Wali Kota Surakarta Naik Vespa, MSCI & IHSG, Obsesi Pada Konsumen, dan Sahabat Bahagia

Wali Kota Surakarta Naik Vespa, MSCI & IHSG, Obsesi Pada Konsumen, dan Sahabat Bahagia

Wali Kota Surakarta Naik Vespa, MSCI & IHSG, Obsesi Pada Konsumen, dan Sahabat Bahagia
Dalam Artikel Ini

Selamat berakhir pekan. 

Berikut informasi seputar tren yang sedang ramai dibahas di publik.

Wali Kota Surakarta Nikmati Hidup dengan Naik Vespa

Mengendarai sepeda motor, baik sendirian maupun bersama teman, menjadi cara beberapa orang melepas stres dari aktivitas sehari-hari. Selain berolahraga, aktivitas yang lebih dikenal dengan nama 'touring' ini disinyalir bisa merangsang hormon dopamin dan endorfin yang menghasilkan rasa rileks.

Adalah Wali Kota Surakarta, Respati Ahmad Ardianto yang memilih mengendarai motor Vespa sebagai caranya menikmati hidup. Hobi yang ia tekuni sejak masa kuliah ini, setidaknya bisa memberinya ruang untuk keluar sejenak dari jadwal pemerintahan yang padat.

Hobi bermotor Vespa tersebut telah tumbuh sejak Respati masih duduk di bangku perguruan tinggi. Seiring berjalannya waktu, ketertarikannya terhadap sepeda motor Vespa tidak hanya sebatas pada kendaraan itu sendiri, tetapi juga pengalaman yang diperoleh selama perjalanan. 

“Ada sensasi tersendiri ketika mengendarai motor, merasakan udara terbuka, dan melihat berbagai pemandangan yang dilewati. Pengalaman tersebut cukup menarik,” ujar dia kepada SUAR (29/9).

Wali Kota Surakarta, Respati Achmad Ardianto usai sesi wawancara dengan SUAR di Bogor, Selasa (29/9/2026). (Foto: Tria Dianti / SUAR)

Ancaman Turun Kasta Jadi Pertaruhan, Mampukah Bursa Rebut Kembali Kepercayaan?

  • Ancaman degradasi status dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak cepat mengamankan kepercayaan investor global. MSCI menyebut tengah mengusulkan reklasifikasi pasar saham Indonesia dari kategori Emerging Market (pasar berkembang) menjadi Standalone Market (pasar mandiri). Pasar pun merespon dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 11,57% pada perdagangan Jumat (16/10/2026) menjadi pada level 5.185.

Synchronize Fest 2026 kembali hadir pada 16–18 Oktober 2026 di Gambir Expo, JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, dengan menyajikan ratusan penampil lintas genre dan generasi yang tersebar di 8 panggung utama. Tiket festival musik tahunan ini ditawarkan mulai dari Rp285 ribu untuk Daily Pass Early Entry (tiket Sabtu sudah habis), Rp385 ribu untuk Daily Pass Regular, hingga Rp700 ribu untuk akses 3 Days Pass Regular.

Konser BABYMONSTER: Grup K-pop BABYMONSTER akan menggelar konser bertajuk BABYMONSTER WORLD TOUR [CHOOM] di Indonesia Arena, Jakarta, pada 17 Oktober 2026—bagian dari tur Asia-Oseania mereka yang berlanjut ke Bangkok, Kuala Lumpur, Taipei, hingga Singapura. Selain konser yang tiketnya masih dapat dibeli melalui situs resmi, para MONSTIEZ juga dapat mengunjungi official pop-up store "CHOOM" di Gandaria City Mall pada 13–25 Oktober 2026 yang buka setiap hari pukul 10.00–22.00 WIB.

Fanmeeting Gong Yoo: Aktor Korea Selatan Gong Yoo siap menyapa penggemar lewat 2026 Gong Yoo Asia Fanmeeting Tour: The Long Take in Jakarta yang akan digelar di Istora Senayan, Jakarta Pusat. Acara ini menawarkan berbagai benefit eksklusif seperti hi-bye, undian foto grup, hingga photocard spesial. Meski sebagian besar kategori tiket telah ludes sejak penjualan dibuka 9 September 2026 lalu, sisa tiket masih dapat dipantau dan dibeli melalui situs resmi Gong Yoo in Jakarta.

Obsesi pada Konsumen

Alkisah di sebuah perusahaan, pagi itu diadakan rapat pembahasan strategi pemasaran. Mulai dari direktur utama, direktur pemasaran, manajer pemasaran, hingga sejumlah staf pemasaran hadir dalam rapat itu. 

Sang direktur utama perusahaan membuka rapat itu dengan meminta para stafnya memaparkan bagaimana dan apa saja strategi dari kompetitor perusahaannya. 

“Pokoknya, apa yang kompetitor lakukan, kita tiru dan ikuti,” ujar sang direktur utama.  

Strategi ini biasa disebut ATM yang merupakan singkatan dari amati, tiru, modifikasi. Taktik ini membuat perusahaan berpikir setengah jalan saja, karena mereka hanya tinggal meniru taktik kompetitor sambil sedikit utak-atik di sana-sini. 

Cerita yang kerap kali terjadi di banyak perusahaan ini menarik untuk direnungkan. Jadi apa yang sebetulnya definisi kesuksesan bisnis itu? Mengalahkan kompetitor atau memenuhi kebutuhan konsumen? 

Ilustrasi. Kreasi AI oleh Suar.id/Krisna

Sahabat Bahagia

Saudaraku, pernahkah engkau merasa dirimu hampa—seperti daun gugur di ujung musim, tak berguna, tak bermakna, tak punya pegangan dalam pusaran waktu? Aku pun pernah. Hingga semesta, dalam kemurahan tak terduga, menghadirkan sahabat-sahabat dalam hidupku—seperti cahaya mentari menembus celah awan mendung.

Dalam perjumpaan itulah hidup mulai menjelma jadi kisah. Kita saling membuka diri: bertukar cerita, memantulkan pandangan satu sama lain, saling menyimak jejak luka dan lara, perjuangan dan harapan. Kita berbagi pengetahuan seperti sungai yang menyalurkan air segar ke ladang yang kering. Kita tertawa dalam canda, menangis dalam duka, dan dalam semua itu—tanpa sadar—kita sedang menyusun ulang cara pandang terhadap diri sendiri.

Aku pun belajar menerima bahwa hidupku tak sepenuhnya sia-sia. Ada anugerah yang tak terukur dalam persahabatan: karunia yang memberi napas bagi jiwa, cahaya bagi langkah, dan makna bagi keberadaan.

Cendekiawan Muda Yudi Latif (tengah). (Foto: AI/ TIm SUAR)
ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)