Fleksibilitas Dalam Mendiversifikasi Sumber Energi Nasional

Pemerintah memberi ruang bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Layanan Umum (BLU) agar lebih fleksibel melakukan impor energi secara langsung dari luar negeri. 

Fleksibilitas Dalam Mendiversifikasi Sumber Energi Nasional

Untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global, pemerintah akan memberi ruang fleksibilitas dalam memilih sumber energi didasarkan pada pertimbangan kualitas minyak mentah (crude oil), efisiensi waktu distribusi, lokasi pengiriman, serta pergerakan fluktuasi harga internasional di pasar global. Tak terkecuali bagi sumber energi dari Rusia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), upaya memperluas akses ke pasar Rusia sangat beralasan jika melihat tren historis volume impor minyak bumi dan produk olahannya. Pada periode 2021-2022, volume impor sempat menurun dari 104,98 ribu ton menjadi titik terendah sebesar 70,39 ribu ton dengan kontribusi hanya 4,5% dari total impor bahan bakar mineral. 

Pasca tahun 2022, terjadi lonjakan yang signifikan. Pada tahun 2023, volume impor meroket menjadi 447,73 ribu ton (10,2%) dan sempat sedikit terkoreksi ke angka 359,69 ribu ton (6,4%) pada 2024. Puncaknya terjadi pada tahun 2025, di mana volume impor mencatatkan rekor tertinggi sebesar 1.620,92 ribu ton atau setara dengan 19% dari total impor bahan bakar mineral Indonesia. 

Memasuki kuartal pertama tahun 2026 (Januari-Maret), volume impor tercatat telah mencapai 707,52 ribu ton dengan pangsa yang kian mendominasi hingga mencapai 23,9% dari total impor bahan bakar mineral. Hal ini memberi gambaran terbentuknya ketergantungan baru pada Rusia untuk memperkuat cadangan energi nasional.

Namun, pada sektor gas (LPG), berdasarkan data impor LPG sepanjang tahun 2025, Indonesia bergantung pada pasokan dari Amerika Serikat. Volume impor LPG (kode HS 27111200, 27111300, dan 27111900) di tahun 2025 mencapai 5.263.245 ton dengan nilai impor menembus 2,61 miliar dolar AS.

Setelah AS, impor LPG selanjutnya berasal dari negara-negara Timur Tengah, seperti Qatar sebesar 887.132,29 ton dengan nilai 473,45 juta dolar AS dan Uni Emirat Arab total 878.324,72 ton dengan nilai 490,47 juta dolar AS. 

Sementara kontribusi dari negara lain seperti Kuwait, Arab Saudi, Australia, hingga Malaysia tergolong sangat kecil. Ketergantungan yang sangat timpang pada satu wilayah atau negara tertentu untuk komoditas vital seperti LPG ini menempatkan Indonesia pada posisi rentan terhadap gejolak harga, gangguan rute pelayaran global, maupun stabilitas politik di negara sekutu utama tersebut.

Dengan masuknya Rusia ke dalam daftar pemasok energi di luar negara-negara Timur Tengah, Afrika, dan Amerika, Indonesia kini memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat di pasar internasional. 

Kebijakan yang memberi ruang fleksibilitas dalam penyediaan energi memungkinkan PT Pertamina untuk mengalihkan atau menambah porsi pasokan secara dinamis sesuai dengan harga global yang fluktuatif demi keuntungan fiskal.

Baca selengkapnya

Ω