Tren surplus kinerja perdagangan luar negeri Indonesia akhirnya menghadapi titik balik. Efek lonjakan harga minyak dunia dan nilai Rupiah yang tertekan jadi tantangan.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 secara resmi mencatatkan defisit sebesar 1.610,20 juta dolar AS. Angka negatif ini menjadi sorotan sekaligus alarm bagi kinerja perdagangan luar negeri, mengingat posisi ini berbalik drastis dari bulan-bulan sebelumnya yang selalu mencatatkan surplus perdagangan.
Nilai total impor pada Mei 2026 melambung tinggi hingga mencapai 24.813,70 juta dolar AS, atau melonjak sebesar 22,16% secara year-on-year (yoy) dibanding Mei 2025. Sebaliknya, total nilai ekspor pada periode yang sama justru menurun sebesar 5,73% yoy menjadi 23.203,50 juta dolar AS.
Secara bulanan (month-to-month/mtm) dibandingkan dengan bulan April 2026, ekspor turun dari 25.302,80 juta dolar AS dan impor tetap bertahan tinggi, yang pada akhirnya menggerus surplus yang tercatat tipis sebesar 89,10 juta dolar AS di bulan sebelumnya. Akhirnya, neraca masuk ke zona negatif di bulan Mei.
Faktor utama di balik defisit ini berakar pada sektor minyak dan gas bumi (migas) yang mengalami lonjakan nilai impor sejak bulan lalu. Ekspor migas pada Mei 2026 anjlok hingga tinggal 758,10 juta dolar AS, turun drastis 31,76% secara tahunan. Di sisi lain, nilai impor migas justru melonjak sebesar 70,78% (yoy) menjadi 4.514,70 juta dolar AS akibat lonjakan impor hasil minyak yang membengkak hingga hampir dua kali lipat (99,49%) atau menjadi 3.811,3 juta dolar AS.
Ketimpangan yang terjadi di ekspor dan impor migas menghasilkan defisit migas yang sangat semakin tinggi, yakni mencapai -3.756,60 juta dolar AS. Meskipun sektor nonmigas masih mampu mencatatkan surplus sebesar 2.146,40 juta dolar AS, kekuatan sektor nonmigas tersebut tidak mampu membendung pembengkakan defisit neraca di sektor migas.
Kondisi domestik ini kian diperparah oleh tekanan faktor eksternal global yang tidak menentu. Ketegangan konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama di balik meroketnya indeks harga minyak dunia, yang memaksa Indonesia membayar biaya konversi jauh lebih mahal demi mengamankan pasokan bahan bakar dalam negeri.
Beban ini semakin berat seiring dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang terus tertekan terhadap dolar AS, sehingga biaya pengadaan bahan baku pembantu yang kelompok impornya naik 25,17% menjadi 17.581,1 juta dolar AS menjadi melonjak secara nominal. Jika melihat tren di bulan-bulan sebelumnya, gejala tersebut bukanlah terjadi mendadak. Penurunan surplus sudah mulai terlihat sejak awal tahun di mana surplus Januari 2026 yang sebesar 954,30 juta dolar AS sempat naik di Maret, namun langsung merosot tajam menjadi hanya 89,10 juta dolar AS pada April.
Ke depannya, tantangan terbesar bagi pemerintah dan otoritas terkait yaitu perlu mencari strategi untuk mengembalikan kekuatan surplus neraca perdagangan Indonesia. Ketergantungan pada sektor migas luar negeri yang rentan dengan fluktuasi harga global di tengah konflik menjadi fokus. Langkah strategis seperti optimalisasi cadangan migas domestik melalui percepatan transisi energi, optimalisasi lifting minyak domestik, serta penguatan kebijakan substitusi impor demi mengurangi ketergantungan tinggi pada hasil minyak asing.
Sementara di sektor nonmigas, diversifikasi pasar ekspor baru dan peningkatan nilai tambah pada industri pengolahan serta pertanian harus terus digenjot agar tidak ikut layu di tengah ketidakpastian global. Melalui bauran kebijakan yang strategis antara pengendalian impor energi dan penguatan daya saing ekspor nonmigas, Indonesia diharapkan dapat segera menutup celah defisit ini dan merebut kembali tren surplus di masa mendatang.