Selamat pagi, Chief…
Berikut informasi penting terkait pengembangan semesta dunia usaha yang perlu mendapat perhatian hari ini berdasarkan kurasi Tim SUAR.

LPG dan Bahan Baku Plastik Kini Bebas Bea Masuk
- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Selasa (28/4/2026) mengumumkan akan memberikan insentif berupa pembebasan bea masuk impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dan sejumlah bahan baku plastik kemasan. Langkah darurat ini diambil untuk menjaga napas industri manufaktur, khususnya sektor petrokimia serta makanan dan minuman (mamin), yang kian terimpit lonjakan harga komoditas global. "Kemarin Bapak Presiden juga meminta kepada Menteri ESDM untuk mencarikan sumber-sumber nafta yang lain. Namun sebagai langkah ini adalah impor LPG bea masuknya diturunkan dari 5% menjadi 0%. Sehingga refinery bisa memperoleh bahan baku alternatif dari nafta ke LPG," kata Airlangga dalam konferensi pers di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (28/04/2026).
- Selain LPG, pemerintah juga memberikan relaksasi terhadap bahan baku plastik. Airlangga menyebut harga plastik saat ini naik hingga 100%, sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga kemasan atau packaging yang berdampak pada produk makanan dan minuman.


Kepatuhan Pajak Berbanding Lurus dengan Coretax
- Jelang tenggat pelaporan SPT Tahunan PPh tahun pajak 2025, Kementerian Keuangan mempertimbangkan perpanjangan waktu pelaporan. Kepatuhan wajib pajak masih rendah akibat performa Coretax. Total pelaporan SPT terkini baru menyentuh 78,2% dari target total SPT Tahunan terlapor, yaitu sebanyak 15,27 juta SPT Tahunan. Apabila ditarik berdasarkan jumlah total wajib pajak yang terdata dalam sistem DJP sebanyak 19,05 juta, maka total rasio kepatuhan pajak baru mencapai 62,7%.

Shan Saeed: Ekonomi Indonesia Tetap Prospektif di Tengah Tekanan Global
- Ekonom Utama Juwai IQI Global Shan Saeed menyebut Indonesia berpeluang besar merebut kembali sorotan ekonomi dunia dengan strategi reformasi yang tepat. Shan Saeed memaparkan pandangannya mengenai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini, di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, sekaligus mengulas sejumlah strategi yang dinilai penting untuk menjaga stabilitas dan ketahanan ekonomi nasional. Berikut beberapa pandangan Shan Saeed terkait prospek ekonomi Indonesia ke depan yang dikurasi wartawan SUAR Ridho Syukra.

Belajar dari Negeri Tirai Bambu
- Balai desa Purwosono di Lumajang kini tak lagi sama. Gedung yang dulu sepi itu kini bersulih rupa menjadi tempat berkumpul warga. Lahan-lahan yang dulunya tandus dan dibiarkan mati, sekarang tampak dengan suara riuh penonton tanding bola voli antar desa di atas lapangan baru yang rapi. Kepala Desa Purwosono, Hendrik Dwi Martono, masih ingat betul kunjungannya ke Provinsi Anhui, Tiongkok, akhir 2023 lalu. Di sana, ia bersama para kepala desa Indonesia diajak melihat langsung bagaimana desa-desa di Negeri Tirai Bambu menata ruang, mengelola pertanian, hingga membangun fasilitas publik. Ia menceritakan kesempatan ke China itu tak disia-siakannya. Tak hanya diajak berkeliling provinsi dan desa di China. Ia dan kepala-kepala desa lainnya diajari bagaimana merevitalisasi desa baik dalam hal pertanian, teknologi, pembangunan dan tata kelola ruang maupun bidang administrasi.


Reindustrialisasi, Kunci Pertumbuhan Ekonomi di Atas 5%
- Ciri negara maju adalah memiliki industri dan ekspor yang kuat. Indonesia memerlukan peta jalan yang tepat dan waktu yang mungkin cukup panjang untuk membangkitkan kembali sektor industri. Selama seperempat abad terakhir, kinerja sektor industri manufaktur Indonesia menurun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi sektor industri manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sejak 2000 hingga 2025 cenderung menurun. Kontribusi tertinggi sektor industri terjadi tahun 2001 dengan persantase di angka 30,1%. Sejak itu peran sektor industri terus menurun hingga di tahun 2025 menjadi 19,07%. Penurunan yang tajam terjadi pada periode 2009-2010, yakni dari 26,38% (2009) menjadi 22,04% (2010). Tahun 2022, peran sektor industri berada di titik terendah, yakni 18,34%.

Ironi Tata Kelola Anggaran di Balik Potensi Ekonomi Kalimantan Timur
- Kalimantan Timur yang tengah menjadi sorotan publik karena polemik terkait tata kelola anggaran adalah provinsi yang kaya sumber daya alam dengan pundi-pundi daerah yang besar. Pertumbuhan ekonominya mencapai 6% (2024), yang bertumpu pada kegiatan sektor jasa, industri pengolahan, dan perdagangan. Menilik data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan, Bumi Etam atau Kalimantan Timur memiliki fondasi ekonomi yang sangat kuat dan dinamis. Sektor jasa memegang peranan penting dalam perekonomian Kaltim, terlihat dari pertumbuhan lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum yang melonjak drastis dari 2,07% pada 2021 menjadi 13,03% pada 2025. Tren positif ini juga diikuti oleh sektor jasa lainnya yang konsisten naik hingga mencapai 12,53% di periode yang sama.


Rilis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April 2029. Kementerian Perindustrian akan merilis laporan ini pada Rabu 29 April 2026 pukul 14.00 WIB di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta. Laporan ini dijadikan acuan untuk melihat bagaimana geliat dan keyakinan dunia usaha.
Rilis perkembangan APBN edisi April 2026. Kementerian Keuangan rencananyaakan merilis APBN KiTa edisi April 2026 pada Rabu 29 April 2026 pukul 13.30 WIB di Aula Djuanda, Gedung Djuanda, Kementerian Keuangan, Jakarta. Hadir memberikan keterangan adalah Menteri Keuangan, Wakil Menteri Keuangan, dan para pejabat eselon I Kementerian Keuangan.

"Selalu berikan yang lebih dari diharapkan. Jika Anda mengubah dunia, Anda sedang mengerjakan hal-hal penting. Anda akan bersemangat bangun di pagi hari." (Larry Page - Co Founder Google)
Selamat beraktivitas, Chief.
Tim SUAR