Kebijakan penyesuaian harga energi selalu menjadi isu sensitif karena membawa efek domino yang beruntun terhadap biaya logistik dan distribusi nasional. Ketika biaya transportasi melambung, harga barang-barang kebutuhan pokok di pasar dipastikan ikut terkerek naik, memicu tekanan inflasi pada berbagai komoditas lainnya.
Situasi tersebut patut diantisipasi secara serius, mengingat penurunan kemampuan belanja riil masyarakat berisiko menahan laju pertumbuhan ekonomi domestik yang selama ini ditopang kuat oleh konsumsi rumah tangga.
Pergerakan inflasi dan daya beli masyarakat tercermin pada tren Indeks Penjualan Riil (IPR) Bank Indonesia. Data menunjukkan terjadi pola penurunan hingga prediksi di bulan Mei 2026. Penurunan terjadi pasca-pola musiman di bulan Maret, yaitu konsumsi yang meningkat saat momen perayaan Lebaran. IPR tercatat mengalami penurunan di level 226,9 di bulan April hingga Mei diprediksi menurun 225 dari titik lonjakan di level 256,7 di bulan Maret.
Pola musiman menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat selalu mencapai puncaknya pada momen perayaan Lebaran. Pada Maret 2025, IPR melonjak tajam ke angka 248,3 seiring dengan persiapan Idul Fitri, sebelum kemudian melandai pada bulan-bulan berikutnya.
Pola serupa yang bahkan lebih tinggi berulang pada Maret 2026, di mana IPR mencatatkan rekor tertinggi di level 256,7. Lonjakan konsumsi ini dibarengi oleh tekanan inflasi yang signifikan, di mana tingkat inflasi merangkak naik sejak akhir tahun 2025 dan memuncak pada Februari 2026 di level 4,76%. Hal tersebut menggambarkan ketatnya tekanan harga di tingkat konsumen sebelum akhirnya melandai ke angka 3,08% pada Mei 2026.
Apabila dibedah lebih mendalam berdasarkan kelompok komoditasnya, dinamika penjualan riil memperlihatkan performa yang bervariasi antar-sektor. Kelompok Makanan, Minuman, & Tembakau secara konsisten menjadi penopang utama indeks dengan volume penjualan tertinggi. Kelompok tersebut selalu tembus angka di atas 300, bahkan menyentuh rekor tertinggi sebesar 367,2 pada Maret 2026.
Sebaliknya, kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi terlihat dalam tren penurunan dalam satu tahun terakhir. Indeks kelompok tersebut terus merosot dari posisi 102,4 pada Januari 2025 hingga ke level yang cukup rendah sebesar 69,5 pada Mei 2026. Penurunan tersebut berlangsung di tengah ketidakpastian ekonomi, di mana masyarakat cenderung menunda pembelian barang-barang sekunder dan tersier (seperti gadget dan elektronik).
Di sisi lain, terdapat kelompok komoditas yang bergerak fluktuatif namun cenderung stabil, serta kelompok yang merespons langsung isu energi. Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor secara umum bergerak stabil pada kisaran indeks 103 hingga 117 sepanjang tahun 2025, dan sedikit melandai ke area 104,2 pada Mei 2026. Landainya tren diprediksi hingga Mei 2026 karena sifatnya sebagai kebutuhan dasar mobilitas yang tidak mudah disubstitusi.
Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya serta Barang Budaya dan Rekreasi menunjukkan pergerakan yang cenderung konstan masing-masing di kisaran angka 80-an dan 60-an. Hal itu mencerminkan permintaan domestik pada sektor hiburan dan rumah tangga yang masih terjaga dalam batas wajar tanpa adanya lonjakan atau kejatuhan yang ekstrem.
Tren IPR menjadi peringatan dini akan potensi dari dampak kenaikan BBM ke depan. Mengingat kelompok sandang dan komoditas pendukung lainnya masih sangat rentan terhadap fluktuasi harga, intervensi kebijakan yang tepat sasaran berupa subsidi atau insentif daya beli sangat diperlukan.
Jika tekanan inflasi dari sektor energi tidak diredam dengan baik, dikhawatirkan tren penurunan pada kelompok barang nonprimer akan semakin menguat dan mengancam stabilitas kelompok pangan utama. Pada akhirnya, penurunan daya beli dapat memicu kelesuan ekonomi yang lebih dalam pada semester kedua tahun ini.