Peningkatan Serapan Surplus Telur Domestik dan Program MBG

Peningkatan Serapan Surplus Telur Domestik dan Program MBG

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2026 menunjukkan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk subkategori telur dan susu meningkat. Peningkatan ini seiring dengan surplus produksi telur domestik. Program pemerintah menjadi salah satu solusi untuk menyerap surplus tersebut.

Peningkatan  Serapan Surplus Telur Domestik dan Program MBG

Selama periode lima tahun (2021-2025), pertumbuhan pengeluaran pada subkategori telur dan susu berkisar antara 0,71% hingga 5,73% secara tahunan (yoy). Pada Maret 2026, angka pertumbuhannya meningkat menjadi 12,46%. Pengeluaran untuk telur dan susu tercatat naik dari Rp 39.939 (2025) menjadi Rp 44.915 (2026).

Persentase pengeluaran subkategori telur dan susu terhadap total pengeluaran makanan juga menunjukkan peningkatan, yakni dari 5,15% pada tahun 2025 menjadi 5,44% pada tahun 2026. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran prioritas belanja masyarakat ke arah pemenuhan protein hewani, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan gizi.

Meningkatnya pengeluaran untuk telur dan susu ini bisa disebabkan karena bertambahnya konsumsi atau adanya kenaikan harga komoditas. Namun, berdasarkan data produksi dan serapan telur ayam domestik, kenaikan permintaan tersebut juga dapat dilihat sebagai upaya untuk menyerap surplus produksi telur domestik.

Merujuk pada Neraca Pasok dan Permintaan Telur Ayam Per Bulan, tren produksi telur di Indonesia menunjukkan peningkatan. Total pasokan telur pada tahun 2024 yang tercatat sebesar 6.342.705 ton, naik 2,97% menjadi 6.531.284 ton pada tahun 2025. Meskipun sisi permintaan juga mengalami kenaikan sebesar 1,94%, yaitu dari 6.238.956 ton menjadi 6.359.888 ton, pertumbuhan produksi yang lebih besar ini menimbulkan surplus. Neraca surplus telur melonjak dari 103.749 ton di tahun 2024 menjadi 171.396 ton di tahun 2025.

Agar surplus telur domestik terserap, diperlukan intervensi kebijakan dari pemerintah. Salah satunya melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana pada Mei 2026 menyatakan telur ayam diposisikan sebagai bahan pokok utama dalam program MBG. Penyerapan telur tergolong besar karena cakupan penerima MBG mencapai 55,1 juta orang.

Diperkirakan, dalam satu kali memasak di setiap Satuan Pelayanan Pendidikan Gizi (SPPG) membutuhkan sekitar 3.000 butir telur. Jika disimulasikan, dengan jumlah 55,1 juta penerima dan jumlah hari aktif sekolah sebanyak 22 hari, maka setidaknya dibutuhkan sekitar 1,21 miliar butir telur per bulan atau setara dengan sekitar 76 ribu ton telur. 

Jika dihitung selama sebulan penuh (30 hari), kebutuhannya melonjak menjadi 1,65 miliar butir atau sekitar 103 ribu ton per bulan. Angka serapan bulanan tersebut sangat signifikan dan memiliki potensi besar untuk menjaga stabilitas harga telur di tingkat peternak.

Dengan demikian, program MBG pemerintah berpotensi menjadi solusi dalam menyerap surplus produksi telur nasional yang terus meningkat. 

Sinergi antara kebijakan perbaikan gizi dan manajemen pasokan pangan ini diharapkan dapat memberikan keuntungan ganda dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus menjaga kesejahteraan para peternak ayam petelur di Indonesia.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Data