persoalan. Melalui penuturan dari orang-orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang masing-masing, masyarakat diharapkan dapat memperoleh perspektif yang lebih jernih sehingga tidak mudah terjebak dalam kebingungan akibat derasnya arus informasi.
"Kita membutuhkan orang-orang yang bisa menyampaikan pandangan dalam bidang tertentu, sangat spesifik dan sangat fokus tentang hal yang mereka bicarakan, tapi jernih untuk sampai di publik," katanya.