Ke Pasar Lebih Likuid, Semua Dana Kini Berduyun-duyun
Saat berbagai instrumen jangka pendek mulai dicairkan, dana segar kian mencari pasar lebih likuid, andal, dan bisa dipercaya.
Saat berbagai instrumen jangka pendek mulai dicairkan, dana segar kian mencari pasar lebih likuid, andal, dan bisa dipercaya.
Turbulensi ekonomi global memicu perilaku investor yang mulai mencairkan instrumen jangka pendek mereka. Membaca sinyal dari berbagai pasar, para pemilik dana segar kian mencari pasar yang lebih likuid, andal, dan terpercaya. Fleksibilitas regulator menentukan daya serap pasar atas fenomena yang terjadi sekali dalam berdasawarsa ini.
Kepala Departemen Pengelolaan Devisa Bank Indonesia Rahmatullah Sjamsuddin menjelaskan, firma manajemen investasi sudah cukup matang dalam kalkulasi empat faktor ketidakpastian yang saling berkelindan. Kalkulasi tersebut mencakup dampak sekaligus tindak lanjut paling rasional dengan risiko paling rendah.
Faktor pertama adalah berlanjutnya perang di tiga titik panas (Ukraina, Iran, dan Yaman) yang memicu inflasi global. Kedua, krisis fiskal akibat kenaikan imbal hasil surat utang berbagai negara, termasuk obligasi Amerika Serikat tenor 10 tahun yang tembus 5,33%. Adapun faktor ketiga dan keempat adalh gelembung saham AI dan risiko siber serta krisis iklim dan dampak fisiknya.
“Sebagai investor, strategi terbaik adalah memegang uang tunai sebanyak mungkin. Dalam ketidakpastian, likuiditas sangat penting, bahkan bagi bank sentral untuk melaksanakan intervensi pasar. Tanpa likuiditas, strategi jangka panjang akan memperbesar risiko,” ujarnya dalam seminar internasional “Navigating Global Uncertainties Beyond Growth” di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Selain likuiditas, Rahmatullah menjelaskan, sekuritas jangka pendek kini semakin dilirik dan frekuensi penerbitan relatif meningkat. Namun, tanpa garansi likuiditas dan kemudahan menjual, kesempatan penerbitan sekuritas jangka pendek juga tidak akan berdampak besar dalam menavigasi strategi keuangan.
Betapapun pegangan likuiditas menjadi sangat penting, Rahmatullah menambahkan, investor sejatinya dapat berperan untuk memperdalam pasar dengan melakukan transaksi secara aktif dan terukur. Spekulasi memang tidak memberi jaminan imunitas terhadap risiko, tetapi semakin dalam sebuah pasar, basis investor yang dapat bergabung juga semakin besar.
“Prioritas kami saat ini adalah meningkatkan likuiditas pasar sekunder, sambil memperbaiki akses investor institusional. Menjalin relasi dengan fixed-income managers dan mendorong penyeragaman mengacu standar global diperlukan agar sekuritas dapat memenuhi permintaan, bukan hanya menjadi instrumen operasi moneter,” tutur Rahmatullah.
Berbagi pandangan dengan Rahmatullah, Deputy General Manager Global Markets Trading and Investments Kuwait Finance House (KFH) Khalid Al Rukhayes menilai peran pasar primer sebagai penyedia likuiditas menjadi penopang utama pasar sekunder yang dalam dan likuid. Semakin likuid sebuah pasar, price discovery akan semakin tepat dan mampu menjamin kepercayaan investor.
“Ketika likuiditas mulai menyertai penetapan harga, buatlah investor tahu bahwa instrumen yang dia beli sungguh likuid dan bisa dibuktikan. Hanya dengan bukti konkret mereka akan menambah aliran masuk karena mereka tahu aset itu dapat dijual kapan saja. Saat investor percaya dan terlayani, di saat itu pula likuiditas perlahan meningkat,” ujarnya.
Tonggak kepercayaan investor terhadap likuiditas pasar menjadi semakin krusial, Al-Rukhayes menegaskan, karena ia menjadi fondasi alasan untuk membeli dan menahan aset lebih lama atau menjualnya secara cepat. Perilaku ini terbentuk bukan dari semata-mata keinginan mengejar laba cepat, tetapi kapasitas memikul risiko dan pertumbuhan valuasi ke depan.
Dari pengalaman KFH selama hampir 50 tahun, sangat sedikit investor yang sungkan berpindah ketika mengetahui keberadaan alternatif aset yang lebih menguntungkan. Akibat perilaku ini, market makers perlu menjamin ketersediaan likuiditas bagi segala macam instrumen, jangka pendek maupun jangka panjang.
“Di KFH, kami mendirikan trading desk dua tahun lalu untuk mengembangkan likuiditas bagi aset jangka panjang yang hendak dicairkan lebih awal. Tujuan kami tetap, bukan aset yang utama, tetapi investor. Semakin banyak pelaku yang bermain, semakin dalam dan terdiversifikasi pasar ini akan bertumbuh,” tegasnya.
Analis Senior Fitch Ratings Muhammad Bagja menambahkan, ketertarikan utama investor institusional terhadap surat utang jangka pendek utamanya disebabkan kenaikan imbal hasil yang mengejar yield U.S. Treasury tenor 10 tahun. Namun, ia mengingatkan, sentimen relatif kurang stabil jika digunakan sebagai dasar keputusan investasi.
“Pasar yang berhasil memiliki ciri yang sama: mempertahankan akses terhadap pasar saat selisih melebar, dan berusaha menurunkannya secara bertahap. Hasilnya, ketika selisih berkurang, investor yang bertahan semakin terdiversifikasi, sementara gelombang penerbitan instrumen semakin stabil memasuki triwulan III-2026,” tuturnya.
Menghadapi perubahan perilaku investor, Mantan Gubernur Bank Negara Malaysia Tan Sri Nor Shamsiah Mohd. Yunus mengungkapkan salah satu pengalaman berharga yang ia alami ketika memimpin bank sentral Negeri Jiran menghadapi pandemi Covid-19.
Ketika itu, Malaysia turut mengalami arus modal keluar cukup besar seperti terjadi di berbagai negara. Namun, Bank Negara Malaysia berhasil memastikan harga aset keuangan tidak jatuh. Kuncinya, sewaktu investor asing keluar, bank sentral dapat memastikan harga aset keuangan tetap atraktif. Aturan main dan tata tertib transaksi sekuritas ditegakkan, dan kepercayaan investor domestik terjaga utuh.
“Saat kepercayaan investor domestik terjaga, mereka siap menjadi katup pengaman pasar keuangan. Pengalaman ini mengajarkan kami bahwa pasar keuangan yang lebih dalam, basis investor yang lebih lebar, dan varian sekuritas yang lebih beragam bukan hanya membangun, tetapi menciptakan jaring pengaman seluruh infrastruktur sistem keuangan,” ungkapnya.
Dirundung ketidakpastian, Shamsiah meyakini volatilitas pasar keuangan global menunjukkan dunia telah sampai pada titik ketika pertumbuhan tinggi tidak lagi menjadi indikator kesuksesan sebuah lembaga keuangan. Kini, barometer itu bergeser pada bagaimana sistem keuangan membuat nasabah lebih resilien dan sejahtera.
Pelajaran itu dipetik dan dipahami dengan baik di Bank Negara Malaysia. Saat skala ekonomi dan keuangan tumbuh, risiko akan ikut menyertai bersamaan dengan interkoneksi. Dengan kata lain, skala usaha yang membuat sistem semakin kompleks akan menciptakan urgensi penanganan risiko sistemik secara simultan.
“Profil risiko sektor keuangan berubah, maka kita membutuhkan arsitektur sistem keuangan yang fit for purpose. Sistem keuangan tidak bisa disebut tangguh jika hanya aman secara neraca, sementara nasabah justru harus menghadapi kerentanan sendirian,” tegasnya.

Melampaui pertumbuhan dan profitabilitas, Shamsiah menekankan pentingnya usaha bank sentral untuk meredam kerentanan di sektor keuangan tanpa mengorbankan sisi komersial lembaga jasa keuangan. Kunci lembaga keuangan yang resilien, menurutnya, juga terletak pada regulator yang tangguh tetapi juga fleksibel mengikuti dinamika situasi.
“Resiliensi memiliki tujuan lebih besar dari profit, karena itu lembaga keuangan perlu sepenuhnya sadar pertumbuhan tidak akan meniadakan risiko. Sebaliknya, saat pertumbuhan didorong, stabilitas sistem keuangan harus bekerja sama meredam kerentanan nasabah, bila perlu lintas batas negara,” ujar Shamsiah.
Membenarkan pandangan Shamsiah, Deputi Gubernur Bank Indonesia Solikin M. Juhro mengumpamakan sebuah balon dapat ditiup menjadi lebih besar dari waktu ke waktu. Namun, semakin besar sebuah balon tak menjadikannya lebih tidak mudah meletus.
“Regulasi harus mampu merekognisi tata kelola yang berubah. Resiliensi, karena itu, harus dibangun sebelum kejutan terjadi, ibarat sedia payung sebelum hujan. Masa depan sektor keuangan akan ditentukan sejauh mana kita mampu berekspansi melebihi pasar tradisional, menduplikasi keberhasilan yang ada, dengan tetap terbuka pada ide-ide baru,” ujarnya.