Program baru yang berada di bawah payung Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA), yaitu Katalis 2.0 diresmikan langsung oleh Wakil Menteri Perdagangan Indonesia Dyah Roro Esti Widya Putri, bersama Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia Matt Thistlethwaite.
Didanai oleh pemerintah Australia, program strategis ini dirancang sebagai jembatan bagi tiga pilar yang melibatkan kolaborasi praktis antara pemerintah, pelaku industri, dan lembaga ekonomi untuk memperkuat daya saing yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Peluncuran fase kedua ini momentumnya sangat tepat waktu jika melihat tren kinerja perdagangan bilateral kedua negara yang dinamis yang menunjukkan peningkatan volume yang signifikan. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, total nilai perdagangan Indonesia-Australia sempat mencapai puncaknya pada tahun 2024 dengan angka 15.413,5 juta dolar AS, sebelum mengalami koreksi menjadi 13.092,3 juta dolar AS pada tahun 2025.
Performa ekspor Indonesia ke Australia pun mencatat pola serupa, di mana capaian tertinggi berada pada tahun 2024 sebesar 4.966,8 juta dolar AS lalu turun menjadi 3.733,5 juta dolar AS di tahun 2025. Penurunan nilai perdagangan di tahun 2025 inilah yang menjadi salah satu latar belakang penting mengapa program akselerasi seperti Katalis 2.0 sangat dibutuhkan untuk menggairahkan kembali aktivitas pasar kedua negara.
Memasuki periode berjalan tahun 2026, sinyal kebangkitan aktivitas ekonomi dua arah mulai terlihat kuat, khususnya dari sisi ekspansi pasar domestik. Pada periode Januari–Mei 2026, total perdagangan kedua negara melesat hingga 6.798,7 juta dolar AS, tumbuh signifikan sebesar 32% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Januari–Mei 2025) yang hanya sebesar 5.150,0 juta dolar AS.
Pertumbuhan di periode Januari-Mei 2026 didorong oleh lonjakan impor Indonesia dari Australia yang naik tajam sekitar 48,5%, dari 3.631,6 juta dolar AS menjadi 5.391,9 juta dolar AS. Di sisi lain, nilai ekspor Indonesia justru terkoreksi tipis sebesar 7,3% menjadi 1.406,8 juta dolar AS, yang berimplikasi pada melebarnya defisit neraca perdagangan Indonesia menjadi -3.985,1 juta dolar AS.
Melihat kinerja perdagangan sepanjang lima tahun terakhir hingga paruh pertama 2026 ini menegaskan urgensi bagi Katalis 2.0. Terutama untuk memperluas akses pasar serta mendongkrak daya saing ekspor produk nasional agar performa perdagangan menjadi lebih seimbang.
Berdasarkan komoditas transaksi, perdagangan kedua negara didominasi oleh produk-produk strategis yang saling melengkapi kebutuhan industri masing-masing.
Di sisi impor, Indonesia sangat bergantung pada pasokan komoditas utama dari Australia seperti gandum-ganduman yang mencapai 603,3 juta dolar AS pada Januari–Mei 2026, bahan bakar mineral, serta bijih, kerak, dan abu logam. Menariknya, impor untuk kelompok perhiasan/permata mencatat angka yang sangat tinggi pada lima bulan pertama 2026, yakni mencapai 1.496,90 juta dolar AS.
Sementara itu, struktur ekspor unggulan Indonesia ke Australia ditopang kuat oleh sektor manufaktur bernilai tambah tinggi, yang dipimpin oleh mesin/peralatan listrik (104,1 juta dolar AS), mesin-mesin/pesawat mekanik (91,8 juta dolar AS), alas kaki (82,2 juta dolar AS), serta benda-benda dari besi, baja, dan bahan kimia anorganik.
Hadirnya program Katalis 2.0 diproyeksikan mampu mengoptimalkan nilai perdagangan dari komoditas-komoditas unggulan tersebut sekaligus membuka potensi ekonomi baru dan menguatkan yang telah terjalin. Melalui perluasan pasar, mobilisasi investasi, dan penguatan institusi regulasi, program ini berkomitmen menghapus hambatan perdagangan agar pelaku usaha kecil hingga besar dapat ikut serta memanfaatkan IA-CEPA.