Menanti Arah IHSG Usai Libur Panjang di Tengah Bayang-Bayang Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah menjelang libur panjang Idul Adha 2026 dan hari lahir Pancasila pada 1 Juni 2026. Kondisi ini berbeda dibandingkan momentum serupa tahun lalu ketika pasar saham domestik masih mampu menguat meski dibayangi aksi jual investor asing.

Menanti Arah IHSG Usai Libur Panjang di Tengah Bayang-Bayang Global
Pekerja berjalan di samping layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (30/4/2026). IHSG ditutup melemah ke level 6.956,80 pada perdagangan Kamis (30/4) terkoreksi 144,42 poin atau sebesar 2,03 persen. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd
Daftar Isi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah menjelang libur panjang Idul Adha 2026 dan hari lahir Pancasila pada 1 Juni 2026. Kondisi ini berbeda dibandingkan momentum serupa tahun lalu ketika pasar saham domestik masih mampu menguat meski dibayangi aksi jual investor asing.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada perdagangan Selasa (26/5/2026) ditutup turun 1,23% atau 76,16 poin ke level 6.130,19. Pelemahan dipicu tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar, aksi ambil untung investor menjelang libur panjang, serta sentimen geopolitik global yang masih membayangi pasar keuangan.

Pola perdagangan menjelang Idul Adha tahun ini berbeda dibandingkan periode yang sama pada 2025. Saat itu, IHSG justru ditutup menguat 0,63% pada perdagangan Kamis (5/6/2025) menjelang libur panjang Iduladha.

Meski demikian, penguatan tahun lalu tetap dibarengi aksi jual bersih atau net sell investor asing sebesar Rp42,48 miliar. Saham-saham yang paling banyak dilepas investor asing kala itu antara lain BBCA, ANTM, AMMN, INKP, dan GOTO.

Setelah libur panjang Idul Adha 2025 berakhir, pasar saham domestik kembali melanjutkan penguatan. IHSG pada penutupan perdagangan Selasa (10/6/2025) tercatat naik 1,65% ke level 7.230,75.

Namun kondisi berbeda terjadi setelah libur panjang Lebaran 2025. Pada perdagangan pertama pascalibur, IHSG mengalami tekanan sangat dalam.

Pada Selasa (8/4/2025), IHSG anjlok 7,90% atau turun 514,48 poin ke level 5.996,14. Bahkan pada awal perdagangan, indeks sempat jatuh lebih dari 9% ke level 5.914,28 sehingga BEI memberlakukan trading halt atau penghentian perdagangan sementara.

Investor diminta waspada

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan aktivitas perdagangan berpotensi melambat dalam beberapa hari ke depan karena investor mulai mengamankan likuiditas menjelang periode libur panjang akhir Mei hingga awal Juni 2026.

“Untuk sentimen domestik, adapun volume perdagangan berpotensi tertahan mengingat bursa akan memasuki libur panjang dalam beberapa hari ke depan, yakni Hari Raya Idul Adha 1447 H dan Hari Lahir Pancasila pada periode akhir Mei hingga awal Juni. Para pelaku pasar berpotensi melakukan aksi profit taking jangka pendek demi mengamankan cash,” kata Nafan dalam keterangannya, dinukil Kamis (28/5/2026).

Menurut dia, kehati-hatian investor juga dipengaruhi proses penyesuaian bobot indeks MSCI kuartalan yang mulai efektif pada 29 Mei 2026. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memilih menunggu arah pasar yang lebih jelas sebelum meningkatkan eksposur pada aset berisiko.

Di tengah sentimen tersebut, pasar saham Indonesia masih dibayangi tekanan eksternal dan keluarnya dana asing dari pasar domestik. Pihaknya mencatat IHSG anjlok 8,35% sepanjang perdagangan 18–22 Mei 2026 hingga ditutup di level 6.162,04.

Penurunan itu terjadi seiring meningkatnya tekanan jual investor asing dan pelemahan nilai tukar rupiah. Kapitalisasi pasar BEI juga menyusut 10,07% menjadi Rp10.635 triliun atau berkurang sekitar Rp1.190 triliun hanya dalam sepekan.

Di lain sisi, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan kondisi pasar saat ini masih rentan karena belum ditopang pemulihan arus modal asing yang solid.

Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). IHSG ditutup melemah ke level 6.094,94 pada perdagangan Kamis (21/5) terkoreksi 223,56 atau sebesar 3,54 persen. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj.

Pada perdagangan Senin (25/5/2026), IHSG memang sempat rebound 0,72% ke level 6.206,35 setelah ditopang penguatan sejumlah saham berkapitalisasi besar seperti AMMN, BBRI, dan BBCA. Namun penguatan itu masih disertai foreign net sell sekitar Rp2,2 triliun menjelang implementasi rebalancing MSCI.

Di saat yang sama, rupiah kembali melemah ke level Rp17.744 per dolar AS. “Selama volatilitas Rupiah masih tinggi dan foreign outflow belum mereda, investor global cenderung tetap defensif terhadap aset domestik. Penguatan pasar saat ini masih relatif rapuh,” kata Rully.

Menurut Rully, perhatian pasar kini tidak lagi hanya tertuju pada inflasi dan arah suku bunga, tetapi mulai bergeser pada risiko perlambatan ekonomi domestik dan global.

Ia menilai kondisi tersebut tercermin dari dinamika pasar obligasi setelah Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin. Pendataran kurva imbal hasil atau flattening yield curve disebut menjadi indikasi pasar mulai memperhitungkan perlambatan pertumbuhan dalam jangka menengah.

“Kenaikan yield tenor pendek pasca kenaikan BI Rate mengindikasikan likuiditas domestik yang semakin ketat, sementara yield tenor panjang yang relatif tertahan menunjukkan pasar mulai mempertimbangkan pelemahan pertumbuhan dalam jangka menengah,” ujarnya.

Rully menambahkan investor kini berada dalam fase lebih selektif dalam menempatkan dana di pasar domestik, terutama di tengah tingginya biaya dana dan tekanan global yang belum mereda.

“Pasar masuk ke fase di mana investor tidak hanya memperhatikan arah suku bunga, tetapi juga sustainability pertumbuhan ekonomi domestik di tengah biaya dana yang meningkat dan tekanan eksternal yang masih tinggi,” tuturnya.

Jangan gegabah

Pergerakan pasar modal Indonesia diperkirakan masih menghadapi tekanan volatilitas jangka pendek setelah libur panjang Hari Raya Idul Adha 2026.

Managing Research Samuel Sekuritas, Harry Su, menilai kondisi tersebut dipicu akumulasi sentimen global selama pasar domestik tidak beroperasi, sementara bursa internasional tetap aktif bergerak merespons berbagai perkembangan ekonomi dan geopolitik.

Menurut Harry, lonjakan volatilitas berpotensi muncul pada hari pertama perdagangan setelah libur panjang akibat penumpukan transaksi beli dan jual yang tertunda selama penutupan bursa nasional.

“Selama bursa Indonesia tutup, pasar global terus bergerak merespons berita ekonomi baru. Ketika bursa domestik dibuka kembali, seluruh pesanan beli dan jual yang tertunda akan masuk secara bersamaan ke sistem perdagangan, memicu pergerakan harga yang lebih tajam,” ujar Harry kepada SUAR, Kamis (28/5/2026).

Ia mengatakan investor domestik akan menghadapi tantangan untuk menyesuaikan diri dengan pergerakan pasar global dan regional yang tetap aktif selama periode libur nasional di Indonesia. Kondisi tersebut dinilai dapat memperbesar tekanan terhadap IHSG pada awal perdagangan.

Harry menjelaskan, salah satu sentimen utama yang akan diperhatikan pasar adalah pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Menurut dia, perubahan kurs USD/IDR di pasar spot internasional selama libur berpotensi memengaruhi psikologis pelaku pasar saat perdagangan kembali dibuka.

Selain itu, arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Fed, juga diperkirakan menjadi perhatian utama investor. Pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury disebut masih memicu kekhawatiran pasar terkait inflasi global dan potensi perubahan aliran modal asing.

Dari sisi eksternal, Harry juga menyoroti ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang dinilai berisiko mengganggu rantai pasok energi global dan mendorong kenaikan harga minyak dunia. Faktor tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di samping itu, evaluasi berkala indeks global oleh penyedia indeks internasional seperti MSCI dan FTSE Russell dinilai masih memberi tekanan tambahan terhadap pasar domestik. Penyesuaian portofolio atau rebalancing oleh investor global disebut dapat memengaruhi arus dana asing di pasar saham Indonesia.

Sementara dari dalam negeri, investor disebut akan mencermati rilis data inflasi, pergerakan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, hingga performa laporan keuangan emiten kuartal terbaru.

Menghadapi kondisi tersebut, Harry menyarankan investor menerapkan strategi defensif pada awal perdagangan. Investor dinilai perlu mengamati arah pergerakan dana institusi sebelum mengambil keputusan transaksi.

“Pendekatan wait and see dalam satu hingga dua jam pertama perdagangan bisa menjadi langkah yang lebih aman untuk membaca arah pasar,” katanya.

Ia juga menilai strategi buy on weakness dapat dipertimbangkan apabila terjadi koreksi tajam akibat aksi jual panik. Menurut dia, saham-saham berfundamental kuat, khususnya sektor perbankan dan konsumen primer, berpotensi menarik untuk dikoleksi ketika valuasi berada di area murah.

Selain itu, Harry mengingatkan pentingnya pengelolaan kas secara ketat di tengah tingginya ketidakpastian pasar. Penggunaan dana margin disarankan dikurangi agar investor memiliki fleksibilitas menghadapi potensi penurunan mendadak.

Di sisi lain, peluang masuknya aliran dana asing jangka pendek setelah libur panjang diperkirakan masih cukup menantang. Harry menilai investor asing berisiko melanjutkan aksi jual bersih (net sell) di pasar domestik apabila tekanan eksternal belum mereda.

Author

Uswatun Hasanah
Uswatun Hasanah

Wartawan Pasar Modal

Baca selengkapnya

Ω