Ikhtiar Meredam Arus Modal Keluar
Upaya menciptakan stabilitas dan pertumbuhan di lantai bursa. Serta menjaga otot mata uang garuda.
Upaya menciptakan stabilitas dan pertumbuhan di lantai bursa. Serta menjaga otot mata uang garuda.
Stabilitas sistem keuangan Tanah Air sepanjang tahun ini dihantam gejolak arus modal keluar yang dalam. Dampaknya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kempis nyaris setengahnya dibanding awal tahun. Nilai tukar rupiah juga tertekan. Kuartet lembaga negara urusan keuangan dan moneter terus berupaya dan berikhtiar menjaga stabilitas sistem keuangan.
Mengutip data Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas, Bank Indonesia (BI), sampai dengan 28 September atau sekitar akhir triwulan III-2026, tercatat ada arus modal keluar (capital outflow) di pasar saham sebesar Rp62,10 triliun.
Keluarnya modal inilah yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi hingga nyaris setengahnya atau 42,50% dari posisi 8.748 pada perdagangan awal tahun ini yakni (2/1/2026) menjadi 5.030 pada penutupan perdagangan Rabu (5/11/2026).
Menteri Keuangan dan Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) ex-officio Suahasil Nazara menjelaskan, hasil asesmen KSSK menunjukkan, stabilitas fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama triwulan III 2026 tetap terjaga, didukung oleh koordinasi dan sinergi kebijakan yang erat antarotoritas. Perekonomian domestik masih menunjukkan ketahanan, tecermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap solid dan intermediasi keuangan yang terjaga.
Namun, tekanan kembali meningkat memasuki Oktober 2026 seiring eskalasi konflik geopolitik yang mendorong naiknya harga energi global dan kebijakan moneter global yang cenderung ketat serta kondisi domestik yang ditandai mengetatnya likuiditas, pengumuman MSCI terkait kondisi pasar saham dan meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar sejalan meningkatnya arus modal keluar dari pasar saham.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengatakan, pasar modal dalam negeri mengalami pemulihan secara bertahap pada triwulan III 2026 di tengah ketidakpastian global. IHSG ditutup pada level 6.071,14 pada akhir triwulan III 2026, menguat 7,58% qtq seiring kembali masuknya dana asing ke pasar saham domestik, terutama di Juli dan Agustus.
Namun demikian, pada Oktober 2026, IHSG terkoreksi pascapengumuman konsultasi MSCI, dan per 30 Oktober 2026 IHSG ditutup pada level 5.057,05 atau terkoreksi 16,7% mtd.
Sementara itu, kinerja industri pengelolaan investasi relatif stabil, dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp640,05 triliun per 27 Oktober 2026 atau tumbuh positif 0,46% mtd, ditopang oleh net subscription sebesar Rp14,11 triliun mtd.
Di tengah dinamika pasar, lanjutnya, sejumlah indikator pasar modal domestik menunjukkan perkembangan yang kuat. Minat penghimpunan dana oleh korporasi domestik di pasar modal tetap tinggi. Hingga 28 Oktober 2026 (ytd), nilai penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp202,04 triliun, yang didominasi oleh penerbitan Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk (EBUS) senilai Rp150,43 triliun.
Basis investor juga terus bertumbuh, terlihat dari jumlah Single Investor Identification (SID) yang terus meningkat dan telah mencapai 33,36 juta per 26 Oktober 2026, atau tumbuh 63,94% ytd.
Adapun kinerja fundamental Emiten terpantau tetap terjaga, dengan sebanyak 73,54% dari Emiten saham di Bursa Efek Indonesia membukukan laba berdasarkan Laporan Keuangan Tengah Tahunan (LKTT) 2026.
Dari sisi moneter, nilai tukar rupiah juga alami depresiasi sebesar 8,18% dari awal tahun hingga kini (year to date/Ytd). Mengutip kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), nilai tukar rupiah pada 2 Januari 2026 berada pada level Rp16.725, sementara pada perdagangan Kamis, 5 November 2026 rupiah ditutup pada level Rp18.094.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan, ketahanan eksternal Indonesia perlu terus diperkuat guna memitigasi dampak rambatan tingginya ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan global.
Neraca perdagangan pada Januari-September 2026 mencatat surplus sebesar USD10,61 miliar, dengan perkembangan pada September 2026 mencatat surplus USD3,36 miliar. Aliran investasi portofolio asing pada triwulan III 2026 mencatat net outflows sebesar USD0,08 miliar, terutama disebabkan outflows pada saham.
Pada awal triwulan IV 2026 (hingga 23 Oktober 2026), arus modal asing membaik dengan mencatat net inflows sebesar USD0,04 miliar, terutama didukung investasi pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Dengan perkembangan tersebut, aliran investasi portofolio asing tercatat net inflows sebesar USD13,23 miliar sejak Januari hingga 23 Oktober 2026. Nilai tukar Rupiah sempat menguat hingga pertengahan September 2026, namun pada 2 November 2026 melemah -0,11% menjadi Rp18.145 per dolar AS dibandingkan dengan level pada akhir Oktober 2026.
Pelemahan ini dipengaruhi oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter AS, serta sentimen investor global terhadap aset negara berkembang.
Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tetap kuat sebesar USD146,3 miliar, setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Destry menambahkan, pihaknya mempertahankan suku bunga kebijakan pada level 5,75% dan suku bunga Lending Facility pada level 6,50% pada bulan Agustus, September, dan Oktober 2026, serta menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00% pada Oktober 2026.
Kebijakan ini diperkuat dengan kebijakan insentif untuk menarik aliran masuk modal asing, menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA).
Selain itu, BI juga mengoptimalkan strategi intervensi valuta asing guna memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Meski tekanan volatilitas pasar mulai memengaruhi kinerja sektor keuangan, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Anggito Abimanyu memastikan tabungan masyarakat masih tumbuh, ditandai dengan simpanan di bawah Rp100.000.000 mencatatkan pertumbuhan 2-12% secara tahunan, dan cakupan penjaminan tetap di atas ambang batas 90% untuk rekening bank umum, BPR, maupun BPR Syariah.
"Secara agregat, pada posisi September 26, total simpanan tumbuh 8,65% (yoy), mencapai Rp10.513 triliun. Secara segmen, simpanan di bawah Rp100 juta tumbuh 7,15% (yoy), simpanan Rp100-Rp200 juta tumbuh 5,8% (yoy), simpanan Rp200-Rp500 juta tumbuh 4,21%, dan simpanan di atas Rp5 miliar tumbuh 11,91%," ujar Anggito.
Di sisi lain, LPS juga mempertahankan suku bunga tingkat bunga penjaminan menyusul kenaikan suku bunga simpanan yang relatif terbatas pada bulan Juli-Oktober 2026, serta kinerja intermediasi perbankan positif dengan DPK tumbuh 8,22% dan kredit perbankan tumbuh 13,26%.
"Meski demikian, simpanan dengan suku bunga di atas TBP cenderung meningkat pada September 2026 menjadi 36,06% meningkat dari 34% pada bulan Agustus lalu. Ini dikontribusikan korporasi swasta dan BUMN yang mendapatkan special rate, dan kami akan terus mencermati dalam konteks penghimpunan dana serta manajemen risiko individual bank," tutur Guru Besar FEB Universitas Gadjah Mada itu.
Dihubungi secara terpisah, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai koordinasi KSSK selama ini cukup efektif dalam menjaga ketahanan lembaga keuangan, tetapi belum tentu cukup untuk menghadapi tekanan yang terjadi secara bersamaan di pasar saham, obligasi, dan valuta asing.
Menurutnya, secara fundamental, sistem keuangan Indonesia memang masih relatif kuat. Rasio kecukupan modal perbankan 24,1%, kredit bermasalah bruto sekitar 2,11%, dan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga mencapai 24,08% pada September 2026. Namun, pertumbuhan kredit sebesar 13,26% jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga yang hanya 8,22%.
Di sisi lain, tekanan pasar yang meningkat tajam sepanjang Oktober, ditandai pelemahan rupiah ke atas Rp18.100 per dolar AS, kenaikan imbal hasil SBN 10 tahun hingga sekitar 7,7%, dan koreksi IHSG sekitar 16,7% dalam satu bulan terjadi setelah triwulan III berakhir.
"Risiko yang paling perlu diwaspadai bukan semata-mata tekanan masing-masing pasar, melainkan kemungkinan tekanan tersebut saling memperkuat. Kenaikan imbal hasil SBN menyebabkan penurunan harga obligasi, yang dapat menekan nilai portofolio perbankan, asuransi, dana pensiun, dan reksa dana, terutama aset yang dinilai berdasarkan harga pasar," kata Josua kepada SUAR, Selasa (3/11/2026).
Josua mengilustrasikan kenaikan imbal hasil sebesar 50 basis poin dapat menurunkan harga obligasi dengan durasi sekitar enam tahun sebesar kurang lebih 3%. Pada saat bersamaan, arus keluar modal asing dapat memperlemah rupiah, meningkatkan kebutuhan lindung nilai valuta asing, dan menambah tekanan likuiditas.
Apabila kondisi ini berlangsung berkepanjangan, biaya pendanaan bank dan korporasi berpotensi meningkat, sementara kemampuan pemerintah menerbitkan SBN dengan biaya yang wajar semakin terbatas. Dengan demikian, sistem keuangan bisa terlihat sehat dari sisi permodalan, tetapi mulai menghadapi tekanan dari sisi likuiditas, valuasi aset, dan biaya pembiayaan. Inilah risiko penularan antarpasar yang perlu menjadi fokus utama KSSK.
"Dalam konteks tersebut, saya menilai aspek yang perlu diperkuat adalah pengawasan risiko sistemik dan kemampuan mengambil tindakan lebih dini, bukan sekadar meningkatkan frekuensi koordinasi. KSSK sudah memiliki mekanisme penilaian risiko ke depan, tetapi efektivitasnya perlu semakin diuji melalui pemantauan bersama yang lebih terperinci dan cepat," tuturnya.