Belajar dari Negeri Tirai Bambu

Buku Xi Jinping: The Governance of China (Volume V) telah diterjemahkan ke 44 bahasa, termasuk Jerman, Prancis, Spanyol, dan Rusia.

Belajar dari Negeri Tirai Bambu
Dubes China Wang Lutong (kiri) bersama Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman (ke-2 kiri) dan Ketua MPR RI Ahmad Muzani (ke-2 kanan) pada acara Peluncuran buku Xi Jinping: The Governance of China (Volume V) edisi bahasa Inggris di Jakarta, Selasa (28/4/2026). Foto: Tria Dianti/ SUAR.id.

Balai desa Purwosono di Lumajang kini tak lagi sama. Gedung yang dulu sepi itu kini bersulih rupa menjadi tempat berkumpul warga. Lahan-lahan yang dulunya tandus dan dibiarkan mati, sekarang tampak dengan suara riuh penonton tanding bola voli antar desa di atas lapangan baru yang rapi. 

Kepala Desa Purwosono, Hendrik Dwi Martono, masih ingat betul kunjungannya ke Provinsi Anhui, Tiongkok, akhir 2023 lalu. Di sana, ia bersama para kepala desa Indonesia diajak melihat langsung bagaimana desa-desa di Negeri Tirai Bambu menata ruang, mengelola pertanian, hingga membangun fasilitas publik. 

"Saya belajar bagaimana komposisi bangunan di pedesaan sana diatur. Kini, Balai Desa kami mengalami metamorfosa, mulai dari desain hingga peruntukannya," ujar Hendrik dengan nada bangga, sembari menunjukkan foto-foto perubahan desanya dalam acara peluncuran buku Xi Jinping: The Governance of China (Volume V) di Jakarta, Selasa (28/4/2026). 

Balai desa yang terletak di lereng gunung Semeru itu kini memiliki galeri promosi produk unggulan. Warga datang bukan lagi karena terpaksa mengurus surat, tapi untuk belajar dan berwisata lokal. "Prinsipnya sederhana, bagaimana warga datang dengan senang dan pulang membawa kesan," tambah Hendrik. 

Ia menceritakan kesempatan ke China itu tak disia-siakannya. Tak hanya diajak berkeliling provinsi dan desa di China. Ia dan kepala-kepala desa lainnya diajari bagaimana merevitalisasi desa baik dalam hal pertanian, teknologi, pembangunan dan tata kelola ruang maupun bidang administrasi.

“Saat ini kami bisa mempromosikan desa kami, ada galeri, promosi produk keunggulan desa, pokoknya bagaimana cara warga datang dengan senang dan pulang membawa kesan,” kata dia. 

Kepala Desa Purwosono, Hendrik Dwi Martono saat menceritakan kisahnya di acara peluncuran buku Xi Jinping: The Governance of China (Volume V) di Jakarta, Selasa (28/4/2026). Foto: Tria Dianti/SUAR.id.

Kisah serupa disampaikan Ari Setiawan. Kapala Desa Krasak  Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang Jawa Tengah ini juga menceritakan bagaimana desa dengan 44.000 penduduk di sembilan dusun sudah bertransformasi. 

Hal itu terjadi sepulang dia kembali dari China. Ia membawa “oleh-oleh” berupa pengetahuan menata ruang di desa. Bahkan desanya kini menyediakan sebuah rest area yang berdiri di tepian Gunung Sumbing untuk pelancong beristirahat sejenak.

Terlebih lagi, kata dia, China membantu mengidentifikasi permasalahan secara menyeluruh kemudian mengizinkan ilmu yang didapatkan di China bisa ditiru untuk membangun desa. 

“Pasar kami yang tadinya becek, semrawut kini menjadi lebih bersih, tertata dan memiliki atap. Sehingga warga bisa belanja dengan nyaman di sana,” ujar Ari.

Memasuki triwulan pertama 2026, nilai investasi China ke Indonesia mencatatkan lonjakan signifikan. Nilainya menembus 2,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp38 triliun, naik 22 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Data yang dirilis Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan hampir separuh dari dana tersebut diarahkan ke sektor hilirisasi industri. Porsi investasi di bidang prioritas ini mencapai Rp17,5 triliun, setara dengan 1,02 miliar dolar AS.

Kenaikan investasi dari Negeri Tirai Bambu ini terbilang agresif, jauh melampaui pertumbuhan Penanaman Modal Asing (PMA) nasional yang hanya mencatat kenaikan 8,5 persen secara tahunan.

Dengan capaian tersebut, China tetap bertahan sebagai investor asing terbesar ketiga di Indonesia pada awal tahun ini. Posisi pertama masih dipegang Singapura dengan 4,6 miliar dolar AS, disusul Hong Kong di urutan kedua dengan 2,7 miliar dolar AS.

Peluncuran buku

Kisah kedua kepala desa itu menjadi gambaran bagaimana pengalaman belajar ke China memberi dampak langsung bagi pembangunan desa di Indonesia. Transformasi desa-desa kecil ini merupakan gagasan besar yang dituangkan dalam buku Xi Jinping: The Governance of China (Volume V).

Peluncuran buku edisi bahasa Inggris tersebut dihadiri berbagai tokoh, mulai dari Duta Besar Tiongkok Wang Lutong, Ketua MPR Ahmad Muzani, Presiden China International Communications Group Chang Bo, hingga Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara.

Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong usai acara peluncuran buku Xi Jinping: The Governance of China (Volume V) di Jakarta, Selasa (28/4/2026). Foto: Tria Dianti/SUAR.id.

Duta Besar China untuk Indonesia, Wang Lutong, menekankan bahwa buku ini telah diterjemahkan ke 44 bahasa, termasuk Jerman, Prancis, Spanyol, dan Rusia. “Karya ini menunjukkan bagaimana Tiongkok menghadapi perubahan dunia, mengentaskan kemiskinan terbesar dalam sejarah, dan membangun tata kelola yang efektif,” ujarnya.

Jilid pertama buku Xi Jinping sendiri diterbitkan tahun 2014. Buku tersebut berisi pemikiran dan filosofi pemimpin negara terpadat dengan 1,4 miliar penduduk. Ia menekankan bahwa keberhasilan Tiongkok mengentaskan kemiskinan ekstrem dalam sejarah dunia adalah hasil dari model tata kelola yang efektif dan memprioritaskan kesejahteraan rakyat. 

“Didalamnya Xi berkisah bagaimana menghadapi perubahan dunia. Buku ini seperti pedoman bagaimana memahami China dengan berbagai inisiatif pembangunan, keamanan dan tata kelola global dan cara menghadapi masalah global,” kata dia. 

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman (kiri) dan Ketua MPR RI Ahmad Muzani (kedua kiri), Presiden China International Communications Group, Chang Bo dan Dubes China Wang Lutong (kanan) pada acara Peluncuran buku Xi Jinping: The Governance of China (Volume V) edisi bahasa Inggris di Jakarta, Selasa (28/4/2026). (Foto: Tria Dianti/ SUAR)

Presiden China International Communications Group, Chang Bo, pengalaman Tiongkok bisa menjadi inspirasi bagi Indonesia, terutama dalam hal infrastruktur, pengentasan kemiskinan, dan tata kelola pemerintahan. “Hubungan kedua negara sudah terjalin puluhan tahun dengan lebih dari 600 kerja sama. Buku ini bisa menjadi panduan strategis,” katanya. 

Ia menekankan China telan bekerja sama dengan baik dengan Indonesia melalui kerjasama kemitraan strategis. “Diharapkan Indonesia bisa meniru China dalam hal pengentasan kemiskinan, infrastruktur dan tata kelola menciptakan good governance,” ujarnya

Ketua MPR Ahmad Muzani melihat buku tersebut sebagai refleksi atas stabilitas dan pemerataan yang dicapai Tiongkok. “Kita perlu banyak belajar bagaimana negara dengan populasi miliaran bisa bersatu dan stabil. Itu penting bagi para kepala desa untuk memahami pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah menekankan pentingnya kerja sama dalam membangun human capital dan ketahanan pangan. “Diplomasi bukan sekadar tanda tangan, tapi sejauh mana berdampak nyata bagi masyarakat,” katanya.

Baca selengkapnya

Ω