Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume impor gula mentah (raw sugar) selalu berada pada level tinggi, yakni mencapai 6.007,6 ribu ton pada tahun 2022, lalu bergerak di kisaran 5.069,46 ribu ton pada 2023, dan 5.313,53 ribu ton pada 2024.
Meskipun sempat melandai ke angka 3.927,96 ribu ton di tahun 2025, angka tersebut tetap timpang jauh jika dibandingkan dengan volume ekspor. Tercatat ekspor gula Indonesia yang terus menyusut. Pada tahun 2022 angkanya 404,07 ribu ton, namun pada 2025 menjadi 89,31 ribu ton. Data sementara 2026 selama periode Januari-April baru tercatat 27,35 ribu ton.
Tingginya angka impor ini disebabkan oleh belum optimalnya pemanfaatan kapasitas pabrik gula dalam negeri yang baru terserap sekitar 60%. Hal ini memicu kenaikan harga di pasar domestik sebesar 4,23% per tahun searah dengan pergerakan harga gula putih global. Kondisi ini serta memberi risiko tersendiri bagi stabilitas pendapatan petani lokal.
Dari bagian hulu, tulang punggung dari peningkatan volume produksi gula nasional secara konsisten ditopang oleh sektor perkebunan rakyat (PR). Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan, dari total produksi gula nasional, perkebunan rakyat secara menyumbang volume terbesar dibandingkan dengan status perusahaan lainnya. Pada tahun 2024, produksi gula dari perkebunan rakyat berjumlah 1.613.023 ton dari total produksi nasional sebesar 2.465.515 ton.
Posisi kedua ditempati oleh produksi dari perkebunan besar swasta (PBS) sebesar 609.613 ton, diikuti oleh perkebunan besar negara (PBN) sebesar 242.879 ton. Meskipun menjadi penyumbang terbesar, perkebunan tebu rakyat sempat menghadapi tantangan berat berupa penurunan luas lahan tebu akibat alih fungsi lahan oleh para petani ke komoditas lain yang dinilai lebih menjanjikan secara ekonomi, seperti cabai rawit, bawang merah, padi, dan jagung.
Meski masih tergantung impor, tren pemulihan produksi gula Indonesia belakangan ini mulai menunjukkan perbaikan dalam mendorong keberlanjutan industri. Laporan terbaru dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menempatkan Indonesia pada peringkat ke-13 dalam peta produksi gula global dengan kontribusi sebesar 1,5% dari total produksi dunia, atau setara dengan 2,7 juta metrik ton pada Tahun Pemasaran (Marketing Year) 2025.
Lonjakan pertumbuhan produksi dari tahun ke tahun (Year over Year) sebesar 13%, meningkat dari 2,4 juta metrik ton pada periode 2024/2025 menjadi 2,7 juta metrik ton pada periode 2025/2026. Ditambah dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) selama 10 tahun terakhir yang konsisten di angka 3%. Peningkatan produksi menjadi modal serta indikasi awal yang baik bahwa revitalisasi industri gula nasional mulai bergerak untuk mengurangi ketergantungan impor.