Sektor keuangan dalam negeri, terus mengalami tekanan beruntun beberapa waktu terakhir. Pekan ini, tekanan itu mencapai puncaknya. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada perdagangan Rabu (3/6/2026), turun 254,36 poin atau 4,11 persen ke level 5.941. Posisi IHSG kali ini merupakan yang terendah sejak 5 tahun terakhir.
Sedangkan nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp18.049 per Dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (4/6/2026), selisih tipis dengan penutupan nilai tukar rupiah dalam catatan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) di level Rp18.039. Penutupan ini mencatatkan pelemahan 7,91% year-to-date atau 0,87% dibandingkan penutupan perdagangan Mei 2026.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat ini kembali mencatatkan level all time low historis, melewati ambang batas Rp18.000 per US$. Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan, pelemahan kurs saat ini masih dipengaruhi tensi geopolitik Timur Tengah yang tereskalasi dan menghambat prospek damai.
Akibatnya, harga minyak yang tetap tinggi, meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging. Selain itu, kebutuhan domestik akibat musim repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri menambah kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

Meski demikian, secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dengan situasi regional. Cadangan devisa RI sebesar US$ 146,2 miliar pada akhir April 2026 pun, masih lebih dari cukup untuk mendorong intervensi di pasar keuangan.
"Bank Indonesia akan terus meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya. BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik," jelas Destry dalam keterangan tertulis kepada SUAR, Kamis (4/6/2026).
Akibat revisi outlook
Di sisi lain, Merosotnya IHSG dipicu sentimen eksternal dari kemungkinan adanya revisi outlook dari organisasi pemeringkat global S&P soal pasar Indonesia dan peringkat kredit Moody's Rating. Selain itu juga ada sentimen internal dalam negeri yakni indikator perekonomian yang tidak meyakinkan seperti surplus neraca perdagangan yang menipis dan nilai tukar rupiah yang terus melemah.

Padahal pada awal perdagangan Rabu, IHSG sempat dibuka di zona hijau. Pada pukul 09.01 WIB, indeks tercatat naik 11,67 poin atau 0,19 persen ke level 6.207, sejalan dengan penguatan sejumlah bursa Asia. Namun tekanan jual yang terus meningkat sepanjang sesi perdagangan membalikkan arah pergerakan indeks hingga ditutup di level terendah hari ini.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi mencapai Rp25,21 triliun dengan volume perdagangan 40,06 miliar saham. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 692 saham ditutup melemah, 69 saham menguat, dan 54 saham stagnan.
Pelemahan terjadi di seluruh sektor. Sektor barang baku menjadi penekan terbesar setelah merosot 9,31 persen, menjadikannya sektor dengan kinerja terburuk pada perdagangan hari ini.
Salah satu sentimen yang disorot pelaku pasar adalah pemberian peringkat kredit perdana kepada PT Danantara Investment Management (DIM) oleh Moody's Ratings.

Dalam laporannya, Moody's menetapkan peringkat Baa2 dengan outlook negatif bagi DIM. Lembaga pemeringkat internasional tersebut juga memberikan peringkat provisional (P)Baa2 untuk program global medium-term note (MTN) tanpa jaminan yang dibentuk DIM serta peringkat Baa2 untuk obligasi senior unsecured yang akan diterbitkan perusahaan.
Moody's menempatkan kualitas kredit DIM sejajar dengan peringkat utang Indonesia yang saat ini berada pada level Baa2 dengan outlook negatif. Penilaian tersebut didasarkan pada hubungan yang sangat erat antara perusahaan dan pemerintah.
Menurut Moody's, DIM dikategorikan sebagai Government Related Issuer (GRI). Penilaian dilakukan menggunakan pendekatan top-down yang menitikberatkan pada hubungan perusahaan dengan negara sebagai faktor utama dalam penentuan peringkat.
Moody's juga tidak menetapkan Baseline Credit Assessment (BCA) bagi DIM karena perusahaan masih berada pada tahap awal pengembangan, memiliki rekam jejak operasional terbatas, dan belum menjalankan aktivitas usaha mandiri dalam skala signifikan.
Tak hanya Moody's, S&P Global Ratings turut memberikan peringkat kredit jangka panjang BBB serta peringkat jangka pendek A-2 kepada DIM. Lembaga pemeringkat internasional tersebut juga menetapkan prospek (outlook) stabil, sejalan dengan prospek peringkat utang pemerintah Indonesia.
S&P menyatakan bahwa posisi peringkat DIM sangat erat kaitannya dengan profil kredit negara. Karena itu, setiap perubahan terhadap peringkat sovereign Indonesia berpotensi memengaruhi penilaian terhadap perusahaan tersebut.
"S&P dapat meninjau kembali dan menurunkan peringkat DIM apabila kami mengambil langkah serupa terhadap peringkat kredit sovereign Indonesia," tulis lembaga pemeringkat itu dalam laporannya.
Penetapan peringkat tersebut didasarkan pada pandangan S&P bahwa pemerintah Indonesia memiliki komitmen kuat untuk memberikan dukungan yang memadai dan tepat waktu kepada DIM apabila diperlukan. Asumsi mengenai besarnya dukungan negara tersebut menjadi faktor utama dalam penilaian kredit perusahaan.
Dengan mempertimbangkan hubungan yang kuat antara DIM dan pemerintah, S&P memutuskan untuk menyamakan peringkat kredit perusahaan dengan peringkat sovereign Indonesia.
Oleh sebab itu, DIM memperoleh peringkat BBB untuk kewajiban jangka panjang dan A-2 untuk kewajiban jangka pendek, dengan prospek stabil yang mencerminkan outlook kredit Indonesia saat ini.
Menurut S&P, penilaian tersebut mencerminkan ekspektasi bahwa peran strategis DIM dalam ekosistem investasi nasional akan membuat perusahaan tetap mendapatkan dukungan pemerintah apabila menghadapi tekanan keuangan di masa mendatang.
Ketidakpastian kebijakan dalam negeri
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai pelemahan nilai tukar rupiah dalam 2 bulan terakhir disebabkan kombinasi faktor fundamental ekonomi Indonesia, ketidakpastian kebijakan ekonomi di dalam negeri, faktor musiman, dan dampak rambatan geopolitik global.
"Namun, dari keempat faktor tersebut, fundamental ekonomi dari ketidakpastian kebijakan dalam negeri cenderung lebih kuat dibandingkan faktor geopolitik dan musiman," jelasnya.
Pada titik ini, nilai tukar rupiah diperkirakan sulit kembali ke level psikologis Rp16.000-an jika mencermati perkembangan terbaru ketidakpastian kebijakan ekonomi Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Ia mengakui institusi makroekonomi Indonesia saat ini memang sudah jauh lebih kuat, meski rupiah telah melampaui level terendah sejak krisis moneter 1997/1998.
"Kendati demikian, serangkaian ketidakpastian akibat perubahan kebijakan ekonomi domestik dalam beberapa pekan terakhir perlu diwaspadai karena mencerminkan buruknya tata kelola kebijakan ekonomi," tegasnya.
Demi memulihkan kurs Garuda, Faisal menyarankan misi penyelamatan lapis ganda. dalam jangka pendek, beban stabilisasi perlu dibagi dengan memperkuat pasokan valas di dalam negeri, terutama dengan memastikan ruang konversi dalam aturan devisa hasil ekspor (DHE) terbaru melalui insentif yang memadai, sembari memulihkan kredibilitas fiskal sebagai akar menentukan.
Sementara itu, dalam jangka panjang, kerentanan rupiah hanya dapat diatasi dengan memperbaiki struktur neraca pembayaran, mulai dari masalah ketergantungan pada ekspor komoditas, defisit pendapatan primer yang persisten, hingga problem dangkalnya pasar keuangan lintas mata uang.
Meski demikian, Faisal mengingatkan, perlu kehati-hatian terhadap harapan berlebih pada agenda dedolarisasi. Ketika rupiah melemah, pengalihan ke Yuan tidak meredakan tekanan dan bahkan dapat menaikkan biaya impor dalam rupiah. "Dedolarisasi layak diposisikan sebagai upaya mengurangi paparan terhadap volatilitas dolar, bukan jalan pintas memperkuat nilai tukar," tegasnya.
Ekspektasi global yang tak berbalas
Pengamat Pasar Modal, Hans Kwee, menilai pelemahan IHSG dipicu kombinasi faktor global dan domestik yang meningkatkan kehati-hatian investor.

Dari sisi global, ketidakpastian masih bersumber dari konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel. Menurut Hans, pasar sebelumnya berharap konflik segera mereda, namun hingga kini belum terlihat kejelasan penyelesaian.
“Jadi di global itu faktornya adalah konflik di Timur Tengah antara AS - Iran itu enggak berujung. Jadi pasar expect gede sekali konflik akan berakhir, tapi enggak jelas (kapan berakhir),” ujar Hans ketika dihubungi, Rabu (3/6/2026).
Konflik tersebut dinilai mengganggu pasokan energi global dan menjaga harga minyak tetap tinggi. Kondisi ini kurang menguntungkan bagi Indonesia yang masih berstatus sebagai net importir minyak.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik turut mendorong penguatan dolar AS yang kemudian menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Hans juga melihat munculnya potensi kenaikan inflasi global akibat dampak perang terhadap aktivitas ekonomi.
Situasi tersebut memunculkan ekspektasi bahwa bank-bank sentral utama dunia akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
“European Central Bank (ECB) kemungkinan naikin bunga di Juni, kemudian bisa naikin lagi bunga dua kali. Ada The Fed akan naikin (suku) bunga mungkin Desember atau tahun depan. Nah ini higher for longer,” kata dia.
Menurut Hans, suku bunga tinggi membuat arus modal global cenderung kembali ke negara maju karena menawarkan tingkat imbal hasil yang lebih menarik. Dampaknya, negara berkembang menghadapi risiko arus keluar modal dan pelemahan mata uang.
Menipisnya surplus neraca perdagangan
Dari dalam negeri, Hans menyoroti surplus neraca perdagangan Indonesia yang turun jauh di bawah ekspektasi pasar. Surplus yang hanya sekitar US$90 juta dinilai menjadi sinyal berkurangnya kontribusi sektor eksternal terhadap perekonomian nasional.
“Ini (karena) faktor oleh impor BBM kita yang tinggi, migas kita tinggi impornya. Jadi ya ini tentu nggak bagus bagi kita,” ujarnya.
Selain itu, investor juga mencermati proses peninjauan peringkat kredit Indonesia oleh sejumlah lembaga pemeringkat internasional. Meskipun belum ada perubahan peringkat, pasar cenderung berhati-hati karena sejumlah lembaga sebelumnya menyoroti risiko terhadap prospek fiskal Indonesia.
"Kemudian ada tinjauan peringkat dari S&P ya. Ini orang cenderung hati-hati, biarpun katanya peringkatnya tetap. Tapi berdasar pada pernyataan Moody's dan Fitch, orang tentu bertanya-tanya gitu ya, bahwa apakah peringkat Indonesia ini mampu bertahan dengan kondisi yang ada saat ini? Ya karena defisit APBN akan melebar," jelas Hans.
Hans menyebut ada tiga isu utama yang menjadi perhatian investor, yakni prediktabilitas kebijakan pemerintah, tata kelola sejumlah program strategis termasuk Danantara, serta potensi pelebaran defisit anggaran dan beban pembayaran utang pemerintah.
Kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) juga masih menjadi perhatian pasar karena pelaku usaha menunggu kejelasan implementasinya.
Meski demikian, Hans menilai peluang Indonesia turun dari kategori emerging market menjadi frontier market dalam peninjauan MSCI relatif kecil. Reformasi pasar modal yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) dinilai telah membantu mengurangi risiko tersebut.
Ia bahkan menilai koreksi IHSG saat ini cenderung berlebihan jika dibandingkan dengan fundamental ekonomi nasional yang masih cukup kuat.
Hans menyoroti pertumbuhan ekonomi yang masih berada di level 5,11 persen, inflasi yang terkendali sesuai target Bank Indonesia, serta posisi neraca primer pemerintah yang kembali mencatat surplus pada April lalu.
“Jadi harusnya ini panik sesaat dan nanti akan rebound lagi,” tegasnya.
Menurut dia, pelemahan rupiah dan tingginya harga komoditas juga berpotensi memberikan keuntungan bagi Indonesia sebagai eksportir berbagai komoditas utama. Di sisi lain, valuasi saham Indonesia pada level saat ini dinilai semakin menarik bagi investor.
Strategi kebijakan dari pengusaha
Dari pandangan pengusaha, Ketua Bidang Hubungan Antarlembaga Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sarman Simanjorang menekankan pentingnya pelaku usaha mengambil strategi dan kebijakan penuh kehati-hatian dan pertimbangan yang matang, ketika tekanan terhadap rupiah belum kunjung mereda.
"Jika pelemahan nilai tukar rupiah bersifat sementara, tentu pelaku usaha akan mampu mengatasi dengan inovasi dan penghematan. Namun, jika menyangkut bahan baku impor, ini sesuatu yang tidak bisa dielakkan, pengusaha perlu mencoba mencari alternatif dengan tidak mengurangi kualitas," kata Sarman saat dihubungi, Rabu (8/4/2026).

Dalam kondisi seperti ini, Sarman menilai bahan baku impor menjadi tantangan. Di samping harga-harga bahan baku yang naik akibat pelemahan nilai kurs rupiah, gangguan jalur logistik belum sepenuhnya mereda, meskipun gencatan senjata AS dan Iran mulai diberlakukan. Tak dapat dipungkiri ada sektor yang mengandalkan potensi lokal, tetapi ada sektor lain yang 100% tergantung bahan baku impor.
"Pelaku usaha tentu akan mencoba lebih selektif, tetapi tetap pada batas-batas tertentu. Dalam situasi seperti ini, dampak ekonomi dari perubahan geopolitik terasa semakin luas, sehingga agak sulit memastikan tekanan usaha berjalan seperti biasa di tengah gejolak yang semakin menekan perekonomian," ujarnya.