Letjen TNI Kristomei Sianturi menjawab pertanyaan wartawan usai dilantik menjadi Kepala BNPB oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10/2026). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nym.
Dalam Artikel Ini
Selamat pagi Chief…
Berikut informasi penting terkait pengembangan semesta dunia usaha yang perlu mendapat perhatian hari ini berdasarkan kurasi Tim SUAR.
Kepastian mungkin semakin sulit diperoleh. Tetapi kemampuan mengambil keputusan tidak boleh ikut melemah. (Pakar Geoekonomi, Mahendra Siregar)
Bongkar Pasang Kabinet Dinilai Tak Ganggu Dunia Usaha
Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (15/10) kembali merombak susunan Kabinet Merah Putih untuk mengisi sejumlah pos jabatan wakil menteri, kepala badan, dan pejabat Tentara Nasional Indonesia (TNI), berselang dua minggu usai ia merombak kabinet pada 1 Oktober 2026 lalu. Langkah ini sekaligus mencatatkan rekor baru dalam sejarah politik pascareformasi, di mana seorang kepala negara melakukan perombakan kabinet hingga delapan kali dalam masa dua tahun pertama pemerintahannya.
Sementara itu sejumlah pelaku usaha dan pakar menganggap perombakan kabinet merupakan hal yang biasa terjadi dan tidak akan mempengaruhi aktivitas dunia usaha. Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pengembangan Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Juan Permata Adoe menilai, reshuffle yang berulang kali dilakukan Presiden Prabowo ini seharusnya tidak perlu menjadi kekhawatiran dari dunia usaha.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,33% ke level 5.863,78 pada perdagangan Kamis (15/10/2026), seiring dengan tekanan jual yang meluas di pasar saham global. Memanasnya inflasi Amerika Serikat (AS) di atas ekspektasi pasar, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter menjadi sentimen yang membayangi pergerakan investor. Tekanan tidak hanya terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Mayoritas bursa saham Asia juga berakhir di zona merah, dengan indeks Kospi Korea Selatan dan Nikkei 225 Jepang mencatatkan penurunan tajam. Pelemahan turut menjalar ke Wall Street, khususnya indeks S&P 500, di tengah meningkatnya kehati-hatian investor dalam merespons perkembangan ekonomi global.
Pelaku Usaha Hadapi Tantangan Manfaatkan I-EU CEPA
Minimnya pemahaman terhadap ketentuan perjanjian, kesiapan dalam memenuhi standar ekspor, hingga tingginya biaya sertifikasi dan keterbatasan daya saing menjadi tantangan yang perlu dibenahi agar manfaat dari Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA) bisa ditangkap dengan baik oleh pelaku usaha setelah perjanjian tersebut berlaku.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menjelaskan, masih banyak pelaku usaha– baik di Indonesia maupun negara-negara Uni Eropa– yang belum mengetahui adanya perjanjian dan manfaat yang bisa diperoleh dari perjanjian dagang tersebut.
Dunia usaha terbiasa menghadapi ketidakpastian. Namun, kali ini bukan hanya harga dan siklus ekonomi yang berubah. Aturan main hukum internasional, perdagangan, investasi, dan teknologi juga bergeser karena geopolitik serta meningkatnya peran negara. Pemimpin bisnis tidak dapat sekadar menunggu keadaan kembali normal. Tantangannya adalah memilah mana peristiwa sesaat yang cukup dipantau dan mana perubahan struktural yang menuntut peninjauan strategi. Ketidakpastian kini bukan gangguan sementara. Yang menentukan adalah kemampuan perusahaan menerjemahkannya menjadi keputusan. Artikel ini merupakan opini dari Mahendra Siregar, Pemerhati Geoekonomi. Mahendra juga dikenal sebagai Mantan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Pemerhati Geoekonomi, Mahendra Siregar (Foto: Kreasi AI/ Tim SUAR)
Peningkatan Serapan Surplus Telur Domestik dan Program MBG
Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2026 menunjukkan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk subkategori telur dan susu meningkat. Peningkatan ini seiring dengan surplus produksi telur domestik. Program pemerintah menjadi salah satu solusi untuk menyerap surplus tersebut. Merujuk pada Neraca Pasok dan Permintaan Telur Ayam Per Bulan, tren produksi telur di Indonesia menunjukkan peningkatan. Total pasokan telur pada tahun 2024 yang tercatat sebesar 6.342.705 ton, naik 2,97% menjadi 6.531.284 ton pada tahun 2025. Meskipun sisi permintaan juga mengalami kenaikan sebesar 1,94%, yaitu dari 6.238.956 ton menjadi 6.359.888 ton, pertumbuhan produksi yang lebih besar ini menimbulkan surplus. Neraca surplus telur melonjak dari 103.749 ton di tahun 2024 menjadi 171.396 ton di tahun 2025.
Indonesia Digital Meetup 2026 diselenggarakan pada 15-16 Oktober 2026 di Convention Hall, SMESCO Indonesia, Jakarta. Ini merupakan ajang pertemuan pelaku industri, inovator, profesional digital dengan berbagai sesi seputar diskusi AI, transformasi bisnis, dan e-commerce.
Jakarta Wonderful Indonesia Tourism Fair 2026 diselenggarakan pada 15-17 Oktober 2026 di JI-EXPO. Acara kolaborasi antara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) ini menghadirkan 135 peserta pameran dari 26 provinsi.
Selamat beraktivitas, Chief.
Tim SUAR
Bagian selanjutnya tersedia khusus untuk member SUAR