Uang Primer Tetap Tumbuh Meski Melambat
Rilis Bank Indonesia (BI) menunjukkan posisi uang primer per September 2026 tetap tumbuh meski mengalami perlambatan.
Rilis Bank Indonesia (BI) menunjukkan posisi uang primer per September 2026 tetap tumbuh meski mengalami perlambatan.
Per September 2026, posisi uang primer secara nominal tercatat Rp 2.353,1 triliun. Laju pertumbuhannya secara tahunan di angka 9,33%. Namun jika dilihat secara bulanan, angka pertumbuhannya lebih tinggi, yaitu 16,32% dibandingkan bulan Agustus 2026.
Angka pertumbuhan secara tahunan pada September tahun ini menurun cukup signifikan karena per September 2025 mampu tumbuh 18,58%. Hal ini menggambarkan laju ekspansi ekonomi yang mulai menurun.
Uang primer adalah uang kartal baik kertas maupun logam yang dipegang masyarakat serta simpanan giro bank umum yang disimpan di Bank Indonesia (BI). Uang kartal yang beredar di masyarakat masih tumbuh sebesar 11,77% pada September 2026. Sementara, komponen giro bank umum di BI pertumbuhannya menurun menjadi hanya 3,87% secara tahunan. Pada periode yang sama tahun sebelumnya (September 2025), pertumbuhannya mencapai 36,97%.
Penurunan pada penempatan dana perbankan di bank sentral yang terjadi di September 2026 menjadi indikasi awal mulai ketatnya ruang likuiditas bank. Hal tersebut berpengaruh pada kehati-hatian bank dalam menyalurkan kredit ke sektor riil.
Melihat faktor pemicunya, melambatnya laju pertumbuhan uang primer dipengaruhi oleh kondisi eksternal. Tercatat, komponen Aktiva Luar Negeri Bersih mengalami kontraksi yang beruntun sejak memasuki paruh kedua 2026, yang pada September 2026 mencatatkan pelemahan sebesar -11,81% secara tahunan dengan nominal Rp 1.862.558 miliar.
Berkurangnya aset luar negeri yang terus terjadi sejak awal tahun ini menggambarkan kuatnya tekanan arus modal keluar atau kebutuhan stabilisasi pasar valuta asing. Sebagaimana diketahui, dinamika stabilitas ekonomi sejak awal tahun ini mengalami gejolak yang cukup kuat dari faktor eksternal, seperti konflik Timur Tengah yang mengakibatkan krisis pasok minyak mentah hingga melemahnya rupiah terhadap dolar AS.
Di tengah derasnya tekanan likuiditas aset asing tersebut, bank sentral telah merespons melalui instrumen domestiknya. Hal tersebut terlihat dari melonjaknya angka pengendalian moneter yang mencatatkan pertumbuhan hingga 71,94% (yoy) pada September 2026, dengan nilai mencapai Rp 963.882 miliar.
Lonjakan besar mulai terlihat sejak Juni 2026, di mana pertumbuhan sempat menyentuh 95,21% (yoy) yang menunjukan otoritas moneter sedang bekerja melakukan operasi penyeimbang di pasar. Langkah agresif yang dilakukan berfungsi sebagai bantalan penting agar tekanan yang terjadi tidak langsung memukul operasional bisnis di masyarakat.
Meskipun secara nominal suplai uang bertambah di September 2026 ini, perlambatan pada giro bank umum dan penyusutan aktiva luar negeri bersih menjadi gambaran adanya pengetatan yang bersumber dari dinamika global. Dampaknya, likuiditas kredit dari bank semakin diperketat dengan melihat tren giro yang menunjukkan indikasi perlambatan pertumbuhan.