Artikel ini merupakan opini dari Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) dan Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) FEB UI Mohamad Ikhsan
Bila anda tertarik untuk menjadi kontributor opini, silakan mendaftarkan diri anda dengan kirim email ke [email protected]
Pasar Bukan Milik Kapitalis
Membaca Ulang Adam Smith dan Keynes untuk Memahami Asimetri Suara di Pasar
Saya sering bertemu teman, mahasiswa, dan pembaca yang menyampaikan keberatan yang sama setiap kali ada perdebatan tentang kebijakan ekonomi di negeri ini: “Kenapa kita harus mendengarkan pasar? Pasar itu kan cuma kapitalis dan pengusaha besar.”
Kalimat ini terdengar sederhana. Tapi ia mengandung mispersepsi yang serius — dan kalau dibiarkan tumbuh menjadi premis kebijakan, bisa membawa kita kembali ke kesalahan-kesalahan yang sudah pernah kita bayar mahal. Catatan ini adalah upaya saya untuk menjawabnya.
Membaca kembali invisible hand Adam Smith
Sebelum menjawab keberatan tentang “pasar = kapitalis”, ada baiknya kita kembali ke sumbernya. Adam Smith memperkenalkan frasa invisible hand pada 1776 dalam An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations. Sayangnya, frasa ini lebih sering dikutip daripada dipahami. Banyak yang mengira Adam Smith sedang membela kapitalis dan keserakahan modal besar. Tidak. Yang sebenarnya digambarkan Smith adalah sesuatu yang jauh lebih demokratis dan lebih luas.
Sebagaimana dijelaskan dengan jernih oleh tim CORE Econ dalam pengantar mereka, The Economy 2.0: Microeconomics, pertanyaan inti yang diajukan Smith pada 1776 adalah: bagaimana masyarakat dapat mengoordinasikan aktivitas independen sejumlah besar pelaku ekonomi — produsen, pengangkut, penjual, konsumen — yang sering tidak saling mengenal dan tersebar luas di seluruh dunia? Pertanyaan ini sejak awal bukan tentang bagaimana melindungi kapitalis. Ia mengajukan pertanyaan tentang bagaimana koordinasi tanpa komando pusat dapat terjadi di antara jutaan pelaku biasa.
Jawaban radikal Smith adalah bahwa koordinasi semacam itu bisa muncul secara spontan, tanpa ada satu pun individu atau institusi yang sengaja menciptakannya atau memeliharanya. Tukang roti membuat roti bukan karena ingin memberi makan kota, melainkan untuk mencari nafkah. Pemintal kain memintal bukan karena cinta kemanusiaan, melainkan karena butuh penghasilan. Kalimat Smith yang terkenal: “It is not from the benevolence of the butcher, the brewer, or the baker that we expect our dinner, but from their regard to their own interest” (Wealth of Nations, Buku I, Bab II). Tetapi dari jutaan keputusan kecil yang dipandu oleh kepentingan diri itulah terbentuk sebuah ekonomi.
Metafora invisible hand sendiri muncul pada Buku IV, Bab II. Smith menulis: “…he intends only his own gain, and he is in this, as in many other cases, led by an invisible hand to promote an end which was no part of his intention. Nor is it always the worst for society that it was no part of it. By pursuing his own interest, he frequently promotes that of the society more effectually than when he really intends to promote it.” Inilah kalimat yang melahirkan salah satu konsep paling abadi dalam sejarah ekonomi.
Yang penting dipahami: invisible hand bukan tangan kapitalis. Ia adalah tangan kolektif jutaan pelaku — tukang roti, pemintal, petani, pedagang, ibu rumah tangga, pekerja. Smith justru sangat skeptis terhadap konglomerat dan persekongkolan para pengusaha besar. Dalam buku yang sama (Buku I, Bab X), Smith menulis: “People of the same trade seldom meet together, even for merriment and diversion, but the conversation ends in a conspiracy against the public, or in some contrivance to raise prices.” Lebih jauh lagi, ia menyerang secara spesifik monopoli yang dilindungi oleh pemerintah, seperti British East India Company yang pada saat itu tidak hanya menguasai perdagangan dengan India, tetapi juga mengelola sebagian besar koloni Inggris di sana. Smith adalah kritikus monopoli — terutama monopoli yang berlindung di balik kekuasaan negara — bukan pembela monopoli.

Satu hal lagi yang sering luput dari pembaca modern: Smith bukan apologis materialisme tanpa moral. Tujuh belas tahun sebelum The Wealth of Nations, ia telah menerbitkan The Theory of Moral Sentiments (1759), sebuah buku tentang perilaku etis dan simpati antarmanusia. Bagi Smith, manusia bukan sekadar mesin pencari keuntungan; manusia juga memiliki kapasitas moral dan kepedulian terhadap sesama. Invisible hand bekerja, menurut Smith, di dalam masyarakat yang masih dibingkai oleh moralitas, simpati, dan keadilan — bukan di dalam ruang hampa moral. Membaca Smith tanpa memperhitungkan The Theory of Moral Sentiments adalah membaca Smith dengan satu mata tertutup.
Penggerak invisible hand adalah sistem insentif
Ada satu klarifikasi teknis yang penting di sini. Invisible hand bukan mistik. Ia bukan kekuatan supranatural yang secara ajaib mengatur ekonomi. Penggerak invisible hand adalah sesuatu yang sangat konkret: sistem insentif yang dihadapi para pelaku ekonomi.
Ketika harga gabah naik, petani terdorong untuk menanam lebih banyak — bukan karena cinta tanah air, melainkan karena insentif harga. Ketika permintaan suatu produk meningkat, pengusaha terdorong untuk memproduksi lebih banyak — bukan karena dorongan moral, melainkan karena insentif keuntungan. Ketika kelangkaan terjadi, harga naik dan konsumsi otomatis terkendali — bukan karena ada yang memerintahkan, melainkan karena insentif harga menyampaikan informasi kelangkaan kepada jutaan pelaku sekaligus. Inilah mekanisme yang sebenarnya bekerja di balik metafora Smith.
Implikasinya tegas: kalau sistem insentifnya salah, outcome-nya akan salah. Subsidi yang tidak tepat sasaran mendistorsi insentif bagi para petani. Proteksi yang berlebihan mendistorsi insentif produsen. Bunga yang ditekan secara artifisial mendistorsi insentif bagi para penabung dan investor. Penjaminan kredit yang tidak prudent mendistorsi insentif perbankan. Dalam semua kasus ini, invisible hand tetap bekerja — tetapi ia menuntun pelaku ke arah yang tidak diinginkan, karena sinyal yang mereka terima sudah keliru sejak awal.
Karena itu, tugas pembuat kebijakan bukan menggantikan invisible hand dengan visible hand pemerintah, melainkan memastikan bahwa sistem insentif yang dihadapi pelaku ekonomi mengarahkan mereka pada outcome yang baik bagi masyarakat secara keseluruhan. Itu adalah pekerjaan yang sulit, teknis, dan menuntut kerendahan hati — bukan pekerjaan retorika.
Tetapi kita juga tidak bisa naïf terhadap invisible hand
Setelah memuji kejernihan analisis Smith, kita perlu jujur tentang batas-batasnya. Invisible hand bukan resep ajaib yang selalu menghasilkan outcome yang optimal. Ia hanya bekerja dengan baik dalam kondisi tertentu — dan kondisi itu sering kali tidak terpenuhi di dunia nyata.
Ada setidaknya tiga problem mendasar yang harus dipikirkan sekaligus:
• Pertama, problem konsentrasi (abuse of power). Ketika sumber daya — modal, informasi, akses pasar — terkumpul di tangan segelintir pelaku, invisible hand tidak lagi menghasilkan outcome yang baik. Yang muncul adalah abuse of power: monopoli, oligopoli, kartel, dan persekongkolan harga. Inilah yang Smith sendiri khawatirkan ketika ia mengkritik “people of the same trade” yang berkumpul untuk melakukan konspirasi melawan publik, dan ketika ia menyerang monopoli yang dilindungi negara seperti British East India Company.
• Kedua, problem independensi (coordination failure). Pada ekstrem yang berlawanan, ketika pelaku-pelaku ekonomi benar-benar independen dan tidak terkoordinasi, masalah lain muncul: kegagalan koordinasi. Investasi infrastruktur yang membutuhkan skala besar tidak dapat dilakukan. Riset dasar tidak dibiayai. Penyediaan barang publik gagal. Eksternalitas — polusi, kerusakan lingkungan, krisis kesehatan — tidak terinternalisasi. Pasar yang sepenuhnya bebas dari koordinasi sering menghasilkan outcome di mana setiap pelaku rasional, tetapi outcome agregatnya irasional.
• Ketiga, problem solusi negara (government failure). Karena dua problem di atas, negara hadir sebagai solusi: untuk mencegah konsentrasi melalui regulasi antitrust dan untuk mengoordinasikan ketika pasar gagal melalui kebijakan publik. Namun, negara sendiri juga tidak lepas dari masalah. Government failure adalah problem nyata: korupsi, rent-seeking, regulatory capture, ketidakmampuan teknis, dan — yang paling berbahaya — penggunaan instrumen negara untuk kepentingan politik jangka pendek. Negara bisa menjadi solusi, tetapi juga bisa menjadi sumber distorsi baru.
Inilah trilemma political economy yang harus dihadapi oleh setiap masyarakat: terlalu banyak konsentrasi pasar menghasilkan abuse of power; terlalu sedikit koordinasi menghasilkan coordination failure; dan negara yang hadir untuk menyelesaikan keduanya menghadapi government failure-nya sendiri. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada solusi yang sempurna. Yang ada hanyalah serangkaian trade-off yang harus dikelola dengan disiplin, kelembagaan yang kuat, dan kerendahan hati intelektual.
Membaca Smith dengan dewasa — tidak naïf — adalah memahami bahwa invisible hand adalah sebuah wawasan yang luar biasa, tetapi bukan jawaban akhir. Ia adalah titik awal pemikiran, bukan kesimpulan.
Lalu siapa sebenarnya pelaku pasar?
Dengan kerangka Smith ini, mari kita mengidentifikasi siapa pelaku pasar dalam keseharian kita. Ibu rumah tangga di Cianjur yang menunda membeli kulkas karena harganya naik — itu pelaku pasar. Petani di Sragen yang memilih menyimpan gabah karena menunggu harga membaik — itu pelaku pasar. Pedagang kelontong di Manggarai yang menaikkan harga indomie sepuluh persen — itu pelaku pasar. Nelayan di Lampung yang memilih tidak melaut karena harga solar tidak masuk dalam hitungan — itu pelaku pasar. Mereka semua, secara kolektif, adalah invisible hand yang dimaksudkan oleh Smith.
Termasuk juga BUMN, koperasi, UMKM, perusahaan menengah dan besar, hingga pemerintah sendiri saat menerbitkan obligasi atau membeli barang dan jasa. Pasar adalah agregat keputusan jutaan pelaku — sebagian besar dari mereka justru rakyat kebanyakan, bukan konglomerat.
Tapi Smith Tidak Bercerita Tentang Semuanya
Adam Smith berhenti di sini, dan untuk zamannya ia sudah cukup revolusioner. Tapi gambaran invisible hand mengandaikan sesuatu yang tidak selalu benar: bahwa setiap pelaku memiliki kemampuan dan kanal yang setara untuk berpartisipasi dalam pasar. Padahal, kenyataannya tidak demikian.
Pasar memang suara kolektif jutaan pelaku, tetapi kanal penyampaian suaranya tidak setara. Inilah yang sering disebut sebagai asimetri suara pasar.
Lalu kenapa yang selalu terdengar hanya suara pasar modal dan pasar uang?
Jawabannya bukan karena pelakunya lebih penting, melainkan karena mereka bisa bersuara lebih cepat dan lebih keras. Investor, trader, dan analis di pasar keuangan punya tiga keunggulan: akses informasi real-time, kemampuan teknis untuk mengolahnya dengan cepat, dan infrastruktur untuk bertindak dalam hitungan detik.
Ketika nilai tukar rupiah melemah lima menit setelah pengumuman kebijakan, itu bukan reaksi “para spekulan” semata. Itu adalah agregat penilaian dari ribuan pelaku — termasuk manajer yang mengelola dana pensiun jutaan pekerja, bank yang menyimpan tabungan nasabah, dan perusahaan asuransi yang mengelola premi pemegang polis. Mereka sedang melakukan repricing.
Respons petani gabah terhadap perubahan harga pupuk juga merupakan respons pasar. Hanya saja, ia tidak terlihat selama 30 detik di layar Bloomberg. Ia baru muncul tiga bulan kemudian dalam data produksi dan harga pada tingkat penggilingan. Lambat, tapi sama nyatanya — dan dampaknya pada inflasi pangan justru sering jauh lebih besar bagi kesejahteraan rakyat dibanding fluktuasi IHSG dalam sehari.
Animal Spirits: Sisi Lain yang Adam Smith Belum Lihat
Kalau invisible hand Adam Smith menjelaskan keseimbangan rasional yang muncul dari pasar, John Maynard Keynes — satu setengah abad kemudian — memperkenalkan konsep yang melengkapi gambaran itu: animal spirits.
Dalam The General Theory (1936), Keynes menulis bahwa keputusan ekonomi — terutama keputusan investasi — tidak selalu didorong oleh kalkulasi rasional yang dingin. Ada elemen yang ia sebut sebagai animal spirits: dorongan spontan untuk bertindak, optimisme dan pesimisme yang menular, serta harapan dan ketakutan yang melampaui apa yang dapat dijelaskan oleh data. “Bagian besar dari aktivitas kita,” tulis Keynes, “bergantung pada optimisme spontan ketimbang pada ekspektasi matematis.”

Animal spirits inilah yang menjelaskan banyak fenomena yang Invisible hand tidak bisa jelaskan. Mengapa pasar bisa mengalami euforia berlebihan saat boom dan kepanikan berlebihan saat bust? Mengapa rumor bisa menggerakkan harga lebih kuat daripada data fundamental? Mengapa keputusan investasi sering bersifat herd — semua orang masuk bersama-sama, lalu semua orang keluar bersama-sama? Mengapa sebuah berita kecil bisa memicu reaksi besar dalam satu kondisi, tetapi reaksi kecil dalam kondisi lain?
Konsep animal spirits sempat lama dilupakan oleh arus utama ekonomi (mainstream economics) yang lebih nyaman dengan asumsi rasionalitas penuh. Namun, krisis keuangan global 2008 memaksa kita untuk meninjau kembali. Dua peraih Nobel Ekonomi, George Akerlof dan Robert Shiller, menerbitkan buku berjudul Animal Spirits (2009) yang menghidupkan kembali ide Keynes. Mereka berargumen bahwa krisis 2008 tidak bisa dipahami tanpa memperhitungkan lima elemen psikologis: kepercayaan (confidence), keadilan (fairness), korupsi dan iktikad buruk, ilusi uang (money illusion), dan kisah-kisah (stories) yang menyebar di masyarakat. Lima elemen ini tidak masuk ke dalam model rasional klasik, tetapi merekalah yang sering menjadi penggerak sebenarnya dari boom dan bust ekonomi.
Bagi pelaku pasar keuangan, animal spirits bekerja dalam hitungan menit. Sentimen berubah cepat, dan teknologi memungkinkan respons yang sama itu. Tapi bagi pelaku pasar lain — rumah tangga, petani, UMKM — animal spirits bekerja dengan ritme yang berbeda: lebih lambat, lebih dalam, dan ketika sudah berbalik, lebih sulit dipulihkan. Inilah yang membuat “kisah-kisah” yang beredar di masyarakat — narasi tentang masa depan ekonomi, tentang kepercayaan pada institusi, tentang siapa yang menang dan kalah dari suatu kebijakan — menjadi sangat penting. Kisah-kisah inilah yang membentuk animal spirits jangka panjang.
Asimetri Suara dan Bahaya Diamnya Mayoritas
Di sinilah letak persoalannya. Animal spirits pelaku pasar keuangan memiliki saluran ekspresi yang sangat efisien —melalui harga aset, kurs, dan yield obligasi. Animal spirits rumah tangga, petani, pekerja, dan UMKM tidak memiliki saluran yang sebanding.
Mereka hanya punya beberapa kanal terbatas untuk mengekspresikan ketidaksukaan terhadap suatu kebijakan: konsumsi yang turun (terdeteksi berbulan-bulan kemudian dalam data), migrasi tenaga kerja, demonstrasi, dan — yang paling kuat namun paling jarang — pemilu.
Di Indonesia, masyarakat baru bisa memberikan “suara ekonomi-politik” mereka secara penuh setiap 5 tahun sekali. Di Amerika Serikat, ada mekanisme berupa midterm election setiap dua tahun yang berfungsi sebagai katup tekanan: presiden dan partainya bisa membaca sinyal ketidaksukaan publik di tengah masa jabatan dan masih punya waktu untuk mengoreksi arah kebijakan. Indonesia tidak memiliki mekanisme seperti itu.
Akibatnya, ketika ada kebijakan yang merugikan mayoritas pelaku ekonomi non-keuangan, sinyalnya cenderung tertahan, terakumulasi diam-diam, lalu meledak — kadang dalam bentuk yang konstruktif (perubahan elektoral), kadang tidak (kerusuhan sosial, eksodus modal manusia, hilangnya kepercayaan terhadap institusi).
|
Pasar finansial kepanikan, tapi rakyat biasa-biasa saja, jadi
kebijakan kita sudah tepat — pernyataan seperti ini mengandung dua kesalahan
sekaligus. |
Pertama, ia menyamakan diam pelaku nonkeuangan dengan persetujuan. Padahal diamnya itu mungkin hanya berarti mereka belum punya saluran untuk berteriak. Kedua, ia mengabaikan kenyataan bahwa ketika sinyal akhirnya datang dari mereka, ia datang terlambat — dan kadang dalam bentuk yang menyakitkan bagi semua pihak.
Pelajaran dari Psikologi: Diam Bukan Berarti Tenang
Psikologi sosial mengajarkan satu hal yang penting: akumulasi frustrasi tanpa outlet adalah resep untuk krisis sosial. Ketika masyarakat merasa kebijakan merugikan tetapi tidak ada kanal aman untuk mengeluh — tidak ada oposisi yang mendengarkan, tidak ada media yang berani memberitakan, tidak ada pemilu sela untuk mengoreksi — frustrasi itu tidak hilang. Ia hanya tersimpan.
Hyman Minsky pernah mengingatkan: stabilitas justru menciptakan instabilitas. Semakin lama permukaan terlihat tenang, semakin besar kemungkinan tekanan di bawahnya menumpuk hingga mencapai titik ledak. Ini adalah versi makro dari animal spirits yang dibahas Keynes — optimisme berlebihan menghasilkan euforia, lalu kepanikan, lalu kehancuran. Itulah pola yang kita lihat menjelang 1998. Indonesia sebelum krisis ditandai oleh euforia, overconfidence, dan penindasan terhadap kritik. Ketika krisis akhirnya datang, ia tidak hanya menjadi krisis ekonomi — ia menjadi krisis sosial, dengan korban jiwa yang jauh melampaui apa yang bisa dijelaskan oleh angka kemiskinan semata.
Karena itu, kritik, oposisi, dan ruang protes bukanlah ancaman bagi stabilitas. Mereka adalah katup pengaman (pressure release valve) yang justru menjaga stabilitasnya sendiri. Sama seperti pasar keuangan memberikan sinyal cepat lewat harga, masyarakat luas memberikan sinyal lewat suara — dan kedua-duanya perlu didengar.
Penutup
Membaca dua sinyal sekaligus
Ketika kita salah memahami siapa “pasar”, kita juga salah memahami apa yang sedang dikomunikasikan pasar kepada kita. Reaksi pasar bukan ancaman dari sekelompok elit — melainkan sinyal kolektif tentang bagaimana suatu kebijakan akan memengaruhi produksi, investasi, lapangan kerja, dan kesejahteraan.
Mengabaikan sinyal pasar dengan dalih “itu cuma kapitalis” sama dengan mengabaikan termometer karena tidak suka angka yang ditunjukkannya. Tapi sebaliknya, hanya mendengarkan suara pasar keuangan sambil mengabaikan suara petani, buruh, dan rumah tangga juga salah — karena itu berarti kita hanya membaca sebagian kecil dari termometer yang sebenarnya jauh lebih besar dan lebih lambat.
|
Pasar adalah cara jutaan keputusan kecil menemukan
keseimbangan — itu yang Adam Smith ajarkan kepada kita. Tapi keseimbangan itu
tidak selalu rasional, tidak selalu cepat tercapai, dan tidak selalu adil —
itu yang Keynes tambahkan. |
Suara pasar finansial cepat dan rasional di permukaan, tapi bisa keliru saat animal spirits bekerja. Suara rakyat lambat dan tidak selalu artikulatif, tetapi mengandung kebenaran tentang kondisi ekonomi yang sebenarnya. Tugas pembuat kebijakan adalah membaca keduanya — bukan memilih salah satu, bukan pula menyamakan keduanya.
Itulah, menurut saya, tanggung jawab kita sebagai warga negara yang peduli pada nasib ekonomi bangsa: bukan menolak pasar dan bukan pula menyembah pasar. Tetapi memahami pasar dengan jujur — dengan segala kekuatan kolektifnya dan segala asimetri yang menyertainya.
Satu catatan terakhir sebelum kita pindah ke topik berikutnya. Smith, seperti yang sudah saya kutip di atas, secara khusus mengingatkan tentang bahaya monopoli yang berlindung di balik kekuasaan negara — ia menyebut British East India Company sebagai contoh nyata pada zamannya. Pelajaran ini tetap relevan untuk Indonesia hari ini. Lembaga-lembaga ekonomi yang dimiliki atau dilindungi negara — termasuk bank-bank milik negara yang menjadi tulang punggung sistem keuangan kita — bisa menjadi alat koordinasi yang baik bagi pasar, atau bisa menjadi sumber distorsi yang besar. Yang menentukan adalah apakah ia tunduk pada disiplin pasar dan akuntabilitas publik atau dipakai sebagai perpanjangan kepentingan politik. Inilah yang akan saya bahas dalam catatan berikutnya.
Bersambung
Bagian kedua: Bank Adalah Lembaga Amanah — Tentang Bank Himbara dan Pelajaran 1997–1998
— Ican
Mei 2026
Baca juga Catatan Ican lainnya


