Jangan Takut Istirahat!
Zaman dulu orang takut dengan ancaman. Orang modern kekinian takut beristirahat. Kok bisa?
Zaman dulu orang takut dengan ancaman. Orang modern kekinian takut beristirahat. Kok bisa?
“Saya biasanya hanya tidur sekitar 0 sampai 3 jam semalam. Saya bekerja, bekerja, bekerja, bekerja, dan bekerja…”
Demikian perkataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi beberapa waktu lalu yang cukup menggegerkan seperti dikutip dari berbagai media seluruh dunia. Ini jadi menggegerkan karena menggambarkan betapa Takaichi itu sungguh gila kerja.
Ada yang pro dan ada yang kontra. Kalangan pro memujinya karena sebagai pejabat publik, dia mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan dirinya sendiri, bahkan kesehatannya. Dia seakan-akan betul-betul telah “mewakafkan” jiwa dan raganya untuk negaranya.
Namun, juga ada kalangan kontra yang berpandangan bahwa seorang pemimpin justru perlu memiliki jiwa raga yang sehat agar bisa menjalankan pemerintahan dengan optimal. Kelelahan mental dan fisik justru malah akan kontraproduktif tak hanya bagi Takaichi, tetapi juga merugikan negara itu secara keseluruhan.
Gejala kerja berlebih bahkan gila kerja ini agaknya sudah mulai menjamur di kalangan pekerja bahkan eksekutif perusahaan di Indonesia. Secara sadar maupun tidak sadar, makin banyak dari kita yang bekerja lebih keras bahkan hingga masuk tahap gila kerja.

Seiring makin cepatnya dan derasnya arus informasi, maka semakin cepat juga ritme hidup dan pekerjaan kita. Segala hal seakan mendesak dan harus direspons bahkan diselesaikan sesegera mungkin. Kendati banyak hal bisa selesai lebih cepat dengan bantuan teknologi, namun ironisnya, kecepatan informasi itu jugalah yang mendorong makin banyak tugas yang datang.
Kok bisa ya?
Dorongan kerja berlebih ini pun datang menghujam dari berbagai arah. Coba tengok media sosial kita, banyak orang berlomba-lomba memamerkan kesuksesannya. Melihat mereka yang sukses itu seakan menyuntikkan ilusi bahwa diri ini seperti tertinggal dari orang-orang itu.
Gejala ini biasa juga disebut Fear of Missing Out (FOMO). Ada perasaan cemas dan ketakutan apabila kita tertinggal dari pencapaian orang lain. Seperti perlombaan balap mobil, lambat sedikit kita bakal disalip orang lain.
Belum lagi soal terus merebaknya waham soal time is money. Membuang-buang waktu sama pula seperti membuang-buang uang.
Apalagi in this economy yang penuh ketidakpastian dan kekhawatiran, maka segala peluang yang datang walau di akhir pekan waktunya istirahat, ya harus segera ditangkap secepatnya. Kalau tidak, ya rugi sendiri. Begitu kira-kira.

Semua hal itu lantas berkelindan sehingga memunculkan gejala productivity guilt. Diri ini lantas merasa bersalah atau tak berguna saat sedang beristirahat, santai, ataupun tidur. Dalam gejala lebih ringan, ada pula orang yang secara fisik berada di rumah berusaha bersantai tapi pikiran dan perhatiannya masih pada pekerjaan atau bisnisnya.
Kita takut untuk beristirahat!
Menurut ahli psikologi dan sumber daya manusia, Steven E. Hobfoll, dalam teori konservasi sumber daya menyebut, manusia merupakan aset terdepan dan paling berharga dari perusahaan. Sebagaimana aset yang berharga, maka aset itu juga perlu pengelolaan yang tepat.
Persoalannya, manusia memiliki sumber daya fisik dan mental yang terbatas. Maka, bekerja terus-menerus akan menguras sumber daya tersebut. Dampaknya tentu akan berpengaruh ke kinerja perusahaan atau lembaga itu sendiri.
Sejatinya, istirahat itu juga momen produktif yang tidak banyak disadari.
Contoh paling gamblang dari dunia olahraga. Seorang bintang sepakbola kaliber top Eropa saja tidak bisa bertanding setiap hari. Liga top Eropa selalu memberikan jeda 3-7 hari antara satu pertandingan ke pertandingan lainnya. Sebab, mereka pun juga membutuhkan waktu istirahat memulihkan stamina dan kondisi tubuhnya.
Saat mereka tidak bertanding, itu bukan berarti mereka pemalas atau makan gaji buta. Itu justru waktu produktif bagi tubuhnya untuk mengisi ulang kembali jiwa dan raganya agar siap melakoni pertandingan berikutnya. Karena tubuh manusia memang dirancang oleh Tuhan sedemikian rupa yang secara biologis tetap membutuhkan istirahat.

Hobfoll juga mengusulkan, agar produktivitas bisa tetap optimal dan energi sumber daya tidak terkuras, maka pemimpin atau manajer di perusahaan perlu membentuk sistem yang handal. Adapun sistem itu berupa pembagian kerja dengan memperhatikan tanggung jawab, bobot, dan beban kerja yang seimbang. Jadi output bisa maksimal, sumber daya manusia pun tetap bekerja optimal.
Saat bekerja pun, tiap pekerja sebaiknya menjaga fokusnya agar setiap detik dan menit itu memberikan hasil maksimal. Salah satu kiatnya adalah dengan teknik Pomodoro yakni pola 25 menit bekerja dan 5 menit istirahat. Setiap 4 siklus, ambil istirahat lebih lama 15-30 menit. Ini agar konsentrasi dan fokus bisa terjaga, namun tetap memberikan kesempatan mengendurkan badan dan pikiran.
Jadi, jangan takut untuk istirahat!