Kelindan Syukur Sally Giovanny di Tiap Helai Kain Batik Trusmi
Kerja keras yang menghasilkan selembar kain batik mengingatkan Sally tidak terlena pada hasil. Memandang diri sebagai perintis, akar Cirebon tak pernah ia lepaskan
Kerja keras yang menghasilkan selembar kain batik mengingatkan Sally tidak terlena pada hasil. Memandang diri sebagai perintis, akar Cirebon tak pernah ia lepaskan
Hasil tidak mengkhianati usaha. Sally Giovanny membuktikannya. Bagi pendiri dan CEO Batik Trusmi Group itu, setiap lembar kain batik meninggalkan jejak tatkala ia masih bertungkus-lumus membesarkan usaha selama 20 tahun hingga menjadi salah satu ikon Kota Cirebon. Di antara goresan lilin malam, terjahit pula kelindan rasa syukur yang mengingatkannya: hidup di dunia cuma sementara.
Dua puluh tahun lalu, Sally mengambil salah satu keputusan terbesar dalam hidupnya. Sementara teman-teman seangkatannya bersiap-siap menjinjing ransel dan melanjutkan pendidikan tinggi ke universitas, Sally memilih naik ke puadai pelaminan di usia 17 tahun. Sang suami, Ibnu Riyanto, terpaut usia hanya enam hari lebih muda darinya.
Setiap keputusan memiliki konsekuensi. Enggan menyambung hidup dari makan gaji, keduanya sepakat merintis usaha menjual kain batik. Bukan bank, amplop pernikahanlah yang menyediakan modal untuk mereka merintis usaha bersama. Tak ada ilmu bisnis. Tak pakai teori manajemen. Hanya tekad sukses dan keberanian yang mereka miliki untuk memulai segalanya.
“Saya mengejar bola, menawarkan batik perorangan door-to-door, berjualan ke toko-toko, sampai bisa menjadi supplier batik. Effort-nya luar biasa,” tutur Sally berterus terang ketika ditemui di Batik Trusmi Store, Jakarta, Senin (28/9/2026).
Butik eksklusif di bilangan Pondok Indah Jakarta ini adalah satu dari tiga cabang Batik Trusmi. Selain Jakarta, kedua cabang lainnya terletak di Medan dan Bali.
Sekali, keinginan memperkenalkan brand batiknya pernah begitu menggebu-gebu, Sally pernah mengejar-ngejar selebritas sampai ke stasiun! Tanpa segan, ia juga pernah menunggu selebriti keluar dari hotel, atau menunggu sebuah event yang dibintangi selebriti itu selesai. Namun, ia tak memaksa selebriti itu membeli produknya.
“Aku cuma ingin ngasih batik dan foto. Fotonya lalu saya pigura, dan saya tempel di toko. Jadi, waktu pembeli melihat ke toko saya, dia lihat ternyata ada artis pakai batik yang saya jual. Itu cara pemasaran dulu,” kisahnya dengan tawa berderai.
Berbahan bakar tekad sederhana menjadi pengusaha sukses, Sally berusaha melakukan upgrading skill agar terus berkembang. Dari sebuah UMKM yang ia kerjakan sendiri dari tahap produksi, packing, hingga kasir dan pengiriman, ikhtiar memperbesar usaha sejalan dengan niat membuka lapangan kerja.
“Dari semula saya benar-benar sendirian, lalu mulai dibantu satu karyawan, dua karyawan, sampai hari ini, alhamdulillah, Trusmi Group sudah mempekerjakan 1.300 karyawan,” tuturnya bangga.
Meski telah berkibar sebagai salah satu produsen dan batik Cirebon terkemuka, Sally masih memiliki mimpi. Terus-terang, ia mengaku terinspirasi Pendiri dan Komisaris Utama Paragon Group Nurhayati Subakat. Visi misi Paragon yang tidak melulu mengejar profit, tetapi berusaha memberdayakan komunitas menjadi besar yang menurut Sally patut diteladani pengusaha muda.
Selain pemberdayaan, prinsip Nurhayati yang berusaha menciptakan produk berkualitas dengan harga terjangkau juga dibawa Sally dalam menjalankan bisnisnya. Jika Nurhayati menekuni kosmetik, Sally berusaha menjadikan produk batiknya memiliki kualitas nomor wahid, dengan harga tak menguras kocek sehingga dapat dikenakan semua orang.
“Terinspirasi Ibu Nurhayati Subakat itulah, saya berprinsip memproduksi barang dengan bahan baku berkualitas dalam jumlah besar akan membuat harga produk akhir menjadi affordable. Sebaliknya, jika kita memproduksi barang berkualitas tinggi, tetapi kuantitasnya hanya sedikit, tentu cost akan naik,” tuturnya.
Keterlibatan penuh menjalankan roda bisnis menjadi teladan lain Nurhayati. Hingga kini, meski tengah menikmati akhir pekan, tak jarang ia harus menyambangi butiknya ketika menyambut tamu rombongan yang ingin dipandu. Kesempatan menjadi guide itupun memperdalam pengetahuan Sally akan makna produk yang dijualnya.
“Saya senang menjelaskan dan memadupadankan kain batik, serta membantu pelanggan menemukan seleranya. Dari gaya seorang pelanggan yang datang, saya bisa menyarankan tone warna yang cocok, dan mix and match mereka. Sering ada ibu-ibu rombongan minta saya temani keliling toko, dan saya senang untuk hadir di situ bersama mereka,” ujar Sally.
Dua puluh tahun merintis dan membesarkan Batik Trusmi, Sally berterus terang tak jarang waktu 24 jam sehari dan 7 hari sepekan didedikasikan untuk usahanya. Namun, di kala letih, ia memiliki satu pelarian kecil dari suntuk dan jenuh: membuka lembaran-lembaran kain batik.
“Ketika aku melihat batik, aku bisa membayangkan betapa ini dikerjakan sepenuh hati. Aku bahagia di situ. Orang kadang bingung, tetapi setiap aku buka-bukain batik itu, aku ingat 20 tahun lalu aku membuka lembaran batik, dilipat lagi, membereskan batik dagangan setiap malam, dibuka lagi pagi-pagi. Itu pengalaman yang tidak terlupakan bagi saya,” kisah Sally.
Di sela-sela kesibukannya mengembangkan bisnis, Sally tetap meluangkan waktu untuk family time di akhir pekan. Wisata pantai pun menjadi aktivitas favorit Sally sekeluarga. Tak sekadar refreshing, aktivitas berwisata dan melihat bentang alam itu juga menjadi sumber inspirasi yang tak kunjung habis, terutama untuk mengembangkan motif-motif batik
“Waktu melihat matahari terbenam, saya berpikir kalau dibuat motif batik, bagus juga. Atau lanskap pantai dengan pasir, lanskap pegunungan dengan pohon-pohon pinusnya. Saya sering dapat inspirasi ketika family time seperti itu,” ungkap Sally.
Pentingnya waktu bersama keluarga juga membuat Sally terinspirasi mengembangkan lini bisnis Batik Trusmi Kids yang tersedia dalam berbagai varian untuk anak berusia mulai 1 tahun sampai remaja. Warna dan corak pun dapat dipadupadankan dalam paket couple seragam antara ayah, ibu, dan anak.
“Jadi ketika mereka satu keluarga jalan-jalan, batiknya bisa couple antara orang tua, anak perempuan, anak laki-laki. Semua lengkap dari usia 1 tahun sampai remaja, semua ada,” ucapnya.
Memiliki hampir segala yang didambakan orang kebanyakan di usia belum genap 40 tahun, Sally menyadari ia hanya menjaga titipan Yang Maha Kuasa. Buah dari kesadaran dan rasa syukur itulah yang mendorongnya untuk mendirikan Yayasan Rizki Berlimpah Berkah sejak 2011.
Melalui yayasan yang telah mengelola 7 rumah tahfiz ini, Sally bekerja sama dengan Dompet Dhuafa dan Rumah Zakat untuk memberdayakan anak-anak yatim dan dhuafa. Selain peralatan sekolah dan biaya pengobatan, pengelolaan yayasan ini juga diarahkan untuk memberi kail yang memberdayakan, bukan sekadar umpan.
“Kita bukan yang sekadar memberi satu kali, putus. Kami ingin anak-anak yatim dan dhuafa belajar berusaha. Mungkin ini dorongan hati sebagai pengusaha, saya berpikir cara memberdayakan mereka, bukan sekadar memberikan sebagai sedekah,” ujar Sally.
Dengan membangun Yayasan Rizki Berlimpah Berkah, Sally berusaha menemukan kepuasan batin. Setiap pundi rezeki yang ia terimapun menjadi lebih bermakna karena ia telah menjalankan kewajiban dan perannya secara seimbang.
“Ini semua hanya titipan, maka saya ingin menjadi sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat di jalan-Nya yang lurus,” tukas Sally.
Sukses mengembangkan bisnis, Sally tak jemu-jemu mengingatkan putra-putrinya untuk menjaga kearifan lokal sebagai visi-misi Batik Trusmi, apabila kelak di masa depan menjadi penerus bisnis tempat ribuan orang menggantungkan nasib ini.
“Kita ingin mengangkat kearifan lokal dengan kualitas standar internasional. Itu tidak boleh dihilangkan. Batik Trusmi adalah perjuangan membatikkan dunia, maka kearifan lokal itu tidak boleh hilang. Kita ingin meninggi global tanpa kehilangan akar kearifan lokal, mempersembahkan yang terbaik dari Cirebon untuk dunia,” pungkas Sally.