Penjual Ritel Dalam 3 Bulan dan 6 Bulan ke Depan Diperkirakan Bakal Naik

Kenaikan penjualan pada Mei dan Agustus akan dipicu oleh banyaknya tanggal merah yang bisa mendorong konsumsi masyarakat.

Penjual Ritel Dalam 3 Bulan dan 6 Bulan ke Depan Diperkirakan Bakal Naik
Warga memilih pakaian di salah satu pusat perbelanjaan di Semarang, Jawa Tengah, Minggu (12/4/2026). Kementerian Perdagangan mencatat realisasi Program Belanja Nasional pada triwulan I 2026 yang melibatkan pusat perbelanjaan, gerai ritel, dan pasar rakyat mencapai Rp184,02 triliun, melampaui target Rp172,38 triliun, sehingga menunjukkan sinergi efektif antara pemerintah dan pelaku usaha dalam mendorong konsumsi masyarakat. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nz
Daftar Isi

Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia Februari 2026 yang dirilis Senin (13/4/2026) menyebutkan penjualan ritel atau eceran dalam 3 bulan ke depan (Mei) dan 6 bulan ke depan (Agustus) diperkirakan akan naik. Kenaikan penjualan pada Mei dan Agustus akan dipicu oleh banyaknya tanggal merah yang bisa mendorong konsumsi masyarakat.

Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Mei berada pada level 147,2 meningkat dibandingkan posisi April yang berada pada level 146,7. Adapun IEP Agustus berada pada level 162,4 meningkat pesat dibandingkan Juli yang pada level 149,1.

Peningkatan IEP Mei didorong oleh hari besar keagamaan nasional seperti Idul Adha, Kenaikan Yesus Kristus, dan Waisak. Sedangkan lonjakan IEP pada Agustus ditopang oleh Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia yang dibarengi dengan tahun ajaran baru sekolah.

Lebaran dorong penjualan ritel

Sementara itu kinerja penjualan eceran pada Maret 2026 tumbuh. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Maret 2026 yang tumbuh sebesar 2,4% (yoy). 

Kinerja penjualan eceran tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan penjualan Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi. 

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan secara bulanan, penjualan eceran pada Maret 2026 diperkirakan tumbuh sebesar 9,3% (mtm), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Februari 2026 sebesar 4,1% (mtm).

Baca juga:

Melihat Geliat Belanja Masyarakat Jelang Lebaran di Tengah Ketegangan Perang
Saat ini konsumsi masyarakat dibayangi oleh kemungkinan inflasi dan pelambatan ekonomi ke depan, yang dipicu ketegangan geopolitik Amerika Serikat dengan Iran.

Peningkatan tersebut didorong oleh kinerja mayoritas kelompok, terutama Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi, Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, dan Sub Kelompok Sandang sejalan dengan peningkatan permintaan rumah tangga selama periode perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 1447 H.

Pada Februari 2026, IPR secara tahunan tumbuh sebesar 6,5% (yoy), lebih tinggi dibandingkan IPR Januari 2026 sebesar 5,7% (yoy). Pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan penjualan pada mayoritas kelompok, terutama Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dan Sub Kelompok Sandang. 

“Secara bulanan, penjualan eceran pada Februari 2026 tumbuh sebesar 4,1% (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada pada fase kontraksi sebesar 2,7% (mtm),” ujar dia dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (13/4/2026).

Peningkatan tersebut didukung oleh kinerja penjualan Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta Sub Kelompok Sandang sejalan dengan kenaikan permintaan masyarakat saat periode Ramadan.

Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga bulan yang akan datang yaitu Mei 2026, diperkirakan meningkat, sementara pada enam bulan yang akan datang yaitu Agustus 2026, diperkirakan relatif stabil. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Mei 2026 sebesar 157,4, lebih tinggi dibandingkan dengan IEH April 2026 sebesar 153,9 seiring kenaikan harga bahan baku. 

Sementara itu, IEH Agustus 2026 diprakirakan sebesar 157,2, relatif stabil dibandingkan dengan IEH pada Juli 2026 sebesar 157,1

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin menuturkan momentum lebaran atau Idul Fitri secara konsisten menjadi pendorong utama peningkatan daya beli masyarakat. Tradisi belanja kebutuhan hari raya, mulai dari makanan, pakaian, hingga perlengkapan rumah tangga, membuat konsumsi rumah tangga melonjak signifikan. Selain itu, pencairan tunjangan hari raya (THR) dan meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode mudik turut memperkuat perputaran uang di berbagai daerah. Kondisi ini menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang mendorong aktivitas ekonomi, terutama di sektor konsumsi yang menjadi tulang punggung pertumbuhan nasional.

Bagi industri ritel, momentum ini memberikan dampak positif yang sangat terasa, baik dari sisi penjualan maupun ekspansi bisnis. 

“Pusat perbelanjaan, ritel modern, hingga pelaku usaha kecil dan menengah menikmati lonjakan transaksi yang signifikan selama periode Ramadhan hingga Lebaran,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (13/4).

Selain meningkatkan omzet, periode ini juga dimanfaatkan pelaku usaha untuk memperkuat strategi pemasaran, memperluas jaringan distribusi, serta memperkenalkan produk baru. Dengan tren tersebut, Lebaran tidak hanya menjadi momen musiman, tetapi juga peluang strategis bagi industri ritel untuk memperkuat kinerja dan memperluas pangsa pasar.

Dorong konsumsi masyarakat

Pengamat Ekonomi Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan kinerja penjualan eceran pada Maret yang membaik umumnya dipengaruhi oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga seiring momentum Ramadhan dan persiapan Idul Fitri.

Permintaan terhadap barang kebutuhan pokok, makanan-minuman, pakaian, hingga perlengkapan rumah tangga cenderung naik karena masyarakat mulai berbelanja lebih awal untuk kebutuhan hari raya. 

Warga memilih pakaian dan sepatu di salah satu pusat perbelanjaan di Semarang, Jawa Tengah, Minggu (12/4/2026). Kementerian Perdagangan mencatat realisasi Program Belanja Nasional pada triwulan I 2026 yang melibatkan pusat perbelanjaan, gerai ritel, dan pasar rakyat mencapai Rp184,02 triliun, melampaui target Rp172,38 triliun, sehingga menunjukkan sinergi efektif antara pemerintah dan pelaku usaha dalam mendorong konsumsi masyarakat. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nz

Selain itu, pencairan tunjangan hari raya (THR) serta stabilitas harga sejumlah komoditas turut memperkuat daya beli. Faktor musiman ini biasanya menjadi pendorong utama pertumbuhan penjualan ritel pada periode tersebut.

Di sisi lain, perbaikan kinerja juga ditopang oleh strategi pelaku usaha yang semakin adaptif terhadap perilaku konsumen. Berbagai program promosi, diskon, dan kampanye belanja digencarkan baik secara offline maupun online untuk menarik minat pembeli,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (13/4/2026).

Digitalisasi ritel melalui platform e-commerce dan layanan omnichannel juga mempermudah akses konsumen, sehingga transaksi meningkat. Ditambah dengan kondisi mobilitas masyarakat yang tetap terjaga dan kepercayaan konsumen yang relatif stabil, faktor-faktor ini secara bersama-sama mendorong penjualan eceran pada Maret mengalami perbaikan.

 

 

Baca selengkapnya