Mengenal Kekayaan Alam Sorong Selatan dari Plataran

Mengenal Kekayaan Alam Sorong Selatan dari Plataran

Pengunjung dapat menyaksikan pameran foto, pertunjukkan seni, dan juga mengikuti diskusi mengenai masa depan keanekaragaman hayati Sorong selatan.

Mengenal Kekayaan Alam Sorong Selatan dari Plataran
Dalam Artikel Ini

Kekayaan alam dan budaya Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya, diperkenalkan lebih dekat kepada masyarakat melalui kegiatan Jelajah Kemolekan Sorong Selatan yang digelar di Hutan Kota by Plataran, Jakarta, sepanjang 1-4 Oktober 2026. 

Kegiatan ini mengangkat potensi keanekaragaman hayati, kearifan lokal masyarakat adat, hingga pengembangan ekowisata sebagai bagian dari upaya memperkenalkan Sorong Selatan secara lebih luas kepada masyarakat.

Dalam kegiatan yang berlangsung pada Jumat (02/10/2026), para pengunjung diajak mengenal lebih dekat Sorong Selatan melalui beragam rangkaian acara. Pengunjung dapat melihat sejumlah foto yang menggambarkan bagaimana masyarakat adat menjaga tradisi sekaligus merawat alam, dan juga mengikuti diskusi mengenai masa depan keanekaragaman hayati Sorong selatan.

Berdasarkan catatan dari Konservasi Indonesia, tercatat ada sebanyak 416 jenis tumbuhan dan 372 jenis satwa yang telah teridentifikasi di Sorong Selatan. Ekosistem hutannya yang membentang serta terhubung dengan kampung-kampung yang dialiri sungai, membuka potensi Sorong Selatan sebagai destinasi ekowisata yang sayang untuk ditinggalkan.

Papua Program Director Konservasi Indonesia Robeth Mandosir menjelaskan, pengembangan ekowisata di Sorong Selatan pun dapat memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat, tentunya dengan tanpa mengesampingkan upaya menjaga kelestarian alam dan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

“Saya melihat untuk pengembangan adalah sebuah proses di mana menemukan titik partisipasinya, itu beririsan dengan nilai yang ada di dalam masyarakat, bagaimana mereka percaya, mendengar, dan menerima orang yang datang untuk mendampingi mereka,” kata Robeth.

Menemukan apa yang disebut sebagai titik partisipasi ini menjadi hal yang penting agar program pengembangan dan pembangunan ini bisa dijalankan dan diterima oleh masyarakat adat. Setelah kepercayaan terbentuk, berbagai program pengembangan pun dapat dijalankan secara berkelanjutan.

“Ketika ada sebuah kepercayaan, baru ada relasi untuk membangun. Kita jangan pernah menyerah dan mundur sedikit pun, kalau kita jelaskan ya mereka akan menerima,” ucapnya.

0:00
/0:30

Tari Srar dari Sorong Selatan yang ditampilkan oleh para mama di hadapan para pengunjung Jelajah Kemolekan Sorong Selatan di Hutan Kota by Plataran, Jakarta Pusat, Jumat (02/10/2026).(Video:Gema Dzikri/Suar.id).

Rangkaian kegiatan diisi dengan penampilan Tari Srar, sebuah tarian tradisional yang identik dengan dentuman kaki menghentak bumi. Tarian yang biasanya diberikan untuk menyambut tamu atau penjemputan di Kampung Klaogin ini ditampilkan demi memperlihatkan bagaimana tradisi dan identitas budaya masyarakat adat dapat dirawat dan diwariskan.

Kepala Kampung Klaogin Martinus Sawen saat ditemui di Hutan Kota by Plataran, Jakarta Pusat, Jumat (02/10/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id).

Kepala Kampung Klaogin Martinus Sawen, yang merupakan pensiunan guru dengan bekal pengalaman dan pengetahuan untuk merintis ekowisata di Sungai Klaogin, menjelaskan bahwa masyarakat adat di Sorong Selatan ini memiliki keterikatan yang kuat dengan hutan yang menjadi sumber penghidupan mereka. Hutan dipandang sebagai mama kandung yang menyediakan berbagai kebutuhan.

“Kami ini lahir di hutan, bukan di kampung atau kota, jadi kami cinta hutan kami karena kami dibesarkan oleh hutan. Binatang pun hidup di hutan, kalau tidak ada hutan ya binatang juga tidak ada, jadi harus dijaga,” jelas Martinus.

Dengan itu, pengembangan ekowisata di Sorong Selatan perlu berjalan berdampingan dengan nilai serta aturan adat yang telah dijaga oleh masyarakat. Pembangunan fasilitas wisata seperti homestay pun tidak dapat dilakukan dengan mengorbankan kelestarian hutan.

Masyarakat adat juga telah memiliki mekanisme untuk memastikan manfaat ekonomi dari kegiatan wisata dapat dirasakan secara merata. Pendapatan yang diperoleh akan dibagi berdasarkan kelompok atau marga yang terlibat, sehingga memberikan manfaat secara lebih luas.

“Misalkan ada uang berapa di pokdarwis, nanti kami tentukan beberapa tahun kemudian tinggal kita ambil. Contoh saja misalkan ada 7 marga, misalnya dapat Rp700 juta, satu marga dapat Rp100 juta, nanti marga itu akan membagi ke orang-orang lainnya,” ucapnya.

Kepala Kampung Bariat Adrianus Kemeray (tengah) dalam sebuah diskusi yang menjadi rangkaian acara Jelajah Kemolekan Sorong Selatan di Hutan Kota by Plataran, Jakarta Pusat, Jumat (02/10/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id).

Sementara itu, Kepala Kampung Bariat Adrianus Kemeray menjelaskan, bagi masyarakat adat di Sorong Selatan, hutan tidak hanya dipandang sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai “mama” yang menjadi sumber kehidupan. Upaya menjaga hutan ini diwariskan dari generasi ke generasi, masyarakat juga menyadari bahwa pengembangan konservasi dan ekowisata ini tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kerja sama dari seluruh pihak terkait lainnya.

“Kami sampai hari ini tetap menjaga hutan kami sebagai mama yang selalu melindungi kita, karena mama melayani kita sebagai anak itu selalu ada, sekarang apa saja, butuh apa saja, ya itu ke mama, maka kami hari ini hadir di sini memohon bantuan,” kata Adrianus.

Adrianus pun menyampaikan kepada masyarakat yang selama ini telah memberikan pendampingan kepada masyarakat adat dalam hal pengembangan ekowisata. Berbagai pendampingan yang diberikan ini telah memberikan pelajaran kepada masyarakat dalam banyak hal salah satunya seperti bagaimana cara menerima dan melayani wisatawan yang datang ke kampung mereka.

“Tapi itu masih kurang, kita minta bantuan lagi dari semua pihak dalam hal membantu kami ekowisata, kami butuh bantuan lagi supaya kami bisa bersaing dengan sodara-sodara kami di daerah lainnya di Indonesia,” tegasnya.

Pengunjung Jelajah Kemolekan Sorong Selatan berkeliling melihat berbagai foto yang menggambarkan kehidupan masyarakat adat Sorong Selatan di Hutan Kota by Plataran, Jakarta Pusat, Jumat (02/10/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id).

Para pengunjung diajak berkeliling melihat berbagai foto yang menggambarkan kehidupan masyarakat dan kekayaan alam Sorong Selatan. Melalui foto yang ditampilkan, keanekaragaman hayati, aktivitas masyarakat adat, hingga berbagai tradisi yang masih dijaga secara turun-temurun dapat terlihat lebih dekat.

Salah satu foto yang ditampilkan contohnya adalah sebuah pohon keramat di Konda dengan lubang batangnya yang muat untuk dimasuki lima orang dewasa. Pohon keramat tersebut menyimpan air dan karbon yang melimpah, sehingga menjaga pohon yang besar ini merupakan upaya strategi budaya dalam merawat kelestarian.

Mama-mama dari Sorong Selatan tengah mempersiapkan berbagai macam hidangan khas Sorong Selatan yang bahan bakunya dibawa langsung dari Sorong Selatan untuk disajikan di Hutan Kota by Plataran, Jakarta Pusat, Jumat (02/10/2026).(Foto:Gema Dzikri/Suar.id).

Pengunjung juga dapat mencicipi beragam kuliner khas Sorong Selatan yang sarat dengan cerita dan pengetahuan masyarakat adat. Hidangan yang disajikan antara lain papeda, sayur gedi, sagu, hingga ulat sagu bakar. Meski sederhana, setiap makanan yang disajikan pun mencerminkan bagaimana cara masyarakat adat memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya.

Bahan utama dalam sejumlah hidangan tersebut bahkan didatangkan langsung dari Sorong Selatan, termasuk sagu yang menjadi salah satu pangan penting bagi masyarakat setempat.

Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya Irman Murafer mengatakan, pemerintah juga sudah mendorong pengembangan pariwisata di Sorong Selatan dengan menggunakan pendekatan berbasis masyarakat. Potensi ekowisata pun bisa menjadi alternatif sumber ekonomi bagi masyarakat.

“Kami hitung dari rata-rata kunjungan di Provinsi Papua Barat itu 7 hari, kita lihat dari sisi ekonomi juga karena ada sekitar 170 homestay di Papua Barat Daya, perputaran ekonomi khususnya dari akomodasi itu saja Rp12-20 juta per bulan,” ungkap Irman.

Besarnya potensi ini juga perlu diikuti dengan kesiapan dari sisi sumber daya manusia (SDM) di tingkat masyarakat. Kemampuan masyarakat dalam mengelola dan memberikan pelayanan kepada wisatawan menjadi penting, sehingga pengembangan ekowisata ini tidak hanya mengandalkan infrastruktur atau promosi saja.

“Perlu pengembangan kapasitas SDM, kita sertifikasi. Setiap pemuda kami coba untuk selalu memberikan perhatian mengenai pariwisata, karena memang butuh kerja sama untuk kampung wisata ini, potensinya sangat besar,” tegasnya.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Glowlight

Rekomendasi SUAR