Perbaikan Kualitas SDM Dorong Produktivitas Manufaktur Indonesia
Kementerian Perindustrian kini tengah menentukan target baru untuk mendorong produktivitas di sektor manufaktur. Tidak sekadar fokus pada penambahan jumlah pekerja, pemerintah menargetkan penciptaan nilai tambah yang signifikan pada rentang waktu 2025 hingga 2029.
•
2 Menit Baca
Oleh:
Tautan telah disalin! Tempelkan ke stiker tautan di Bio atau Story Anda.
Dalam rancangan strategisnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan kenaikan produktivitas sebesar 18,8% dalam empat tahun ke depan, yang diproyeksikan meningkat dari Rp 124,35 juta per orang pada 2025 menjadi Rp 147,7 juta per orang pada 2029.
Selama ini, angka produktivitas industri pengolahan atau manufaktur Indonesia fluktuatif dengan kecenderungan tumbuh positif. Pada tahun 2016, produktivitas tercatat sebesar Rp 127,05 juta per tenaga kerja sebelum akhirnya turun -5,71% pada 2017.
Dalam satu dekade terakhir, pertumbuhan produktivitas tertinggi tercatat pada 2020 yang mencapai 6,59%, dengan nilai produktivitas tenaga kerja pada angka Rp 126,41 juta. Pascapandemi pada 2021, angka pertumbuhan produktivitas masih terkontraksi pada angka -3,31%. Namun demikian, sektor manufaktur nasional membuktikan daya tahannya dengan terus mencetak pertumbuhan positif secara berturut-turut setelahnya.
Pada tahun 2022 tercatat produktivitas manufaktur tumbuh 2,28% dan berlanjut 3,72% pada tahun 2023. Puncaknya terlihat pada tahun 2025, di mana tingkat produktivitas memecahkan rekor tertingginya pada Rp 135,78 juta per tenaga kerja atau tumbuh 3,75%.
Dalam upaya merealisasikan target pada 2029, Kemenperin salah satunya berupaya meningkatkan kualitas pekerja melalui revitalisasi pendidikan vokasi. Konsep link and match serta dual system diterapkan secara ketat pada 13 perguruan tinggi, 9 SMK, dan 7 Balai Diklat agar keterampilan lulusan, seperti kompetensi digital, analisis data, hingga otomasi didorong agar benar-benar selaras dengan kebutuhan dunia industri.
Daya tarik program vokasi di mata masyarakat tercatat terus meningkat. Data Kemenperin menunjukkan adanya lonjakan jumlah pendaftar yang signifikan dari 38,09 ribu orang di tahun 2023 menjadi 100,99 ribu orang pada tahun 2024 di sekolah-sekolah vokasi di bawah Kemenperin. Antusiasme tersebut bahkan terus berlanjut hingga memecahkan rekor dengan menembus 101,4 ribu pendaftar pada tahun 2026.
Tingginya antusiasme tersebut diimbangi dengan sebaran peserta didik aktif yang cukup merata di berbagai wilayah strategis. Saat ini, konsentrasi jumlah peserta didik terbanyak berada di Provinsi Jawa Barat dengan 4.188 orang, disusul oleh Sumatera Barat (3.606 orang), DKI Jakarta (3.201 orang), serta Sulawesi Selatan (3.165 orang).
Tidak berhenti hanya pada antusiasme menjadi peserta didik, bekal kurikulum pendidikan vokasi mencetak SDM yang siap terjun ke dunia kerja. Berdasarkan data serapan tenaga kerja tahun 2025-2026, mayoritas lulusan, yakni sebanyak 3.444 orang, telah berhasil diserap untuk langsung bekerja di berbagai lini industri. Selain itu, terdapat 785 orang yang berkomitmen untuk melanjutkan studi dan 176 orang lainnya terjun menjadi wirausaha.
Target pemerintah untuk mendongkrak produktivitas manufaktur nasional bukanlah target yang mustahil dicapai, terutama dengan melihat tren positif yang ada saat ini. Keberhasilan di sektor manufaktur tidak hanya bertumpu pada modernisasi mesin produksi semata, tetapi juga bergantung pada SDM yang kompeten.
Tingginya antusiasme masyarakat dan kuatnya daya serap lulusan dari lembaga vokasi Kemenperin menjadi bekal menghasilkan sumber daya yang berkualitas. Ditambah dengan sinergi yang tepat dari tenaga kerja tersertifikasi dan juga adopsi teknologi tinggi, pertumbuhan industri pengolahan diharapkan dapat mendorong produktivitas nasional lebih tinggi.