Berdasarkan data mingguan per 22 Juni 2026, harga minyak mentah jenis WTI melandai ke angka 70,03 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah jenis Brent berada di posisi 73,45 dolar AS per barel. Jika dibandingkan dengan titik puncak tertingginya sepanjang tahun ini yang sempat menyentuh level fantastis 114,44 dolar AS per barel pada 1 Mei 2026, harga minyak Brent telah mengalami penurunan tajam sekitar 35,82%.
Meredanya kekhawatiran pasar terhadap intensitas konflik di Timur Tengah serta dibukanya kembali jalur-jalur perdagangan utama secara bertahap menjadi katalis di balik koreksi harga yang cukup masif ini.
Penurunan tajam minyak dunia menjadi titik balik dari volatilitas ekstrem yang terjadi pasca-pecahnya serangan Amerika Serikat ke Iran awal tahun ini. Konflik geopolitik tersebut melumpuhkan Selat Hormuz, jalur urat nadi perdagangan minyak dunia yang memicu kelangkaan pasok global secara mendadak.
Hambatan logistik dan lonjakan biaya asuransi pengiriman kapal tanker sempat mendorong kenaikan harga minyak hingga lebih dari 40% dalam waktu singkat, menciptakan efek domino yang memaksa banyak negara menaikkan harga BBM di tingkat konsumen. Kini, seiring dengan meredanya ketegangan militer dan normalisasi arus logistik laut, premi risiko perang yang sebelumnya mengerek harga minyak perlahan mulai kembali ke harga semula.
Namun, pemandangan berbeda terlihat pada perkembangan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di domestik. Di awal bulan Juni lalu, PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian harga secara drastis pada periode April hingga Juni 2026 untuk merespons lonjakan harga global sebelumnya.
Per Juni 2026, harga Pertamina Dex bertahan tinggi di angka Rp 27.900 per liter, Dexlite sebesar Rp 26.000 per liter, Pertamax Turbo Rp 19.900 per liter, Pertamax Green Rp 17.000 per liter, dan Pertamax naik menjadi Rp 16.250 per liter. Meskipun harga minyak mentah global sudah merosot ke kisaran 70 dolar AS per barel sejak pertengahan Juni, banderol BBM non-subsidi di SPBU tanah air belum juga menunjukkan tanda-tanda penurunan atau penyesuaian baru.
Belum turunnya harga BBM lokal pasca-turunnya harga minyak global dipengaruhi oleh formula penetapan harga yang tidak hanya bergantung pada harga minyak mentah harian. Faktor utama yang menentukan naik turunnya harga minyak mentah lokal dan BBM non-subsidi di Indonesia adalah Mean of Platts Singapore (MOPS) atau Argus, yang merupakan acuan harga produk jadi minyak (bukan minyak mentah) di kawasan Asia Tenggara.
Selain itu, formula kuotasi ini dihitung berdasarkan rata-rata pergerakan harga pada periode sebulan sebelumnya, bukan harga real-time hari ini. Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga memegang peranan krusial. Jika rupiah melemah terhadap dolar, biaya impor minyak mentah dan produk jadi akan tetap tinggi meskipun harga minyak dunia sedang mengalami penurunan.
Di samping faktor formula teknis dan kurs mata uang, komponen biaya produksi, biaya distribusi ke berbagai wilayah Indonesia, margin badan usaha, serta pajak-pajak daerah seperti Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) turut mengunci stabilitas harga di tingkat retail. Pemerintah dan badan usaha biasanya memerlukan waktu untuk mengevaluasi secara berkala setiap awal bulan guna memastikan bahwa penurunan harga di tingkat global sudah teruji stabil dan tidak bersifat fluktuatif sesaat.