Eskalasi perang Iran - Amerika Serikat yang berdampak ke kawasan Timur Tengah diprediksi akan mengubah arah investasi energi global karena terganggunya rantai pasok, demikian menurut laporan International Energy Agency (IEA) terbaru.
Laporan yang dirilis akhir Mei itu menyebut investasi di sektor minyak global akan turun untuk tahun ketiga berturut-turut pada 2026, menyebabkan kekhawatiran akan gangguan arus perdagangan energi.
Ini menyebabkan perusahaan energi meninjau ulang strategi investasi mereka. Fokus investasi kini semakin bergeser ke upaya memperkuat ketahanan energi dan mendiversifikasi sumber pasokan, demikian laporan tersebut.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan dunia tengah menghadapi krisis keamanan energi besar yang diperkirakan akan meninggalkan dampak jangka panjang terhadap pola investasi global.
Menurutnya, situasi saat ini berpotensi membentuk ulang strategi investasi energi dunia, serupa dengan perubahan besar yang terjadi setelah krisis minyak pada dekade 1970-an.
"Kita sedang berada di tengah krisis keamanan energi terbesar yang pernah dihadapi dunia. Saya percaya kondisi ini akan membentuk ulang strategi investasi secara global, sebagaimana perubahan besar yang terjadi setelah krisis minyak pada 1970-an," ujarnya dalam laporan.
Menurutnya, negara-negara produsen maupun konsumen energi kini semakin gencar melakukan diversifikasi jalur perdagangan dan sumber energi. Upaya tersebut mencakup pembangunan jaringan pipa baru dan infrastruktur pasokan energi lainnya, sekaligus peningkatan pemanfaatan sumber daya energi domestik.
IEA mempekirakan meski konflik di Timur Tengah menimbulkan efek destabilisasi yang signifikan, aliran modal ke sektor energi diperkirakan tetap tumbuh menjadi US$3,4 triliun pada 2026, atau naik 5% dibandingkan pada 2025.
Dari jumlah tersebut, sekitar US$2,2 triliun akan dialokasikan untuk jaringan listrik, penyimpanan energi, bahan bakar rendah emisi, tenaga nuklir, energi terbarukan, efisiensi energi, dan elektrifikasi. Sementara sekitar US$1,2 triliun akan diinvestasikan pada sektor minyak, gas alam, dan batu bara.
Menariknya, di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah, investasi sektor minyak justru diproyeksikan turun untuk tahun ketiga berturut-turut pada 2026.
Nilainya diperkirakan turun menjadi di bawah US$500 miliar, meskipun sebagian besar produsen menikmati peningkatan pendapatan akibat kenaikan harga minyak.
Menurut IEA, konflik justru menciptakan ketidakpastian baru bagi industri migas. Di kawasan Timur Tengah, investasi direvisi turun karena terganggunya pendapatan ekspor sejumlah negara produsen seperti Irak dan Kuwait yang sangat bergantung pada jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
Sejumlah proyek juga mengalami penundaan akibat konflik yang berkepanjangan. Sementara itu, di luar Timur Tengah, respons investasi jangka pendek masih terbatas. Perusahaan minyak masih menahan ekspansi karena belum yakin berapa lama lonjakan harga minyak akan bertahan.
"Di samping itu, investasi juga terhambat oleh siklus proyek yang panjang, keterbatasan infrastruktur, menipisnya portofolio eksplorasi, serta ketatnya pasar rig lepas pantai," bunyi laporan tersebut.
Sebaliknya, investasi gas alam diproyeksikan meningkat menjadi US$330 miliar, level tertinggi dalam satu dekade terakhir. Kenaikan ini didorong oleh gelombang proyek ekspor gas alam cair (LNG) baru, terutama di Amerika Serikat dan Qatar.
Laporan tersebut juga mencatat meningkatnya minat negara-negara pengimpor energi terhadap sumber energi yang tersedia di dalam negeri, seperti energi terbarukan, tenaga nuklir, dan dalam beberapa kasus batu bara.
Baca juga:

Investasi pada proyek energi terbarukan diperkirakan mencapai sekitar US$665 miliar pada 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar US$365 miliar akan dialokasikan untuk pembangkit listrik tenaga surya.
Meskipun pertumbuhan investasi energi terbarukan mulai melambat setelah beberapa tahun berkembang pesat, sumber energi rendah emisi masih menyumbang lebih dari 70% investasi pembangkit listrik global.
Sementara itu, investasi energi nuklir terus menunjukkan tren kebangkitan dengan nilai investasi tahunan melampaui US$80 miliar.
Secara keseluruhan, laporan IEA menunjukkan bahwa krisis energi akibat konflik Timur Tengah tidak otomatis mendorong lonjakan investasi minyak. Sebaliknya, banyak negara dan perusahaan mulai mengarahkan investasi ke sektor yang dianggap mampu meningkatkan ketahanan energi jangka panjang, termasuk jaringan listrik, energi terbarukan, nuklir, dan infrastruktur energi domestik.
Dorong percepatan implementasi kerja sama sektor energi
Di tengah pergeseran lanskap energi global tersebut, Indonesia berupaya mempercepat realisasi berbagai kerja sama strategis di sektor energi. Salah satunya melalui penguatan kemitraan dengan Jepang yang dibahas dalam pertemuan bilateral Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takachi di Tokyo pada Maret lalu.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang turut mendampingi Prabowo mengatakan pemerintah mendorong percepatan implementasi kerja sama sektor energi dan mineral antara Indonesia dan Jepang, termasuk pengembangan proyek gas, panas bumi, serta energi baru terbarukan.
"Pertemuan ini mempertegas arah kerja sama Indonesia-Jepang di sektor energi dan mineral, termasuk dalam mendorong hilirisasi dan pengembangan energi baru terbarukan yang menjadi prioritas nasional," ujar Bahlil dalam keterangan resmi.
Pemerintah juga menargetkan percepatan realisasi investasi Jepang pada proyek-proyek strategis nasional, termasuk keterlibatan INPEX Corporation dalam proyek gas Abadi di Blok Masela. Langkah tersebut sejalan dengan tren global yang menunjukkan meningkatnya investasi pada sektor gas alam dan LNG sebagai bagian dari upaya negara-negara memperkuat ketahanan energi di tengah ketidakpastian pasokan global.
Selain proyek gas, Indonesia dan Jepang juga menjajaki penguatan kerja sama di bidang energi terbarukan, energi nuklir, mineral kritis, dan rare earth.
Presiden Prabowo menyatakan pemerintah terbuka terhadap partisipasi Jepang dalam pengembangan industri hilirisasi dan proyek energi bersih di Indonesia sebagai bagian dari transformasi sektor energi nasional.
"Kami juga terbuka untuk kerja sama di bidang energi terbarukan dan energi nuklir. Kami juga akan mendorong Asia Zero Emission Community, di mana perusahaan-perusahaan Jepang terlibat di Indonesia," kata Prabowo.

Aktif mencari sumber pasokan baru
Sementara itu, Managing Director Energy Shift Institute Putra Adhiguna menilai konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong perubahan besar dalam arah investasi energi global. Menurutnya, ketidakpastian pasokan minyak dan gas dari kawasan tersebut akan membuat banyak negara dan perusahaan energi semakin aktif mencari sumber pasokan baru di luar Timur Tengah.
Pandangan tersebut sejalan dengan temuan IEA yang menyebut krisis energi akibat gangguan di Selat Hormuz telah mendorong negara-negara untuk memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi sumber pasokan dan jalur perdagangan energi.
Selain diversifikasi wilayah pasokan, Putra mengatakan diversifikasi jenis energi juga akan menjadi fokus utama investasi ke depan.
"Ke depannya krisis ini menunjukkan bahwa suplai minyak dan suplai gas dunia terus-menerus akan berada dalam kondisi yang tidak stabil. Nah, ke arah sana tentunya investasi di dalam energi-energi lain, baik itu energi terbarukan, nuklir, dan yang lain-lain kelihatannya akan semakin diseriusi," katanya pada SUAR, Rabu (03/06/2026).
Dalam konteks Indonesia, Putra menilai proyek LNG Abadi di Blok Masela dapat memperoleh momentum dari perubahan lanskap energi global tersebut. Menurutnya, proyek yang digarap oleh INPEX bersama mitranya itu berpotensi menjadi salah satu sumber pasokan gas alternatif di luar Timur Tengah.
Ia menjelaskan bahwa meningkatnya perhatian terhadap diversifikasi pasokan energi dapat menjadi faktor pendukung bagi pengembangan Masela.
"Terlebih kalau memang target penjualannya, misalkan, antara penggunaan domestik dan juga negara-negara seperti Jepang, begitu ya. Seperti kita tahu, Jepang ketergantungan terhadap Timur Tengahnya kan sangat tinggi dan hal ini tentunya akan menjadi tambahan dorongan untuk mereka mendiversifikasikan sumber gas mereka," katanya.