Menakar Potensi Koral Hias Indonesia di Pasar Global

Menakar Potensi Koral Hias Indonesia di Pasar Global

Ekspor koral hias dari Indonesia berpotensi terus meningkat. Perlu budidaya berkelanjutan agar tidak merusak lingkungan

Menakar Potensi Koral Hias Indonesia di Pasar Global
Dalam Artikel Ini

Di balik keindahan laut Indonesia, dengan terumbu karangnya, hewan laut kecil penyusun karang, yang dinamakan koral, ternyata juga punya potensi ekonomi yang besar. Koral hias, memiliki posisi penting dalam perdagangan dunia, sementara pada 2025, Indonesia menempati peringkat kedua eksportir koral dunia, dengan pangsa 12,68%, di bawah Jepang yang sebesar 20,92%.

Nilai ekspor produk koral Indonesia pada periode tersebut, mencapai US$18,12 juta dengan total volume ekspor sebesar 9,55 ton. Pada Januari–Juni 2026, kinerja ekspor koral Indonesia juga masih terus tumbuh dengan tercatat senilai US$8,8 juta, naik 2,42% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$8,5 juta.

Pasar ekspor koral Indonesia sendiri juga telah tersebar di sejumlah negara. Tiongkok menjadi tujuan terbesar pada 2025 dengan nilai ekspor US$4,63 juta atau 25,57% dari total ekspor koral Indonesia ke dunia. Amerika Serikat menyusul dengan nilai US$4,59 juta atau 25,37%. Ekspor koral Indonesia juga mengalir ke Vietnam sebesar US$1,78 juta, Jerman US$863 ribu, serta Inggris US$846 ribu atau 4,67%.

Jualan dengan jaringan pemasaran daring

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan produk berbasis potensi kelautan dan perikanan Indonesia dapat terus dikembangkan untuk mendorong ekspor komoditas bernilai tambah dan berdaya saing.

Ia menyatakan, produk koral hias hasil budi daya memiliki potensi pasar yang baik, termasuk di pasar global. Kementerian Perdagangan dapat memberikan pendampingan khusus untuk produk kelautan seperti koral agar nilai jualnya lebih bagus dan produknya lebih menarik.

"Pendampingan ini adalah bagian dari upaya kami meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional,” ujarnya saat meninjau koral ekspor milik PT Sri Kandi Aquarium di Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026).

Menteri Perdagangan Budi Santoso saat meninjau koral ekspor milk PT Sri Kandi Aquarium di Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (28/8). Foto: Kementerian Perdagangan.

Untuk memperluas penetrasi pasar, Kementerian Perdagangan memiliki 46 perwakilan perdagangan di 33 negara yang terdiri atas Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC). Jaringan tersebut bertugas mempromosikan produk Indonesia sekaligus mencari buyer potensial di negara tujuan ekspor.

Pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dapat memanfaatkan jaringan tersebut untuk melakukan penjajakan kerja sama bisnis atau business matching dengan calon buyer. Dengan begitu, pelaku usaha tidak harus datang langsung ke negara tujuan, karena penjajakan dapat dilakukan secara daring. “UMKM cukup presentasi secara daring ke calon buyer melalui fasilitasi kami,” ujarnya.

Pengembangan koral hasil budi daya, lanjut Budi, dapat berjalan beriringan dengan penguatan komoditas ikan hias Indonesia. Keduanya menyasar pasar yang beririsan, terutama kebutuhan hobi akuarium di berbagai negara. Oleh karena itu, peningkatan daya saing tidak hanya dilakukan melalui pembukaan akses pasar, tetapi juga melalui diversifikasi pasar.

Perizinan yang terintegrasi jadi pendorong

Peluang tersebut mulai terlihat dari pelaku usaha yang telah mengembangkan koral budi daya untuk memenuhi permintaan pasar ekspor. Salah satunya PT Sri Kandi Aquarium, perusahaan pembudidaya sekaligus eksportir koral hias asal Banyuwangi, Jawa Timur.

PT Sri Kandi Aquarium mencatatkan kinerja ekspor senilai US$450 ribu atau sekitar Rp7,8 miliar pada 2025. Perusahaan tersebut secara rutin melakukan ekspor sekitar 6–15 kali dalam sebulan, bergantung pada permintaan dari pasar luar negeri. Amerika Serikat menjadi salah satu pasar utamanya, selain sejumlah negara di kawasan Uni Eropa dan Asia.

PT Sri Kandi Aquarium juga tergabung dalam Kelompok Pembudidaya Karang Hias Nusantara (KPKHN). Budidaya dilakukan secara in situ di perairan Selat Bali yang memiliki arus kuat, kedalaman, dan topografi terumbu yang sesuai untuk pertumbuhan koral hias.

Hingga saat ini, PT Sri Kandi Aquarium telah berhasil mengembangkan 27 jenis koral, di antaranya acropora, euphyllia, alveopora, dan montipora yang telah diekspor ke berbagai negara.

Koral milik PT Sri Kandi Aquarium yang telah diekspor ke berbagai negara, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (28/8). Foto: Kementerian Perdagangan.

Pemilik PT Sri Kandi Aquarium, I Ketut Sukandi mengungkapkan, proses ekspor selama ini telah berjalan dengan baik. Ia berharap, integrasi perizinan antarkementerian dapat terus diperkuat dan diterapkan otomatisasi sehingga administrasi ekspor bisa lebih cepat dan efisien.

“Secara umum, proses ekspor sudah berjalan dengan baik. Kami berharap perizinan antarkementerian dapat semakin terintegrasi secara otomatis. Dengan begitu, kami tidak perlu lagi mengajukan dokumen secara manual sehingga ekspor dapat lebih cepat dan efisien,” ujar Ketut.

Perlu mengarah ke budidaya berkelanjutan

Namun, potensi tersebut perlu dilihat secara lebih hati-hati. Pengamat Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menilai, ekspor koral Indonesia yang masih sekitar US$18 juta menunjukkan bahwa komoditas tersebut belum dapat dikategorikan sebagai komoditas ekspor strategis secara makro.

Menurut Eliza, nilai tersebut hanya setara sekitar 0,006 % dari total ekspor Indonesia yang mencapai US$282,51 miliar pada 2025. Sementara terhadap total ekspor perikanan, kontribusi koral hanya sekitar 0,29%.

"Menyebutnya 'strategis' sah sah saja, jika yang dimaksud adalah keunggulan komparatif di budidaya tropis dan potensi premium, bukan kontribusi makronya," katanya kepada SUAR.

Karena itu, ia menilai posisi nomor dua sebagai eksportir koral terbesar harus dibaca dengan teliti, karena Jepang yang menempati posisi pucuk tidak sebanding dengan Indonesia. Jepang prospeknya ada di budidaya berkelanjutan dan pasar premium akuarium, bukan di pengejaran volume.

Menurut Eliza, peningkatan ekspor koral tanpa membedakan produk hasil budi daya dengan hasil panen liar justru berisiko mengorbankan modal alam yang nilainya jauh lebih besar daripada devisa yang dihasilkan dari perdagangan koral.

Kajian di kawasan Asia-Pasifik, kata Eliza, memperkirakan kontribusi langsung perikanan dan wisata terumbu karang Indonesia mencapai sekitar US$3,3 miliar per tahun. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan nilai ekspor koral Indonesia pada 2025, meskipun terdapat perbedaan metodologi dan tahun pengukuran.

"Eksportir menikmati harga satuan tinggi tapiii biaya kerusakan terumbu ditanggung nelayan, operator wisata, dan perlindungan pantai. Itu kegagalan pasar," katanya.

Perlu ada mitigasi perdagangan ilegal

Karena itu, menurut Eliza, besarnya potensi pasar tidak berarti volume ekspor harus dimaksimalkan. Daya dukung ekosistem dan ketentuan kuota perdagangan internasional perlu menjadi batas dalam pengembangan komoditas tersebut. Tanpa tata kelola stok, ketertelusuran, serta pengawasan yang memadai, peningkatan permintaan justru berisiko mendorong perdagangan ilegal dan tekanan terhadap terumbu karang.

Ia juga menilai pengembangan ekspor koral juga tidak cukup hanya mengandalkan promosi dan business matching. Tantangan utama ekspor legal berada pada kapasitas pembenihan dan nursery, standar mutu dan tingkat kelangsungan hidup koral (survival rate), sertifikasi CITES, ketertelusuran digital, kepastian kuota tahunan, hingga logistik udara untuk pengiriman biota hidup.

Hobi Menyelam Pejabat, Membaca Dunia dengan Tidak Percaya dan Tanah Airku
Selamat berakhir pekan. Berikut informasi seputar tren yang sedang ramai dibahas di publik. Hobi Menyelam Pejabat, Siapa Saja? Beragam cara ditempuh untuk melarikan diri sejenak dari kepenatan rutinitas sehari-hari. Ada yang memilih menghirup udara segar di pegunungan, meresapi keheningan di antara hamparan pepohonan hijau, bermain salju, hingga melacak jejak satwa

Karena itu, pemerintah perlu membangun ekosistem produksi dan tata kelola lingkungan, industri yang mengurus mutu, merek, dan kontrak pasokan. "Karena kalau tanpa itu, promosi dagang menaikkan permintaan lebih cepat daripada pasokan legal," katanya.

Ke depan, sambungnya, juga perlu dilakukan pembenahan sperti menyeragamkan definisi statistik “koral” antara Kementerian Perdagangan, Kemeterian Kelautan dan Perikanan , dan Badan Pusat Statistik (BPS). Pemisahan juga diperlukan antara koral hidup untuk kebutuhan hias, koral mati atau ornamen, dan cangkang.

Dengan klasifikasi yang lebih jelas, pemerintah dapat mengetahui secara lebih tepat jenis koral yang diperdagangkan, sumber produksinya, serta perkembangan ekspornya.

Selain itu, penguatan dari sisi hulu juga menjadi syarat penting jika Indonesia ingin meningkatkan ekspor tanpa meningkatkan tekanan terhadap ekosistem. "Penting juga membangun pusat pembenihan di Bali, Jawa Timur, Sulawesi," katanya.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Kelautan

Rekomendasi SUAR