Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan neraca perdagangan luar negeri di bulan April 2026 ini merosot tajam, baik dibandingkan dengan bulan sebelumnya maupun periode yang sama di tahun lalu. Menyusutnya angka neraca perdagangan luar negeri menjadi gambaran perekonomian domestik yang mengalami tekanan. Dampak eskalasi konflik Timur Tengah menyebabkan aktivitas perdagangan internasional mengalami kontraksi di awal kuartal kedua.
Secara nominal, neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 tercatat surplus sebesar 89,1 juta dolar AS. Jika ditelisik lebih mendalam, angka surplus ini mengalami penurunan yang tajam hingga -97,32% secara month-to-month (m-t-m) dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 3.321,0 juta dolar AS.
Tidak hanya itu, performa neraca perdagangan ini juga tercatat melemah secara year-on-year (y-o-y) sebesar -43,89% jika dibandingkan dengan surplus April 2025 yang berada di angka 158,8 juta dolar AS. Meskipun posisi Indonesia masih berada di zona aman (surplus), margin yang sangat tipis ini mengindikasikan adanya tekanan dalam lalu lintas pembayaran perdagangan.
Penyebab utama dari tergerusnya surplus ini adalah laju pertumbuhan impor yang melesat melampaui pertumbuhan ekspor. Nilai ekspor Indonesia pada April 2026 sebenarnya mencatatkan performa yang impresif dengan membukukan nilai 25.302,8 juta dolar AS, naik 12,32% dibandingkan Maret 2026 (m-t-m) dan tumbuh pesat 21,98% dibandingkan April 2025 (y-o-y).
Akan tetapi, kinerja impor melompat lebih agresif hingga menyentuh angka 25.213,7 juta dolar AS. Tingkat pertumbuhan impor bulanan melesat hingga 31,28% (m-t-m) dari bulan sebelumnya yang hanya sebesar 19.205,8 juta dolar AS, serta meningkat 22,49% secara tahunan (y-o-y) dari posisi 20.585,0 juta dolar AS pada April tahun lalu.
Melihat lebih mendalam pada sektor minyak dan gas bumi (migas), sektor ini menjadi faktor utama pelebaran defisit neraca perdagangan yang menekan surplus total. Ekspor migas terpantau melemah dengan penurunan sebesar 9,81% secara bulanan (m-t-m) menjadi 1.155,30 juta dolar AS, dan terkontraksi tipis 1,20% secara tahunan (y-o-y).
Sebaliknya, impor migas justru mengalami peningkatan. Nilai impor melonjak hingga 45,09% secara m-t-m menjadi 4.598,60 juta dolar AS dibandingkan bulan Maret sebesar 3.169,50 juta dolar AS. Secara tahunan, lonjakan impor migas bahkan mencatatkan angka sebesar 82,52% (y-o-y), yang secara otomatis memperlebar defisit neraca migas menjadi 3.443,30 juta pada bulan April ini.
Di sisi lain, sektor nonmigas sebenarnya tetap menjadi penyokong perdagangan Indonesia. Ekspor nonmigas berhasil tumbuh 13,66% secara bulanan (m-t-m) menjadi 24.147,50 juta dolar AS dan melesat 23,36% secara tahunan (y-o-y) dibandingkan April 2025 yang bernilai 19.574,50 juta Dolar AS.
Meski demikian, pertumbuhan ekspor nonmigas ini juga diikuti oleh kenaikan impor nonmigas sebesar 28,55% secara bulanan menjadi 20.615,10 juta dolar AS, dan tumbuh 14,11% secara tahunan. Secara keseluruhan, sektor nonmigas masih mampu menyumbang sebesar 3.532,40 juta, yang hampir seluruhnya habis terserap untuk menutupi pembengkakan defisit sektor migas yang terjadi pada bulan April.