Industri AC Nasional di Tengah Siklus Musim Kemarau yang Kian Memanas

Puncak musim kemarau yang berlangsung pada periode Juli hingga Agustus 2026 membawa angin segar bagi penjualan produk pendingin ruangan (AC) di Indonesia. Gabungan Industri Elektronika dan Alat Listrik Rumah Tangga (Gabel) memprediksi terjadinya lonjakan penjualan. 

Industri AC Nasional di Tengah Siklus Musim Kemarau yang Kian Memanas

Siklus musiman kemarau yang saat ini diprediksi menjadi kemarau terpanas dibarengi dengan siklus El Nino kuat mendorong masyarakat untuk beradaptasi. Salah satu upaya yang diminati masyarakat adalah menggunakan pendingin ruangan atau air conditioner (AC) di tingkat rumah tangga. 

Sekretaris Jenderal Gabel Daniel Suhardiman menyatakan bahwa fenomena ini merupakan siklus musiman tahunan yang wajar terjadi di tanah air dan bukan semata-mata dampak instan dari cuaca ekstrem atau El Nino (Kontan, 9/7/2026). Menariknya, fenomena ini juga dibarengi dengan kenaikan penjualan AC. Harga jual AC pun meningkat berkisar 5-10% yang dipicu oleh tekanan makroekonomi eksternal.

Peningkatan permintaan AC ini sejalan dengan tren historis kapasitas produksi dan konsumsi domestik dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data yang disampaikan Ditjen ILMATE Kementerian Perindustrian dan Gabel, permintaan AC di Indonesia terus merangkak naik. 

Pada tahun 2021, permintaan tercatat sebesar 2,8 juta unit dan melonjak signifikan hingga 5,0 juta unit pada tahun 2025. Tren ini diimbangi oleh kapasitas produksi domestik yang tumbuh agresif dari 1,3 juta unit pada 2021 menjadi 5,3 juta unit pada tahun 2025. Angka tersebut mencerminkan komitmen industri dalam negeri untuk menekan ketergantungan impor dan mengamankan pasokan pasar lokal secara berkelanjutan.

Kondisi pasar yang menjanjikan ini diperebutkan oleh sejumlah merek global dan lokal dengan peta persaingan yang kompetitif. Merujuk pada publikasi MarketHac tahun 2025, Sharp berhasil mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin pasar AC terdepan di Indonesia dengan raihan pangsa pasar sebesar 17,6%. 

Posisi dilanjutkan oleh merek asal Jepang dan Tiongkok. Daikin dengan pangsa pasar 14,6% dan Gree sebesar 14,5%. Selanjutnya, brand elektronik global seperti Midea menguasai 10,7%, disusul oleh LG sebesar 7,22%, Aqua dengan 5,84%, serta Panasonic yang menduduki 5,25%. 

Meski pasar terlihat bergairah, pelaku industri home appliances saat ini sebenarnya sedang dihadang oleh rentetan tantangan yang berat di sepanjang rantai produksi dan penjualan. Faktor pelemahan nilai tukar rupiah serta lonjakan harga komoditas logam global seperti tembaga dan aluminium menjadi pemicu utama melambungnya harga bahan baku pembuatan komponen AC. 

Masalah kian pelik akibat rantai pasok global yang terganggu oleh isu kelangkaan komponen chip semikonduktor serta kenaikan harga minyak yang mengerek biaya produksi. Di sisi hilir, produsen juga harus berhadapan dengan melemahnya daya beli masyarakat di tengah kompetisi pasar yang ketat, yang memaksa sejumlah produsen seperti merek Polytron dan Sharp menyesuaikan harga jual produk mereka demi menjaga kelangsungan bisnis.

Namun demikian, cuaca panas yang ekstrem dan tingginya minat masyarakat tidak serta-merta mendongkrak keuntungan bersih para produsen. Konsumen modern kini semakin selektif dengan mempertimbangkan banyak variabel eksternal mulai dari tarif listrik, kualitas produk, garansi layanan purna jual, hingga program promosi. 

Menghadapi dilema momentum musiman dengan adanya tantangan rantai produksi komoditas tersebut, para produsen dipaksa menerapkan strategi adaptasi yang kreatif dan efisien. Sharp dan Polytron, misalnya, memilih fokus pada efisiensi rantai pasok yang ketat serta merampingkan lini produk yang kurang laku demi menghemat pengeluaran. Sebaliknya, Modena memilih jalur inovasi dengan mengembangkan modul printed circuit board (PCB) semikonduktor mandiri dengan biaya yang lebih terjangkau guna mengatasi kelangkaan chip global tanpa harus menaikkan harga jual ke konsumen.

Author

Baca selengkapnya