Ringkasan Eksekutif: Pelajaran Berharga dari Peraih Nobel Ekonomi
Robinson menekankan kualitas institusi yang inklusif dan merangkul inovasi sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Robinson menekankan kualitas institusi yang inklusif dan merangkul inovasi sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Kedatangan peraih Nobel Ekonomi 2024 James A Robinson ke Indonesia menjadi momentum bagi para akademisi dan pemangku kepentingan untuk memetik pelajaran berharga dari hasil risetnya yang mendunia. Kualitas institusi yang inklusif menjadi hal yang perlu dilakukan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8%.
“Negara yang miskin menjadi miskin karena mereka yang berkuasa membuat keputusan yang menyebabkan kemiskinan. Kesalahan mereka mengelola negara bukan karena ketidaksengajaan atau kebodohan, melainkan karena kesengajaan,” (James A Robinson - Peraih Nobel Ekonomi 2024).
Dalam bukunya yang berjudul Why Nations Fail atau “Mengapa Negara Gagal” yang ia tulis bersama Daron Acemoglu, Profesor Ekonomi asal Amerika Serikat, Robinson meneliti bagaimana institusi dibentuk dan memengaruhi kesejahteraan suatu negara.
Apa relevansi penelitian Robinson untuk Indonesia yang tengah mengejar target pertumbuhan ekonomi 8%?
Bagi negara berkembang, refleksi seputar sumber dan masa depan pertumbuhan ekonomi acapkali memicu kekhawatiran kalau sebuah negara terlambat memilih atau membentuk institusi pertumbuhannya. Alih-alih kecepatan, Robinson menekankan kualitas institusi yang inklusif dan merangkul inovasilah yang lebih berdampak pada pertumbuhan ekonomi.
Berangkat dari perbandingan PDB Korea Selatan, Jepang, Malaysia, Singapura, dan Indonesia dalam kurun 1950-2022, Robinson menemukan keterkaitan erat alokasi dana penelitian di sisi input, jumlah paten di sisi output, dengan akumulasi PDB per kapita sebagai outcome.
Seperti apa keterkaitannya?
Temuan penelitian Robinson yang mendunia menjadi pelajaran berharga bagi para pelaku usaha dan ekonom di seluruh dunia. Sayangnya, Robinson tidak meneliti spesifik mengenai Indonesia.
Oleh karena itu, penting untuk melihat konteks lokal dari teori insitusi inklusif dan ekstraktif ala Robinson. Opini dari Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Mohamad Ikhsan dapat memberikan gambaran yang komprehensif. Seperti apa analisisnya?