Kegembiraan menyambut ajang Piala Dunia 2026 yang terasa sangat meriah di berbagai negara tanpa terkecuali Indonesia, memberikan multiplier effect dan memicu lonjakan aktivitas ekonomi yang signifikan. Berkah dari perhelatan tersebut pun dirasakan juga oleh para penjual jersey sepak bola di Tanah Air.
Sejumlah toko jersey di berbagai daerah mulai diserbu pembeli bahkan sebelum Piala Dunia 2026 dimulai. Masyarakat khususnya para penggemar sepak bola berburu jersey tim sepak bola nasional favoritnya maupun klub pemain yang dijagokan dalam ajang tersebut.
Antusiasme masyarakat yang tinggi ini kemudian menyebabkan sejumlah toko jersey lokal mengalami peningkatan penjualan bahkan hingga dua kali lipat dibandingkan dengan periode normal.

Karena pamor Ronaldo dan Kubo
Pemilik Jakarta Football Shop Septo Riza mengaku, peningkatan minat masyarakat dalam membeli jersey tim favorit yang didukung selama ajang ini sudah terasa sejak beberapa pekan sebelum dimulainya Piala Dunia.
“Dua minggu sebelum Piala Dunia itu (penjualan) sudah naik dua kali lipat,” kata Septo, Senin (15/06/2026).
Meningkatnya popularitas Timnas Portugal dan sosok pemainnya yaitu Cristiano Ronaldo turut mendorong peningkatan penjualan. Penjualan jersey hingga atribut yang berkaitan dengan sang pemain pun terdongkrak. Jersey di Tanah Air ini lebih dari sekadar simbol dukungan, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup dan identitas para penggemar sepak bola.
“Para pembeli ini masing-masing punya tim favorit, kalau sekarang yang naik itu Portugal sama Jepang, Belanda enggak begitu. Yang meningkat penjualannya itu Ronaldo yang habis, sama Jepang itu Kubo, paling favorit itu,” ungkapnya.
Berlokasi di Senayan Trade Center (STC), Jakarta Pusat, Jakarta Football Shop mayoritas diserbu para pembeli yang berada pada rentang usia 28 hingga 43 tahun. Mereka umumnya merupakan kolektor dan penggemar sepak bola yang telah lama mengikuti perkembangan klub ataupun pemain favorit mereka.
Belum selaris Piala Dunia 2022
Meski peningkatan penjualan dirasakan akibat momentum Piala Dunia 2026 ini, ternyata terjadi penurunan apabila dibandingkan dengan Piala Dunia 2022 yang telah berlangsung sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh sejumlah hal mulai dari kondisi ekonomi yang kian tertekan hingga tingginya harga bahan baku.
“Lebih kencengan (penjualan) tahun 2022, karena harga jersey juga waktu itu lebih murah dan barangnya juga mudah kita dapat, kalau sekarang kan susah kita dapatnya. Pastinya (harga) naik, karena jersey juga setiap tahunnya kan naik terus. (Daya beli) lagi turun banget, makanya saya bilang lebih ramai 2022,” ujar Septo.

Sementara itu, salah satu pemilik Steal My Jersey Nicholas, mengaku belum merasakan dampak yang signifikan dari ajang Piala Dunia 2026 terhadap bisnisnya. Meski begitu, peningkatan minat masyarakat dalam membeli jersey klub ataupun tim negara favoritnya juga sudah terjadi.
“Kalau ditanya peningkatan, sebenarnya kalau di kami enggak terlalu signifikan banget. Tapi semenjak mendekati Piala Dunia sampai sekarang, tim nasional (Indonesia) masih lumayan banyak dicari,” ucap Nicholas, Senin (15/06/2026).
Bapak-bapak cari jersey Timnas Inggris
Berbeda dengan Jakarta Football Shop, para pembeli di Steal My Jersey justru banyak yang mencari jersey Timnas Inggris. Harga jersey yang dijual pun beragam mulai dari Rp400 ribu hingga lebih dari Rp1 juta, tergantung dengan edisi, kelangkaan, ataupun peruntukkan jersey-nya.
“Di kami dari kemarin itu yang paling banyak dicari Timnas Inggris, mungkin karena bapak-bapak juga yang nyarinya. Sebenarnya pembelinya campur, enggak cuma kolektor aja,” katanya.
Jersey pemain-pemain besar dunia seperti Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi masih menjadi produk yang paling banyak dicari masyarakat. Popularitas keduanya yang telah terbangun selama bertahun-tahun ini membuat permintaan jersey dengan nama dan nomor punggung mereka tetap tinggi.
Antusiasme penggemar terhadap jersey ini menurut Nicholas sangat dipengaruhi oleh performa tim dan pemain ataupun momen-momen besar yang terjadi di lapangan. Karena itu, ia masih menantikan aksi dari para pemain legenda tersebut yang pada akhirnya biasanya minat masyarakat juga ikut meningkat.
“Ya paling banyak dicari ya sebenarnya Messi, Ronaldo, pemain-pemain besar lah. Tapi karena belum ada momentum dari mereka, kita masih menunggu aja dari laga para pemainnya,” jelas Nicholas.
Perhelatan Piala Dunia tahun ini menurutnya belum sekuat dengan edisi sebelumnya. Sampai saat ini, Nicholas menilai belum ada pertandingan ataupun momen besar yang mampu menarik perhatian publik secara luas. Maka dari itu, Nicholas sebagai pelaku usaha masih menanti momen tersebut sehingga bisa dimanfaatkan dengan baik sebagai penjualan.
“Diharapkan sih bisa, dari cerita teman-teman yang lain juga momentum Piala Dunia biasanya naik dari segi minat kemudian pembeliannya juga. Masih kita lihat sampai akhir Piala Dunia,” sambung Nicholas.

Dimintai tanggapannya, mantan Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Tangerang Selatan periode 2021-2025 Hamka Handaru menilai euforia Piala Dunia 2026 ini masih tetap tinggi di Indonesia, terutama karena ajang yang satu ini berlangsung di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap prestasi sepak bola nasional. Sebagaimana diketahui, Timnas Indonesia sendiri hampir berhasil mendapatkan tiket untuk berlaga di ajang tersebut.
Jika dibandingkan dengan edisi sebelumnya, Piala Dunia tahun ini menarik perhatian publik karena Timnas Indonesia yang sempat memiliki peluang untuk lolos. Kondisi ini membuat masyarakat di Tanah Air kemudian semakin mengikuti perjalanan tim-tim para peserta Piala Dunia 2026.
“Melihat dari euforianya, karena juga berbarengan dengan berkembangnya prestasi olahraga nasional di lokal, tentunya ini dapat hype-nya, jadi semakin ramai. Artinya orang juga concern terhadap Piala Dunia ini, juga kalau untuk pemerhati atau pelaku olahraga khususnya sepak bola pasti mereka menyambut antusias perhelatan 4 tahunan ini,” kata Hamka, Senin (15/06/2026).
Euforia ini kemudian menciptakan multiplier effect untuk para pelaku usaha mulai dari penjualan merchandise, jersey, hingga produk pendukung olahraga sepak bola lainnya. Sektor kuliner seperti kafe ataupun restoran yang menyelenggarakan nonton bareng (nobar) juga berpotensi mengalami peningkatan kunjungan.
“Pasti bisa mendorong konsumsi masyarakat, jadi apalagi dengan tipikal orang Indonesia ada yang takut ketinggalan, Piala Dunia ini memberikan dampak. Saya sendiri merasakan di pasar e-commerce itu sangat tinggi traffic-nya pembelian jersey, teman-teman pengusaha jersey juga merasakan dampaknya terutama di daerah-daerah,” kata Hamka.
Jadi pendorong ekonomi nasional
Maka dari itu, Hamka menilai momentum ini perlu dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku industri untuk mendorong pertumbuhan bisnisnya dan aktivitas perekonomian masyarakat. Momentum yang datang setiap empat tahun sekali ini merupakan kesempatan yang berharga untuk meningkatkan penjualan di tengah tekanan ekonomi yang kian dirasakan.
“Memang masyarakat Indonesia ini sangat beragam, dari yang cuma tahunya sedikit aja, kemudian juga ada orang yang mereka fanatismenya terbentuk dari kecil sampai dia tahu nama-nama pemainnya dari tahun 1970 misalkan. Masyarakat kita sangat beragam, dan itu harus dikelola kalau mau dijadikan market opportunity sangat bagus, pelaku industri bisa menangkap momentum ini,” tegasnya.
Antusiasme masyarakat dalam menyambut Piala Dunia 2026 ini terlihat meriah di sejumlah daerah, warga bahkan ada yang menggelar pawai dan berbagai kegiatan lainnya. Di dalam momen tersebut, mereka mengenakan jersey klub maupun pemain favorit mereka sebagai bentuk dukungan dan ekspresi cintanya terhadap olahraga ini.
“Bisa dibayangkan kalau di Indonesia bagian timur, kalau perhelatan sepak bola ini mau itu barang original atau palsu apa pun itu kan memberikan dampak kepada mikro dan makro ekonomi, ribuan orang pawai pakai baju Belanda, Prancis, Jerman, itu di daerah mereka motoran pawai antusiasmenya sangat terlihat, apalagi kalau Belanda masuk Piala Dunia,” ungkapnya.
Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR RI) Lamhot Sinaga juga mengatakan Piala Dunia ini bukan hanya sekadar tentang olahraga saja, lebih dari itu Piala Dunia dapat menjadi pendorong dan penggerak aktivitas perekonomian di berbagai negara termasuk Indonesia.
“Setiap momentum yang mampu meningkatkan konsumsi masyarakat harus dimanfaatkan untuk memperkuat sektor UMKM. Piala Dunia dapat menjadi salah satu instrumen yang mendorong aktivitas ekonomi masyarakat di berbagai daerah,” kata Lamhot.