Tekanan Belum Reda, BI Tahan Suku Bunga 5,75% dan Tambah Insentif

Tekanan Belum Reda, BI Tahan Suku Bunga 5,75% dan Tambah Insentif

RDG BI mempertahankan suku bunga acuan dan menambah insentif. Semakin panjang tenor, semakin besar pula insentif yang diberikan.

Tekanan Belum Reda, BI Tahan Suku Bunga 5,75% dan Tambah Insentif
Dalam Artikel Ini

Di tengah tren arus modal keluar dari sistem keuangan Indonesia dan nilai tukar rupiah sempat kembali sentuh level psikologis Rp18.000, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan BI Rate pada level 5,75%, suku bunga lending facility 6,5%, serta menaikkan suku bunga deposit facility menjadi 5%. Tekanan yang belum reda di pasar keuangan dan penguatan insentif hedging dan swap yang mulai menambah cadangan devisa melatarbelakangi keputusan ini, sebagai pilihan rasional di tengah sempitnya ruang kebijakan moneter.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (21/10/2026), Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan, tingginya tekanan dan volatilitas global telah memicu aliran modal keluar atau net capital outflow sebesar USD 0,88 miliar, terutama dari pasar saham.

Meski demikian, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) masih cukup bertenaga menarik aliran investasi portofolio asing sehingga mencatatkan net inflow USD 0,66 miliar hingga 19 Oktober 2026.

"Bank Indonesia terus mengoptimalkan seluruh instrumen moneter, termasuk memperkuat kebijakan insentif serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas atau PUVA. Insentif tidak hanya diberikan pada swap dan domestic non-deliverable forward (DNDF), tetapi juga untuk LCT dengan negara mitra sehingga imbal hasil aset rupiah menjadi tetap menarik," ujar Destry.

Pimpinan tertinggi otoritas moneter Tanah Air itu menjelaskan, sejak diberlakukan pada Juni 2026, kebijakan insentif swap dan hedging (lindung nilai) telah berhasil menarik modal asing sebesar USD 9,9 miliar pada 20 Oktober 2026.

Berkaca dari keberhasilan itu, peningkatan insentif instrumen DNDF kepada BI guna menarik aliran masuk modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mempercepat pendalaman PUVA.

"Kebijakan moneter ini konsisten dengan strategi stabilisasi di tengah tekanan eksternal yang masih kuat. BI akan mengoptimalkan berbagai instrumen moneter, termasuk menempuh langkah penyesuaian yang diperlukan guna menjaga stabilitas perekonomian," imbuhnya.

Secara rinci, BI memutuskan untuk meningkatkan insentif jual lindung nilai kepada BI dalam rangka transaksi underlying untuk portofolio inflows, pinjaman luar negeri, dan foreign direct investment dengan pengurangan premi dari 25% menjadi 40% untuk tenor 6 bulan, sementara untuk tenor 12 bulan turun dari 30% menjadi 45%.

Di samping itu, BI juga melanjutkan pemberian insentif untuk local currency transaction (LCT) untuk mendiversifikasi transaksi valas berupa penambahan premi swap jual lindung nilai konvensional sebesar 10%, dan pengurangan premi DNDF hedging sebesar 10%.

"Yang menjadi fokus kami adalah mendatangkan inflow kembali agar lebih targeted. Kami memberikan insentif DNDF berupa pengurangan biaya hedging hingga 45% dengan harapan terjadi repricing di pasar domestik. Tentunya ini akan membuat selisih aset kita dengan aset USD menjadi lebih menarik," ungkap Destry.

Deputi Senior Gubernur Aida S. Budiman menambahkan, seperti halnya bank sentral lain, BI akan melihat deviasi dari target inflasi, deviasi dari output gap, serta melihat perkembangan sehingga pilihan kebijakan mengubah policy rate, menggunakan insentif, atau cadangan devisa untuk stabilitas nilai tukar dapat lebih presisi.

"Inilah yang disebut operasi moneter valas BI, dan ini berhasil meningkatkan cadangan devisa. Likuiditas akan kita jaga kecukupannya, dan kita pastikan untuk yang tenornya semakin panjang, kita tambah insentifnya. Kita juga pastikan makroekonomi selalu baik agar investor selalu percaya, aliran modal masuk konsisten, dan bisa di-roll over agar keberlanjutannya terjaga," tutur Aida.

Investor nyaman, modal lancar

Peningkatan insentif dan kenaikan suku bunga deposit facility, Destry menjelaskan, ditempuh sebagai bagian dari upaya BI membuat investor lebih nyaman dalam transaksi pembelian aset portofolio rupiah. Pemulihan kepercayaan melalui kenaikan insentif tersebut diharapkan akan meredam tekanan dan volatilitas di pasar keuangan.

“Dua hari kemarin, kami melakukan diskusi ketat dan asesmen dari apa yang terjadi di MSCI, dan kami melihat tekanannya masih dalam batas relatif normal karena situasi regional juga tidak terlalu baik. Kami akan terus mewaspadai capital market dan memonitor outflow yang terjadi,” katanya.

Melalui desain bauran kebijakan moneter yang lebih targeted berupa optimasi dan kenaikan insentif swap dan hedging, BI membuka kanal-kanal aliran modal lebih lebar, baik yang akan masuk ke SBN, SRBI, pinjaman luar negeri, FDI, maupun aliran portofolio inflow lainnya.

Kekuatan Nilai Tukar Rupiah Diuji dari Segala Sisi
Kekuatan nilai tukar rupiah berhasil dipertahankan tanpa menggerus cadangan devisa terlalu dalam. Kreativitas Bank Indonesia perlu tetap dicermati

Selain peningkatan insentif yang sudah ada, Deputi Gubernur Thomas Djiwandono mengumumkan mulai beroperasinya pasar valuta asing untuk hedging melalui negara mitra (Vastra), ditandai dengan transaksi perdana pada 9 Oktober 2026 melalui DBS Singapura dan DBS Indonesia.

“BI telah menetapkan 14 dealer utama PUVA sebagai domestic partner bank, dan akan memperluas bank mitra agar lebih banyak investor dapat berpartisipasi. Mekanisme transaksi juga lebih fleksibel, termasuk settlement dari T+0 menjadi T+1, dan menambah aset yang dapat dilindungnilaikan mencakup saham tercatat di Bursa Efek Indonesia,” ujar Thomas.

Rasional, tetap waspada

Secara terpisah, Ekonom Senior dan Pengajar Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia Ryan Kiryanto menilai keputusan mengunci BI Rate tetap 5,75% merupakan pilihan rasional dan terbaik yang tersedia saat ini. Dengan menjangkar suku bunga, BI dapat membantu keberlanjutan momentum pertumbuhan jelang akhir tahun kendati tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan faktor eksternal masih mengintai.

“Sekiranya kombinasi faktor keputusan MSCI, instabilitas politik, dan risiko geoekonomi masih berlanjut hingga bulan depan, ada ruang bagi BI untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6%, sekaligus sebagai langkah antisipatif jika The Fed menaikkan FFR di pertemuan FOMC Desember mendatang,” jelasnya kepada SUAR, Rabu (21/10/2026).

Melalui karakteristik kebijakan cenderung defensif, Ryan menambahkan, dunia usaha dan sektor perbankan nasional diharapkan mendorong ekspansi jika memungkinkan atau memperpanjang mode bertahan (survival strategy). Ini mengingat faktor penekan rupiah sejauh ini masih lebih banyak berasal dari isu nonmoneter, sehingga pilihan menahan BI Rate menjadi gestur yang diharapkan lebih market friendly.

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan menambahkan, sekurang-kurangnya hingga hasil konsultasi MSCI diumumkan pada 30 April 2027 mendatang, instabilitas akan terus mendera pasar saham dan pasar keuangan Indonesia. Seraya menunggu perbaikan tata kelola, investor asing akan cenderung melepas saham Indonesia secara bertahap.

Menyitir kalkulasi UBS Group AG, total potensi arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia dalam enam bulan ke depan diperkirakan dapat mencapai USD 19 miliar dari dana pasif maupun dana aktif. Meski tampak besar, jumlah ini hanya sekitar 13% dari total kepemilikan asing di pasar saham Indonesia.

“Tekanan terhadap rupiah tidak berhenti pada saham. Investor asing juga memegang surat utang pemerintah dan sejumlah instrumen BI. Krisis kepercayaan di bursa dapat menjalar ke pasar obligasi pemerintah dan Bank Indonesia,” kata Anthony.

Jika penjualan saham dan surat utang berlangsung, Anthony memperkirakan arus modal keluar bisa mencapai USD 20-25 miliar dan nilai tukar rupiah dapat terus melemah hingga menyentuh Rp20.000 per Dolar Amerika Serikat. Pelemahan itu sejalan dengan catatan magnitudo pelemahan 13,5-21,2% yang telah terjadi beberapa episode selama 10 tahun terakhir.

“Tekanan terhadap rupiah sekarang ditambah potensi penjualan saham berskala besar, kebutuhan pembiayaan eksternal meningkat, dan risiko ULN yang semakin tinggi. Tanpa perbaikan yang terbukti nyata, kegagalan pengawasan pasar saham dapat menambah risiko terhadap stabilitas rupiah dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan,” tegas Anthony.

Usai pengumuman hasil RDG, nilai tukar rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate ditutup menguat ke level Rp17.986. Meski demikian, indeks Bloomberg masih mencatat terjadinya pelemahan kurs di pasar spot sebesar 30 poin (0,17% ptp) menjadi Rp18.022. Fluktuasi ini diperkirakan masih akan bertahan hingga akhir pekan ini, dengan interval lebar antara Rp17.850 hingga Rp18.100 per Dolar Amerika Serikat.

Saham Bank Masih Dibayangi Tekanan

Saham-saham perbankan mulai menguat di tengah gejolak pasar modal setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuannya. Meski demikian, investor masih perlu mewaspadai volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan sejumlah sentimen yang berpotensi memengaruhi pergerakan saham, mulai dari rencana buyback emiten hingga perubahan metodologi penghitungan indeks oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pada perdagangan Rabu (21/10/2026), IHSG ditutup di level 5.328 menguat 49,47 poin atau 0,94% dari penutupan hari sebelumnya di level 5.278. Berdasarkan data perdagangan, volume transaksi sebanyak 32,85 miliar saham dengan nilai Rp17,71 triliun dan frekuensi transaksi mencapai 1,817 juta kali.

Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp9.379 triliun. Sebanyak 384 saham menguat, sementara 328 saham melemah dan 251 saham tidak berubah.

Di tengah pergerakan pasar tersebut, sejumlah saham perbankan mencatatkan penguatan. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 1,44% ke level Rp5.275, sedangkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menguat 0,93% ke level Rp3.250.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turut naik 0,27% ke level Rp3.700. Adapun saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mencatat kenaikan terbesar di antara saham-saham tersebut, yakni 4,44% ke level Rp940.

Meski mayoritas saham perbankan dalam data tersebut menguat, pergerakan harga itu belum cukup untuk memastikan tekanan jual telah berakhir.

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, Fath Aliansyah Budiman, menilai saham-saham perbankan masih menghadapi tekanan jual meskipun sejumlah saham mulai menunjukkan perlawanan setelah terkoreksi dalam beberapa hari perdagangan sebelumnya.

Melihat hal tersebut, Fath mengingatkan investor agar tidak terburu-buru memanfaatkan penguatan harga untuk melakukan pembelian secara agresif.

Menurut dia, kenaikan harga setelah koreksi tajam belum cukup untuk memastikan pasar telah memasuki tren pemulihan. Investor diwanti-wanti untuk mencermati kekuatan penguatan tersebut sekaligus memperhitungkan risiko yang masih membayangi pergerakan saham.

“Investor perlu mempertimbangkan kondisi pasar sebelum menambah kepemilikan saham. Menjaga likuiditas atau porsi kas dalam portofolio juga menjadi salah satu langkah untuk menghadapi kemungkinan berlanjutnya volatilitas,” ungkap Fath kepada SUAR.

Keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan menjadi salah satu faktor yang dicermati investor dalam menilai prospek saham perbankan. Arah suku bunga berkaitan dengan biaya dana, penyaluran kredit, dan margin bunga bersih (net interest margin) perbankan.

Namun, Fath menyebut dampaknya terhadap harga saham tidak berlangsung secara otomatis. Pasalnya, investor juga mempertimbangkan prospek pertumbuhan kredit, kualitas aset, serta kondisi perekonomian yang dapat memengaruhi kinerja masing-masing bank.

Di sisi lain, tekanan terhadap saham perbankan sebelumnya terlihat pada sejumlah emiten. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) tercatat terkoreksi 3,8% dalam perdagangan yang dibahas. Saham BMRI melemah 0,88%, sedangkan BBNI turun 0,34%.

Tekanan lebih besar terjadi pada saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), yang turun 6,85%.

“Perbedaan pergerakan tersebut menunjukkan bahwa saham perbankan tidak selalu bergerak seragam ketika pasar menghadapi tekanan. Oleh karena itu, investor perlu memperhatikan perkembangan masing-masing emiten selain mencermati sentimen yang memengaruhi pasar secara keseluruhan,” ucapnya.

Buyback Belum Menjamin

Selain kebijakan moneter, perhatian investor tertuju pada rencana pembelian kembali saham (buyback) oleh sejumlah emiten, termasuk BBCA.

Aksi korporasi tersebut diharapkan dapat membantu menyeimbangkan permintaan dan penawaran saham di pasar. Namun, dampaknya terhadap pemulihan harga saham maupun IHSG masih membutuhkan waktu untuk terlihat.

Fath menilai buyback tidak dapat menjadi jaminan bahwa tekanan jual akan segera berakhir. Pergerakan pasar tetap dipengaruhi oleh respons investor terhadap berbagai sentimen dan perkembangan kondisi pasar modal.

“Tetap cermati aksi korporasi yang dilakukan oleh emiten ya,” imbuhnya.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)