Ringkasan Eksekutif: 2 Tahun Prabowo-Gibran, Pertanian Melaju Makin Kencang
Laporan ini akan mengulas, dalam dua tahun periode pemerintahan Prabowo-Gibran, pertanian bergerak makin baik.
Laporan ini akan mengulas, dalam dua tahun periode pemerintahan Prabowo-Gibran, pertanian bergerak makin baik.
Pada 20 Oktober 2026, genap sudah dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Selama dua tahun ini harus diakui bahwa ada begitu banyak catatan yang perlu perbaikan maupun capaian. Di antara itu, ada satu capaian yang cukup positif di tengah belantara persoalan dan setumpuk pekerjaan rumah. Capaian itu datang dari sektor pertanian.
Di sinilah peran jurnalisme solusi. Di antara banyak keraguan dan kelindan informasi, masih ada secercah capaian baik. Jurnalisme solusi melihat, mempertanyakan, dan memverifikasi secara jurnalistik capaian yang baik ini. Harapannya capaian positif ini bisa ditiru agar menular di sektor lainnya.
Laporan ini akan mengulas, dalam dua tahun periode pemerintahan Prabowo-Gibran, pertanian bergerak makin baik.
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal pemerintahan presiden Prabowo 20 Oktober 2024 yakni pada triwulan keempat 2024, kontribusi lapangan usaha pertanian terhadap PDB sebesar 11,31%. Adapun data terkini pada triwulan kedua 2026, kontribusi lapangan usaha pertanian terhadap PDB naik menjadi 13,57%.
Lapangan usaha pertanian pun pada triwulan kedua 2026 merupakan kontributor terbesar kedua terhadap PDB mengalahkan sektor perdagangan. Ini meningkat ketimbang saat awal pemerintahan presiden Prabowo pada triwulan keempat 2024 dimana lapangan usaha pertanian merupakan kontributor terbesar ketiga terhadap PDB.

Peningkatan kontribusi ini juga ditopang oleh konsistennya lapangan usaha pertanian mencatat pertumbuhan. Pada awal pemerintahan presiden Prabowo triwulan keempat 2024 lapangan usaha pertanian hanya bertumbuh 0,71%. Kini pada triwulan kedua 2026 lapangan usaha pertanian bertumbuh 3,8%. Bahkan lapangan usaha pertanian pernah tumbuh melesat 10,52% pada triwulan pertama 2025.

Kehidupan petani di Indonesia mulai menunjukkan perkembangan yang semakin positif, seiring dengan meningkatnya nilai ekonomi dari hasil pertanian yang mereka produksi. Indikasi tersebut tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) nasional yang mencetak rekor tertinggi.
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) NTP pada September 2026 mencapai 131,11 meningkat 1,49% dibandingkan Agustus 2026. Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) mengalami kenaikan sebesar 1,93 persen lebih tinggi dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,44 persen. Pada September posisi It sebesar 170,4 dan Ibsebesar 128,85.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa harga yang diterima petani dari hasil produksinya tumbuh lebih cepat dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan produksi maupun konsumsi rumah tangga.
Dalam mendorong terlaksananya sektor pangan yang menjadi program strategis pemerintah, alokasi anggaran menjadi sangat penting. Terutama dalam menjamin ketersediaan, akses, hingga stabilitas pasokan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia. Alokasi anggaran itu tercermin melalui anggaran Kementerian Pertanian (Kementan) dan juga anggaran untuk program ketahanan pangan. Alokasi anggaran untuk Kementan mulai mengalami kenaikan sejak pemerintahan baru dimulai. Pada periode sebelumnya, anggaran untuk Kementan sempat menyusut.

Ketahanan pangan tidak semata melulu hanya tugas pemerintah, namun juga ada kontribusi peranan swasta yang juga ikut menopang ketahanan pangan. Melalui produksi makan dan minum, perusahaan swasta juga hadir memberi pasokan pangan kepada masyarakat.

Dari beragam cerita laporan Suar di lapangan soal sektor pangan dan pertanian, kami juga membubuhkan catatan bahwa kinerja sektor ini juga masih jauh dari sempurna dan butuh banyak penyempurnaan. Pemerintah juga perlu fokus menghadapi tantangan berat kemarau panjang El-Nino guna tetap menjaga ketahanan pangan Tanah Air.