Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) menggelar Media Discussion bertajuk “Menakar Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Global” di kantor Bakom RI, kawasan Gambir Jakarta Pusat, Selasa (28/4) dengan menghadirkan Global Chief Economist Juwai IQI, Shan Saeed, sebagai pembicara utama.
Dalam forum tersebut, Shan Saeed memaparkan pandangannya mengenai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini, di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, sekaligus mengulas sejumlah strategi yang dinilai penting untuk menjaga stabilitas dan ketahanan ekonomi nasional. Berikut beberapa pandangan Shan Saeed terkait prospek ekonomi Indonesia ke depan yang dikurasi wartawan SUAR, Ridho Syukra. Petikannya:
Bagaimana Anda melihat prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini di tengah gejolak global?
Saya memperkirakan ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh pada kisaran 5 persen tahun ini. Meskipun tekanan global seperti ketidakpastian pasar keuangan, tensi geopolitik, dan perlambatan ekonomi di beberapa negara maju masih membayangi, fundamental ekonomi domestik Indonesia relatif kuat.
Didukung oleh konsumsi dalam negeri yang tetap terjaga, stabilitas sektor keuangan, serta kebijakan pemerintah yang adaptif, pertumbuhan tersebut dinilai realistis sekaligus mencerminkan ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi dinamika global.

Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi 8 persen, realistis?
Target pertumbuhan ekonomi 8 persen merupakan visi yang ambisius namun bukan tidak mungkin dicapai. Untuk merealisasikannya, dibutuhkan kombinasi kuat antara peningkatan investasi, percepatan industrialisasi, hilirisasi sumber daya alam, serta penguatan kualitas sumber daya manusia.
Selain itu, stabilitas kebijakan, reformasi struktural, dan dukungan sektor swasta juga menjadi faktor kunci. Dalam jangka pendek, angka tersebut mungkin menantang di tengah ketidakpastian global, tetapi dalam jangka menengah, hingga panjang, target tersebut dapat diraih jika strategi pembangunan dijalankan secara konsisten dan terukur.
Sektor apa yang akan tetap jadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia?
Perekonomian Indonesia saat ini masih ditopang oleh empat sektor utama yang menjadi penggerak pertumbuhan, yaitu sektor manufaktur, konstruksi, infrastruktur, dan teknologi. Keempat sektor ini memiliki peran strategis dalam menjaga momentum pertumbuhan, mulai dari peningkatan produksi dan ekspor, pembangunan fisik yang masif, hingga akselerasi transformasi digital yang mendorong efisiensi serta inovasi di berbagai lini ekonomi.

Bagaimana dengan dampak penutupan Selat Hormuz bagi perekonomian Indonesia?
Penutupan Selat Hormuz berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia, terutama melalui jalur energi dan perdagangan global. Sebagai salah satu jalur utama distribusi minyak dunia, gangguan di kawasan tersebut dapat memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan biaya impor energi bagi Indonesia. Hal ini berisiko menekan nilai tukar, meningkatkan inflasi, serta membebani subsidi energi dalam APBN.
Selain itu, ketidakstabilan rantai pasok global juga dapat mempengaruhi kinerja ekspor-impor. Namun, dampaknya dapat diredam jika pemerintah mampu menjaga cadangan energi, melakukan diversifikasi sumber impor, serta memperkuat bauran energi domestik.
Dalam jangka pendek, apa mitigasi yang perlu diambil Pemerintah?
Dalam jangka pendek, Indonesia perlu fokus pada langkah-langkah cepat untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga energi. Pemerintah dapat mengoptimalkan cadangan energi nasional, termasuk meningkatkan pemanfaatan stok BBM yang tersedia serta memastikan distribusinya tetap lancar.
Selain itu, diversifikasi sumber impor minyak dan gas ke negara lain di luar kawasan terdampak menjadi penting untuk mengurangi ketergantungan.
Penguatan koordinasi antar-lembaga, pengendalian inflasi melalui kebijakan fiskal dan moneter, serta percepatan penggunaan energi alternatif juga menjadi langkah strategis guna meredam dampak gejolak global terhadap perekonomian domestik.
Bagaimana Anda melihat prospek ekonomi Indonesia ke depan?
Indonesia memiliki prospek ekonomi yang sangat menjanjikan dan berpotensi menjadi salah satu dari tujuh negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada periode 2035 hingga 2040. Fundamental makroekonomi yang relatif kuat menjadi modal utama, tercermin dari rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang berada di bawah 40 persen, defisit anggaran yang terjaga di bawah 3 persen, serta tingkat inflasi yang stabil di kisaran 3,5 persen.
Dengan kondisi tersebut, ditambah bonus demografi dan percepatan transformasi ekonomi, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk terus tumbuh secara berkelanjutan dan meningkatkan daya saing di kancah global.

Bagaimana Anda melihat kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke berbagai negara, termasuk Rusia dan Jepang?
Kunjungan tersebut mencerminkan langkah strategis dalam memperkuat posisi Indonesia di kancah global melalui politik luar negeri yang aktif dan seimbang. Dengan menjalin hubungan ke berbagai negara, termasuk Rusia dan Jepang, Indonesia berupaya memperluas peluang kerja sama di bidang perdagangan, investasi, energi, dan teknologi.
Selain itu, diplomasi ini juga penting untuk membuka akses pasar baru serta memastikan keberlanjutan rantai pasok di tengah dinamika geopolitik global. Upaya ini dinilai dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia ke depan.
Bagaimana Anda melihat bonus demografi di Indonesia, apakah generasi mudanya akan bisa berkontribusinya optimal pada perekonomian?
Generasi muda Indonesia memiliki peran yang sangat penting sebagai motor penggerak perekonomian, terutama di era transformasi digital saat ini. Dengan jumlah populasi yang besar dan didukung oleh bonus demografi, mereka berkontribusi tidak hanya sebagai tenaga kerja produktif, tetapi juga sebagai wirausahawan dan inovator di berbagai sektor, seperti ekonomi digital, industri kreatif, hingga startup teknologi.
Kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan serta pemanfaatan teknologi menjadikan generasi muda sebagai kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.

Apa yang harus dilakukan pemerintah Indonesia untuk mengantisipasi jika terjadi konflik geopolitik di masa depan?
Pemerintah Indonesia perlu memperkuat strategi ketahanan ekonomi dan nasional secara menyeluruh, mulai dari menjaga stabilitas makroekonomi, memperkuat cadangan devisa, hingga memastikan ketersediaan pangan dan energi. Diversifikasi mitra dagang dan sumber impor menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan pada kawasan tertentu yang rentan konflik.
Selain itu, peningkatan kapasitas industri dalam negeri, percepatan hilirisasi, serta penguatan sektor pertahanan dan diplomasi juga perlu dilakukan agar Indonesia mampu merespons dinamika global secara cepat dan terukur.
Dengan langkah-langkah tersebut, Indonesia dapat meminimalkan dampak negatif konflik geopolitik sekaligus menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional.