Dihadiri langsung oleh Menteri Luar Negeri Republik Sosialis Vietnam Lê Hoài Trung dan Menteri Luar Negeri RI Sugiono, kedua pihak sepakat untuk mendorong pencapaian total nilai perdagangan bilateral hingga mencapai Rp 324 triliun atau setara dengan 18 miliar dolar AS.
Guna merealisasikan target tersebut, kedua negara berkomitmen untuk menindaklanjuti seluruh perjanjian kerja sama strategis serta nota kesepahaman (MoU) yang telah disepakati sebelumnya, memastikan implikasi nyata yang menguntungkan bagi pelaku dunia usaha dan kesejahteraan masyarakat kedua negara.
Komitmen tinggi antardua negara tersebut turut didukung performa positif yang ditunjukkan oleh tren transaksi perdagangan bilateral Indonesia-Vietnam dalam lima tahun terakhir. Tren perdagangan kedua negara memperlihatkan dinamika pertumbuhan yang positif bagi Indonesia.
Berdasarkan data historis, total perdagangan kedua negara mengalami lonjakan signifikan pada tahun 2024, yakni tumbuh 23,8% secara tahunan (year-on-year/y-o-y) dengan nilai menembus 15,99 miliar dolar AS. Tren ekspansif ini berlanjut pada tahun 2025 dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,8% (y-o-y) menjadi 16,76 miliar dolar AS, didorong oleh performa ekspor Indonesia yang melesat hingga 11,7% (y-o-y) menjadi 10,61 miliar dolar AS.
Optimisme pencapaian target semakin diperkuat oleh data performa mutakhir periode Januari-Mei 2026 yang membukukan nilai total transaksi sebesar 7,44 miliar dolar AS, melonjak sebesar 7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar 6,96 miliar dolar AS.
Pertumbuhan yang solid ini ditopang oleh dominasi beberapa komoditas unggulan ekspor Indonesia ke Vietnam yang mencatatkan pertumbuhan performa yang bervariasi. Komoditas bahan bakar mineral tetap menjadi andalan utama ekspor Indonesia ke Vietnam dengan nilai mencapai 1,75 miliar dolar AS pada tahun 2025 dan telah membukukan 1,03 miliar dolar AS pada lima bulan pertama tahun 2026.
Di sisi lain, komoditas besi dan baja menunjukkan performa positif dengan pertumbuhan 30,9% (y-o-y) pada tahun 2025 hingga mencapai nilai 1,63 miliar dolar AS, disusul oleh sektor kendaraan dan bagiannya sebesar 1,47 miliar dolar AS. Pertumbuhan tertinggi pada tahun 2025 dicatatkan oleh mesin dan peralatan listrik yang meroket hingga 61,1% menjadi 608,1 juta dolar AS, serta komoditas lemak dan minyak hewan/nabati yang tumbuh 29,5% dengan nilai mencapai 856,7 juta dolar AS.
Sebaliknya, struktur impor komoditas unggulan dari Vietnam ke Indonesia juga mencerminkan dinamika industrialisasi yang saling melengkapi di kawasan regional. Sektor mesin dan peralatan listrik menjadi komoditas impor terbesar dengan nilai konstan yang kuat, mencapai 881,4 juta dolar AS pada tahun 2025 dan 440,3 juta dolar AS pada periode Januari-Mei 2026.
Lonjakan impor paling spektakuler terjadi pada komoditas kendaraan dan bagiannya yang mencapai hingga 153% secara tahunan pada tahun 2025 dengan nilai 661,8 juta dolar AS. Tahun sebelumnya tercatat hanya sebesar 261,6 juta dolar AS.
Selain itu, impor plastik dan barang dari plastik menyumbang nilai sebesar 443,8 juta dolar AS, diikuti oleh mesin-mesin/pesawat mekanik sebesar 421,2 juta dolar AS, serta industri alas kaki yang terus tumbuh konsisten sebesar 19,3% menjadi 399,6 juta dolar AS pada tahun 2025.
Melihat data historis dan momentum JCBC ke-6 ini, target perdagangan sebesar 18 miliar dolar AS berpotensi dapat dicapai dalam waktu dekat. Rekam jejak pertumbuhan yang terus konsisten berjalan positif dalam dua tahun terakhir menunjukkan bahwa integrasi rantai pasok industri antara Jakarta dan Hanoi berjalan adaptif dan saling melengkapi.
Implementasi dari seluruh dokumen kerja sama dan MoU pascapertemuan JCBC diproyeksikan akan memangkas hambatan perdagangan non-tarif secara signifikan serta membuka jalan baru bagi kolaborasi investasi di sektor teknologi tinggi dan otomotif. Dengan sinergi bilateral yang kian solid dan terjaganya laju pertumbuhan di atas rata-rata kawasan, target perdagangan Rp 324 triliun atau setara 18 miliar dolar AS bukan tidak mungkin bisa tercapai.