Eksportir Jadi Tumpuan Penguatan Kurs Saat Devisa Terus Tergerus

Cadangan devisa Indonesia dari USD 146,2 miliar pada akhir April turun menjadi USD 144,9 miliar pada akhir Mei 2026. Saat kurs rupiah melemah, ekspor jadi peluang untuk mendongkrak cadangan devisa.

Eksportir Jadi Tumpuan Penguatan Kurs Saat Devisa Terus Tergerus
Ilustrasi kegiatan ekspor. Foto oleh Andy Li/Unsplash
Daftar Isi

Peningkatan kapasitas produksi komoditas berorientasi ekspor menjadi ujung tombak yang diharapkan memulihkan cadangan devisa yang tergerus sepanjang paruh pertama 2026. Syaratnya, diversifikasi pasar dan upgrading produksi perlu disertai upaya mengamankan pasokan bahan baku dengan harga stabil, di samping penguatan edukasi dan perluasan akses fasilitas lindung nilai (hedging).

Dalam pernyataan resminya, Senin (8/6/2026), Bank Indonesia (BI) mengumumkan penurunan cadangan devisa Indonesia dari USD 146,2 miliar pada akhir April menjadi USD 144,9 miliar pada akhir Mei 2026.

Situasi ini memperpanjang penggerusan cadangan devisa yang konsisten sejak awal tahun, dengan total USD 11,3 miliar telah berkurang dari posisi cadangan devisa RI sebesar USD 156,2 miliar pada akhir 2025.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyatakan penurunan ini dipengaruhi penerbitan surat utang pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa di tengah meningginya kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah, stabilisasi kurs rupiah di pasar keuangan global, dan permintaan valuta asing musiman.

Denny menjelaskan, secara keseluruhan, posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor. Ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Dalam hemat bank sentral, nilai cadangan devisa saat ini masih mampu mendukung ketahanan eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan secara keseluruhan. Ke depan, ketahanan eksternal diperkirakan membaik dengan devisa yang tetap memadai dan kembalinya aliran masuk modal asing ke dalam sistem keuangan RI.

"Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," tandasnya.

Mata ganda peluang ekspor

Dalam situasi ketika kurs rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS, produk ekspor Indonesia menjadi lebih murah di mata pembeli internasional. Kondisi ini berpotensi meningkatkan permintaan terhadap berbagai produk nasional dan memperkuat daya saing eksportir di pasar global.

Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Toto Dirgantoro menilai situasi ini dapat menjadi momentum untuk memperluas pasar dan meningkatkan volume penjualan. Selain itu, melemahnya rupiah juga dapat mengurangi minat impor karena harga barang dari luar negeri lebih mahal.

"Kondisi ini berpotensi mendorong penggunaan produk dalam negeri sekaligus memberikan ruang lebih besar bagi industri lokal untuk berkembang. Hanya saja manfaat pelemahan rupiah tidak dirasakan merata karena banyak industri manufaktur masih bergantung bahan baku, komponen, maupun teknologi dari luar," jelasnya, Senin (8/6/2026).

Saat dolar AS menguat, Toto menjelaskan, biaya pengadaan bahan baku impor pasti ikut meningkat. Akibatnya, beban produksi membengkak dan dapat mengurangi keuntungan perusahaan, meskipun permintaan ekspor sedang meningkat.

Imbasnya, kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menjadi pihak yang paling rentan menghadapi gejolak nilai tukar. Berbeda dengan perusahaan besar yang memiliki instrumen lindung nilai atau hedging, sebagian besar UMKM belum memiliki perlindungan terhadap risiko fluktuasi kurs.

"Kenaikan nilai dolar dapat berdampak langsung pada biaya operasional, harga jual produk, hingga keberlanjutan UMKM. Padahal, semakin kompetitif harga produk di pasar internasional, semakin besar peluang ekspor untuk tumbuh dan dapat dimanfaatkan," imbuhnya.

Toto mengambil contoh nelayan di Kelurahan Bancaran, Bangkalan, Jawa Timur. Saat ini, penguatan dolar AS membuat harga jual sejumlah hasil tangkapan yang dipasarkan ke luar negeri mengalami kenaikan, termasuk rajungan yang selama ini menjadi komoditas andalan ekspor mereka.

Berdasarkan informasi yang ia peroleh dari anggota GPEI Jawa Timur, hasil tangkapan nelayan di Bangkalan secara umum terbagi menjadi dua kelompok, yakni komoditas khusus ekspor dan yang dijual di pasar domestik. Dampak penguatan dolar paling terasa pada komoditas ekspor karena nilai jual yang turut terdongkrak.

"Kalau harga jual biasanya Rp 100.000 per kilogram, sekarang harga mereka bisa lebih tinggi. Meski begitu, nelayan juga khawatir kemungkinan harga solar bersubsidi akan naik. Jika benar terjadi, biaya operasional akan naik dan nilai jual produk mereka berkurang," ungkap Toto.

Baca juga:

Bersama Cari Solusi Perkuat Kembali Kurs Garuda
Tak hanya menempuh upaya konvensional, sinergi memulihkan kepercayaan pasar perlu dirumuskan dalam kebijakan konkret dan terukur guna mencegah depresiasi memicu efek berkepanjangan terhadap perekonomian Tanah Air.

Berkaca dari situasi ini, Toto menggarisbawahi bahwa penguatan kapasitas produksi dalam negeri dan diversifikasi pasar ekspor perlu disertai perluasan akses edukasi dan fasilitas lindung nilai untuk mengurangi dampak negatif fluktuasi nilai tukar.

"Bagi eksportir, kondisi ini menjadi peluang meningkatkan penjualan dan memperkuat posisi di pasar internasional. Namun, bagi industri yang masih mengandalkan bahan baku impor, penguatan dolar justru menjadi tantangan yang harus dikelola agar tidak menggerus daya saing dan keuntungan usaha," tegasnya.

Penurunan ekspor jadi alarm

Secara terpisah, Founder dan CEO Supply Chain Indonesia Setijadi mengingatkan, meski sangat dibutuhkan, pertumbuhan ekspor barang dan jasa yang hanya mencapai 0,90 persen pada triwulan I-2026 menunjukkan pertumbuhan ekonomi masih perlu diperkuat dari sisi produktivitas industri dan daya saing ekspor.

"Konektivitas logistik dari sentra produksi ke pasar dan pelabuhan, mempercepat digitalisasi layanan logistik, serta pengembangan pusat konsolidasi barang di luar Jawa perlu jadi perhatian, karena struktur ekonomi masih terkonsentrasi di Jawa dengan kontribusi 57,24%, padahal Bali-Nusa Tenggara dan Sulawesi mencatat pertumbuhan 7,93 persen dan 6,95 persen," jelasnya.

Menyitir data Badan Pusat Statistik (BPS), Setijadi mengakui pertumbuhan ekspor Januari-April 2026 relatif optimal dengan capaian USD 92,15 miliar. Namun, ia menggarisbawahi pertumbuhan ekspor 21,98% Year on Year mulai terbalap pertumbuhan impor yang meningkat 22,49% YoY, yang antara lain menggerus surplus neraca perdagangan hingga tersisa USD 89 juta.

Baca juga:

Pecah Rekor 6 Tahun, Surplus Neraca Dagang RI Merosot Signifikan
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan keberhasilan Indonesia mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 72 bulan atau enam tahun berturut-turut sejak Mei 2020. Meski demikian, angka surplus neraca dagang RI tercatat merosot tajam menjadi USD 89,1 juta pada April 2026.

"Penurunan pertumbuhan ekspor perlu diantisipasi agar tidak berkembang menjadi pelemahan berkepanjangan. Di sisi lain, kenaikan impor barang modal dapat menjadi indikasi ekspansi kapasitas produksi, tetapi harus dikawal agar berdampak pada peningkatan produktivitas dan ekspor bernilai tambah," tegasnya.

Selain memperkuat hilirisasi dan diversifikasi pasar ekspor, Setijadi menekankan bahwa konsolidasi muatan ekspor, efisiensi pelabuhan, serta layanan logistik ekspor perlu lebih kompetitif.

"Kenaikan impor bahan baku dan barang modal perlu diarahkan memperkuat kapasitas produksi nasional, memperdalam rantai pasok domestik, dan mengurangi ketergantungan impor dalam jangka menengah," tutupnya.

Penulis

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ekspor-Impor, Ketenagakerjaan, dan Teknologi

Baca selengkapnya