Adopsi AI Melonjak, Jadi Andalan Baru Pengelolaan Keuangan Perusahaan

Adopsi AI Melonjak, Jadi Andalan Baru Pengelolaan Keuangan Perusahaan

Peningkatan adopsi AI ini tidak terlepas dari kebutuhan perusahaan untuk menjaga daya saing di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat

Adopsi AI Melonjak, Jadi Andalan Baru Pengelolaan Keuangan Perusahaan
Dalam Artikel Ini

Adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di kalangan perusahaan Indonesia, pada tahun 2026 ini menunjukkan peningkatan pesat dibandingkan tahun sebelumnya, terutama untuk mendukung pengelolaan keuangan dan operasional bisnis. 

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh HSBC bertajuk Redefining Treasury in Asia Pacific: Voices of Treasury 2026, sebanyak 93% responden di Indonesia telah menggunakan AI, 84% pun mengaku teknologi ini sangat berguna bagi fungsi treasury perusahaan dalam tiga tahun ke depan.

Sebagai informasi, Voices of Treasury ini merupakan laporan yang merangkum temuan dari forum Redefining Treasury yang diadakan pada bulan Maret dan Juni 2026, dengan mencakup 11 pasar di Asia Pasifik serta melibatkan 680 praktisi keuangan dan treasury dari berbagai perusahaan. KHusus untuk Indonesia, forum tersebut dihadiri oleh 37 peserta yang mewakili 30 perusahaan dari berbagai sektor seperti logistik, perjalanan, otomotif, hingga ritel. 

Head of Global Payment Solution HSBC Indonesia Anne Suhandojo dalam Media Briefing Survei HSBC di Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id).

Head of Global Payment Solution HSBC Indonesia Anne Suhandojo mengungkapkan, jika dibandingkan dengan tahun 2025, jumlah adopsi AI oleh perusahaan pun mengalami peningkatan. Perusahaan pada tahun lalu cenderung bersikap wait and see terkait perkembangan AI, dengan baru 68% responden mengaku AI berguna.

“Ini menarik karena pada tahun lalu, hanya sedikit perusahaan yang menyatakan bahwa menggunakan AI ini akan sangat berguna. Sedangkan di tahun 2026, 84% responden menyatakan penggunaan AI sangat berguna,” jelas Anne dalam Media Briefing Survei HSBC di Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026).

Sebanyak 55% responden menggunakan AI tidak hanya untuk sekadar menciptakan produktivitas, melainkan untuk menciptakan efisiensi dalam operasional treasury, lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata kawasan Asia Pasifik yang sebesar 50%. Selain itu, 34% mengaku telah mengimplementasikan agen AI untuk meningkatkan otomasi, sementara Asia Pasifik baru 17%. Dari total responden Indonesia, hanya 7% yang belum mengadopsi AI sama sekali, Asia Pasifik pun tercatat di angka 19%.

Peningkatan adopsi AI ini tidak terlepas dari kebutuhan perusahaan untuk menjaga daya saing di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat. 

“Jadi ini cara perusahaan menggunakan teknologi untuk lebih efisien. Kenapa adopsinya tinggi? Karena mereka lihat perusahaan di luar pakai, kalau kita tidak pakai secara daya saing bisnis pun akan tertinggal,” ungkapnya.

a computer circuit board with a brain on it
Photo by Steve A Johnson / Unsplash

Indonesia terdepan gunakan AI

Temuan ini pun menunjukkan bahwa Indonesia lebih menonjol dalam ambisi mengadopsi AI dibandingkan dengan wilayah Asia pasifik secara keseluruhan.

“Di negara-negara lain di Asia Pasifik, hanya 72% saja yang menyatakan AI berguna, di Indonesia sebetulnya lebih maju. Jadi perusahaan di Indonesia malah mengandalkan AI lebih maju dari negara lain di Asia Pasifik,” jelasnya.

Perusahaan dapat meningkatkan produktivitasnya dan juga melakukan riset dengan menggunakan teknologi AI. Selain itu, AI juga membantu perusahaan dalam mengolah data dan melakukan analisa dengan cepat. Setelah itu, AI bisa berguna untuk memberikan rekomendasi terkait apa yang harus dilakukan oleh perusahaan.

“Seperti misalnya ketika terjadi penurunan mata uang, apakah AI bisa memberikan rekomendasi? Misalnya rupiah melemah, jadi sebaiknya jika perusahaan melakukan impor apakah perusahaan sebaiknya membeli mata uang, atau melakukan hedging, atau memberi informasi juga mengenai proyeksi ke depannya,” ungkapnya.

AI juga dimanfaatkan untuk mempercepat proses rekonsiliasi dan pencocokan transaksi dalam operasional perusahaan, khususnya dengan membantu mencocokkan berbagai dokumen dalam proses pemesanan hingga pembayaran seperti invoice dan berbagai dokumen lainnya.

Meski menawarkan berbagai kemudahan dalam pengelolaan keuangan, penerapan AI di perusahaan juga masih menghadapi sejumlah tantangan. Tantangan utamanya adalah mengenai kesiapan dari sistem yang sudah digunakan serta keamanan data dalam mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis.

Kesiapan perusahaan dalam mengadopsi AI juga beragam, ada perusahaan yang menjalankan pembukuan keuangan secara manual menggunakan Excel dan dokumen fisik, ada pula perusahaan yang sudah menggunakan enterprise resource planning (ERP).

“Dari dua tipe perusahaan ini, tentunya adopsi AI, mengintegrasikan dengan sistem eksisting akan sangat berbeda. Kalau masih manual menggunakan Excel tentunya dari kualitas data saja sudah berbeda, kalau data terpecah dan tidak akurat bagaimana bisa AI membantu,” ujar Anne.

Survei juga menunjukkan pengelolaan treasury di tengah volatilitas pasar menjadi prioritas utama perusahaan dalam 12 bulan ke depan. Dinamika makro ekonomi dapat memengaruhi operasional perusahaan, terutama terkait fluktuasi nilai tukar dan suku bunga.  Untuk mengatasi persoalan tersebut, teknologi atau AI ini pun menjadi sebuah solusi yang dapat membantu perusahaan mengelola risiko serta meningkatkan efisiensi proses keuangan.

Dalam 12 bulan ke depan, ada 5 prioritas treasury perusahaan, di mana poin utamanya adalah mengelola treasury di tengah volatilitas, memanfaatkan teknologi baru untuk mentransformasi alur kerja, meningkatkan pengembalian modal, mengeola dampak dari tarif dan menata ulang rantai pasok, hingga ekspansi ke pasar baru.

“AI Memiliki peran yang sangat penting untuk membantu treasury bisa mencapai prioritas mereka dalam 12 bulan ke depan,” tegasnya.

Direktur Keuangan Shipper Group Leonard Pontoh (kiri) dan Head of Finance Atic Group PT Anabatic Technologies Tbk Minto Hartarti (kanan) dalam Media Briefing Survei HSBC di Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id).

Direktur Keuangan Shipper Group Leonard Pontoh menjelaskan, perusahaan memanfaatkan AI untuk menstandarisasi dokumen penagihan yang memiliki format berbeda-beda dengan kebutuhan setiap klien korporasi. Selain itu, proses pembayaran kepada vendor terutama untuk mengolah berbagai format invoice menjadi laporan terstruktur pun juga menjadi salah satu manfaat dari adopsi AI.

“Jadi untuk proses penagihan dan pembayaran sangat terbantu oleh AI di perusahaan kami,” kata Leonard.

Shipper Group juga telah mengintegrasikan AI dengan sistem ERP perusahaan, termasuk juga menghubungkan aktivitas keuangan seperti arus uang masuk dan keluar. Ke depan, perusahaan akan mengembangkan AI untuk memproyeksikan kondisi keuangan perusahaan dalam jangka menengah.

“Ekspektasi kita, AI bisa memprediksi dengan yang sudah ktia catat di semua laporan keuangan kita, dan AI akan memprediksi secara jangka menengah berapa kebutuhan keuangan kita di masa depan, secara otomatis kita sebagai pemimpin perusahaan akan mengambil keputusan lebih cepat dan akurat, sehingga perusahaan berkembang lebih cepat,” jelasnya.

Mendukung pekerjaan back office

Sementara itu, Head of Finance Atic Group PT Anabatic Technologies Tbk Minto Hartarti mengatakan, pemanfaatan AI di perusahaannya diawali untuk mendukung pekerjaan back office terutama pada divisi keuangan. Perusahaan yang mengelola sekitar 15 entitas aktif bisa menerima 10 ribu invoice  per bulannya. Seluruh tagihan pun sebelumnya direkap secara manual.

“Sekarang, semua invoice yang masuk dalam bentuk soft copy bisa dibantu oleh AI. Jadi dulu list yang kita buat secara manual sekarang jadi otomatis, itu sudah kita coba di perusahaan kami,” tambah Minto.

Terpisah, Peneliti Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Dandy Rafitrandi, menilai dengan adanya perkembangan AI, menimbulkan potensi kesenjangan dalam adopsi teknologi antara perusahaan besar dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang semakin melebar.

“Saya bisa memberikan beberapa contoh temuan dari penelitian kami, salah satunya adalah kesenjangan antara perusahaan besar dan UMKM. Menurut saya, perkembangan AI saat ini berpotensi memperlebar kesenjangan tersebut, ini merupakan persoalan yang perlu mendapat perhatian,” ucap Dandy.

Pemerintah perlu memastikan kelompok usaha dan pekerja yang rentan harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

“Kita tidak ingin UMKM, pekerja perempuan, maupun kelompok pekerja yang berada dalam posisi rentan justru dirugikan oleh perkembangan AI. Menurut temuan kami, UMKM di sektor manufaktur masih tertinggal dalam hal adopsi teknologi,” ungkapnya.

Staf Ahli Menteri Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Raden Wijaya mengatakan, perkembangan AI menghadirkan ancaman bagi keamanan data. Serangan dapat dilakukan dengan membobol sistem, hingga melalui manipulasi, sehingga harus menjadi perhatian dalam mengadopsinya.

“Ancaman digital tidak selalu dari upaya membobol sistem, terkadang ancaman justru dari upaya memanipulasi manusia yang menggunakan sistem tersebut. Perkembangan AI telah memperluas permukaan serangan hingga pada identitas, informasi dan kepercayaan manusia,” kata Raden, Rabu (28/10/2026).

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)