Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen sekaligus eksportir mi instan terbesar di dunia. Meski produk unggulannya telah merambah ke berbagai negara, industri ini menyimpan ironi karena bahan bakunya masih bergantung pada impor.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor mi instan Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang positif selama hampir satu dekade terakhir. Pada tahun 2017, nilai ekspor mi instan tercatat sebesar 180,94 juta dolar AS dengan volume 108,03 ribu ton. Angka ini terus melesat hingga mencapai puncaknya pada tahun 2024 dengan nilai 375,96 juta dolar AS serta volume mencapai 194,15 ribu ton.
Meskipun pada tahun 2025 terjadi sedikit penyesuaian nilai menjadi 371,42 juta dolar AS, volume ekspornya justru mencetak rekor tertinggi baru di angka 198,66 ribu ton. Tren ini menunjukkan permintaan global terhadap produk mi instan buatan Indonesia terus mengalami ekspansi yang masif.
Keberhasilan ekspansi global ini tercermin pula dari luasnya jangkauan pasar ekspor mi instan Indonesia pada tahun 2025. Berdasarkan data BPS, secara total mi instan Indonesia telah diekspor ke lebih dari 90 negara.
Data BPS juga turut menunjukkan bahwa Malaysia menjadi negara tujuan utama dengan nilai kontribusi yang sangat dominan, yakni mencapai 90,44 juta dolar AS. Posisi berikutnya ditempati oleh Kamboja dengan nilai 42,87 juta dolar AS dan Australia sebesar 31,34 juta dolar AS.
Tidak hanya mendominasi pasar Asia Tenggara dan Oseania, mi instan Indonesia juga berhasil menembus pasar ketat lainnya, seperti China (19,54 juta dolar AS), Vietnam (19,23 juta dolar AS), Timor Leste (17,55 juta dolar AS), dan Selandia Baru (16,28 juta dolar AS).
Bahkan, produk pangan olahan ini telah diterima dengan baik di kawasan Timur Tengah, seperti Irak (12,69 juta dolar AS), serta merambah pasar jauh seperti Amerika Serikat (10,94 juta dolar AS) dan Afrika Selatan (10,91 juta dolar AS).
Namun, di balik ekspansi ekspor mi instan ke berbagai negara, terdapat realitas yang kontradiktif terkait penyediaan bahan baku utamanya. Karakteristik letak geografis dan iklim tropis Indonesia secara alamiah tidak memungkinkan tanaman gandum sebagai bahan baku utama tepung terigu untuk dapat dibudidayakan secara optimal dalam skala industri.
Akibatnya, demi menjaga roda produksi industri pangan tetap berputar, Indonesia bergantung sepenuhnya pada pasokan gandum mentah dari luar negeri. Ketergantungan ini terlihat dari volume impor gandum yang selalu berada di atas angka 9 juta ton setiap tahunnya, di mana volume tertinggi tercatat pada tahun 2024 yang menembus angka 11,71 juta ton dengan nilai mencapai 3,509 miliar dolar AS.
Ketergantungan bahan baku impor memunculkan sebuah ironi yang mendalam bagi lanskap industri manufaktur nasional. Nilai ekonomi yang harus dibayarkan untuk mendatangkan gandum jauh lebih besar dibandingkan dengan devisa yang dihasilkan dari ekspor mi instan.
Sebagai gambaran, pada tahun 2025 ketika ekspor mi instan menghasilkan 371,42 juta dolar AS, Indonesia harus merogoh kocek hingga 3,049 miliar dolar AS untuk mengimpor gandum. Hal ini berarti nilai impor gandum menguras dana hampir delapan kali lipat lebih besar daripada nilai ekspor produk jadinya.
Ketimpangan ini menempatkan industri mi instan dalam posisi yang rentan terhadap guncangan eksternal, seperti fluktuasi harga komoditas global, perubahan kebijakan perdagangan negara eksportir gandum, maupun depresiasi nilai tukar rupiah.
Melihat kondisi tersebut, industri mi instan Indonesia memiliki potensi pasar yang luar biasa besar, namun sekaligus menyimpan kerentanan struktural yang tinggi. Data paruh pertama tahun 2026 (Januari–Mei) yang mencatatkan impor gandum sebesar 1,417 miliar dolar AS dan ekspor mi instan sebesar 169,84 juta dolar AS mengonfirmasi bahwa pola ketergantungan ini masih terus berjalan.