Pasar Belum Pulih Sepenuhnya, Investor Perlu Ubah Strategi

Pasar Belum Pulih Sepenuhnya, Investor Perlu Ubah Strategi

Penguatan IHSG selama dua hari belum mencerminkan pemulihan, sehingga investor dihimbau lebih defensif dan mendiversifikasi portofolio.

Pasar Belum Pulih Sepenuhnya, Investor Perlu Ubah Strategi
Dalam Artikel Ini

Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama dua hari perdagangan pada 5–6 November 2026 jelang akhir pekan belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan pasar modal Indonesia. 

Di tengah indeks yang kembali menembus level 5.000, likuiditas transaksi masih relatif terbatas dan ketidakpastian pasar global kembali meningkat. Kondisi ini membuat investor perlu lebih defensif dan tidak terburu-buru menambah modal ke rekening dana nasabah (RDN).

Pada perdagangan Kamis (5/11/2026), IHSG menguat 2,25% atau 110,494 poin ke level 5.030,261. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak pada rentang 4.995,455–5.072,053.

Namun, penguatan tersebut tidak diikuti peningkatan nilai transaksi yang signifikan. Berdasarkan data perdagangan, nilai transaksi pada Kamis tercatat sekitar Rp9,9 triliun, dengan volume 229 juta lot dan frekuensi 1,3 juta kali transaksi.

Nilai transaksi tersebut masih berada di bawah kisaran rata-rata transaksi harian new normal yang selama ini berada di rentang Rp10 triliun-Rp13 triliun. Selain itu, aktivitas perdagangan terkonsentrasi pada satu jam pertama sesi I, sebelum kembali melandai pada jam-jam berikutnya.

Dari sisi aliran dana, investor asing masih membukukan jual bersih sebesar Rp66,53 miliar di seluruh pasar. Sementara itu, pada pasar reguler, asing mencatatkan jual bersih Rp25,48 miliar.

Baca juga:

Mampukah Reformasi Pasar Modal Redam Gejolak IHSG?
Upaya reformasi pasar modal menjadi asa banyak pihak dan solusi jangka panjang untuk menenangkan pasar.

Meski demikian, terdapat sejumlah saham yang masih menjadi sasaran akumulasi asing. Berdasarkan data perdagangan, BBCA mencatatkan pembelian bersih asing terbesar sebesar Rp303,9 miliar, disusul TLKM Rp86,9 miliar, ASII Rp84 miliar, AMMN Rp62 miliar, dan MDKA Rp30,2 miliar.

Sebaliknya, tekanan jual asing terbesar terjadi pada BBRI sebesar Rp176,3 miliar, BMRI Rp171,8 miliar, ARCI Rp51,8 miliar, TPIA Rp45,7 miliar, dan ADRO Rp36 miliar.

Aktivitas smart money juga memperlihatkan perbedaan arah akumulasi dan distribusi saham. BRIS menjadi saham dengan akumulasi bersih terbesar sebesar Rp32 miliar, diikuti TPIA Rp22,6 miliar, MDKA Rp22,1 miliar, AMMN Rp17,8 miliar, dan BBNI Rp17 miliar.

Sementara itu, distribusi bersih terbesar tercatat pada BUVA sebesar Rp52,3 miliar, BBRI Rp45,1 miliar, TLKM Rp42,4 miliar, BMRI Rp35,1 miliar, dan BUMI Rp23 miliar.

Aktivitas Pasar Menguat Selama Dua Hari

Penguatan indeks berlanjut pada perdagangan Jumat (6/11/2026). IHSG kembali naik 0,40% atau 20,168 poin ke level 5.050,429. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.050,429 dan terendah 4.925,101.

Nilai transaksi juga meningkat menjadi Rp10,3 triliun, dengan volume perdagangan 473,9 juta lot dan frekuensi 1,1 juta kali transaksi. Meski sudah kembali masuk ke kisaran bawah rata-rata transaksi harian new normal, peningkatan tersebut belum menunjukkan lonjakan likuiditas yang kuat.

Pada hari yang sama, investor asing berbalik mencatatkan beli bersih sebesar Rp329,34 miliar di seluruh pasar. Di pasar reguler, nilai beli bersih asing mencapai Rp109,30 miliar.

NATO menjadi saham dengan pembelian bersih asing terbesar sebesar Rp234,3 miliar, diikuti BBCA Rp219 miliar, BMRI Rp92,1 miliar, ASII Rp83,3 miliar, dan BBNI Rp32,7 miliar.

Baca juga:

Resmi Tak Dihitung dalam IHSG, Keluarnya 82 Saham HSC Jadi Berkah bagi Deretan Blue Chip?
Dengan keluarnya HSC dari IHSG tidak akan menurunkan market cap secara keseluruhan. Karena saham-saham HSC tersebut hanya dikeluarkan dari perhitungan IHSG.

Sementara itu, GOTO mencatatkan penjualan bersih asing terbesar sebesar Rp127,5 miliar. Berikutnya, ANTM sebesar Rp47,2 miliar, TLKM Rp43,9 miliar, BREN Rp35,3 miliar, dan TINS Rp29,4 miliar.

Dari sisi aktivitas smart money, NATO mencatatkan akumulasi bersih terbesar sebesar Rp227,6 miliar, disusul BBRI Rp100,9 miliar, ADRO Rp27,2 miliar, GOTO Rp25,2 miliar, dan TLKM Rp24,2 miliar.

Sebaliknya, distribusi bersih terbesar terjadi pada BBCA sebesar Rp52 miliar, BBNI Rp23,3 miliar, BUMI Rp15,6 miliar, AMMN Rp15,1 miliar, dan BRMS Rp12,8 miliar.

Likuiditas Belum Meyakinkan

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah Budiman menilai penguatan IHSG belum cukup menjadi alasan bagi investor untuk kembali melakukan transaksi secara agresif. Pasalnya, kenaikan indeks belum diikuti peningkatan likuiditas yang sepadan.

Menurutnya, investor perlu mencermati kualitas penguatan pasar, bukan hanya melihat perubahan level indeks. Apalagi, aktivitas transaksi pada Kamis terkonsentrasi pada awal perdagangan dan kemudian cenderung melandai.

"Jadi ada baiknya tetap menunggu dan tidak terlalu agresif. Dan saya kembali mengingatkan bahwa rebound yang terjadi buat investor yang belum punya cash itu adalah waktu yang tepat untuk menambah posisi cash-nya," ujar Fath kepada SUAR, Minggu (8/11/2026).

Kehati-hatian tersebut juga berkaitan dengan perkembangan pasar global. Fath mencermati penurunan signifikan bursa Amerika Serikat yang kemudian menular ke sejumlah pasar Asia, terutama Korea Selatan dan Jepang.

Dia mengatakan kondisi pasar global masih sangat volatil. Investor perlu mengamati apakah tekanan di bursa AS akan meluas ke kawasan lain atau justru memicu rotasi aliran dana ke wilayah tertentu.

Selain itu, ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) juga mengalami perubahan. Fath menyebut probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember yang sebelumnya berada di kisaran 80% telah turun menjadi sekitar 60%.

Perubahan ekspektasi tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan aset global, termasuk pasar saham dan komoditas. Namun, investor masih perlu mencermati perkembangan data ekonomi AS dan pernyataan The Fed untuk memperoleh gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.

Dari dalam negeri, Fath turut mencermati stabilitas nilai tukar rupiah dan imbal hasil obligasi. Menurutnya, pergerakan kedua indikator tersebut relatif memberikan dukungan bagi pasar keuangan domestik. Kendati demikian, tekanan dari luar negeri masih dapat memberikan sentimen negatif terhadap IHSG dalam jangka pendek.

Rebound IHSG Masih Rentan

Senada, secara terpisah Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta. Secara teknikal, dia menilai IHSG sedang membentuk pola dead cat bounce setelah sebelumnya menunjukkan pola upward bar.

Dengan kondisi tersebut, indeks masih berada dalam fase antara pemulihan (rebound) dan potensi penurunan lanjutan (breakdown). Indikator Stochastics K_D dan Relative Strength Index (RSI) memang menunjukkan sinyal positif, tetapi Nafan mewanti-wanti jika volume perdagangan yang terus menurun menjadi perhatian.

Nafan juga menyoroti potensi peningkatan sikap risk-off investor global akibat volatilitas Wall Street. Apabila tekanan di pasar saham AS meluas, perubahan aliran modal asing berpotensi memengaruhi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,47% secara tahunan pada kuartal III-2026 menjadi salah satu penopang sentimen domestik. Penguatan rupiah sebesar 0,47% ke level Rp18.082 per dolar AS juga mengurangi tekanan terhadap stabilitas pasar keuangan.

Baca juga:

Ekonomi Bertumbuh Tapi Tidak Terasa
Dari aspek lapangan usaha ditopang industri pengolahan, sementara dari aspek belanja ditopang oleh belanja pemerintah. Namun, pertumbuhan ini seakan tidak terasa secara nyata di lapangan.

Namun, investor masih perlu mencermati evaluasi MSCI terhadap pasar modal Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pada 11 November 2026. Isu transparansi kepemilikan saham, peningkatan free float, dan kualitas likuiditas masih menjadi perhatian investor asing. Dalam kondisi tersebut, Nafan menyarankan investor untuk lebih selektif dalam menentukan saham pilihan. 

“Fokus dapat diarahkan pada saham dengan fundamental solid, valuasi yang dinilai masih rendah (undervalued), serta saham yang menunjukkan indikasi pembalikan arah (reversal),” ucap Nafan.

Dia juga menekankan pentingnya penerapan manajemen risiko secara disiplin di tengah volatilitas pasar. Sementara itu, Fath mengingatkan investor agar tidak terburu-buru menambah dana baru ke RDN. Investor perlu terlebih dahulu mengevaluasi komposisi portofolio, terutama keseimbangan antara kepemilikan saham dan kas.

"Investor harus mengatur ulang dulu uang yang ada sekarang itu seperti apa. Agar portofolio nya bisa balance juga ya, bisa diversifikasi juga," kata Fath.

Dia menjelaskan, investor yang memiliki saham dengan tren penurunan sebaiknya bersabar dan tidak langsung menambah posisi. Sebaliknya, ketika saham yang dimiliki mengalami rebound signifikan, momentum tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan porsi kas.

Dengan strategi tersebut, investor dapat menjaga fleksibilitas portofolio ketika pasar kembali mengalami tekanan. Fath menegaskan, keputusan menambah dana investasi baru bukan menjadi langkah yang perlu diprioritaskan dalam kondisi pasar yang masih bergejolak.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)