Selama seperempat abad terakhir, kinerja sektor industri manufaktur Indonesia menurun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi sektor industri manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sejak 2000 hingga 2025 cenderung menurun.
Kontribusi tertinggi sektor industri terjadi tahun 2001 dengan persantase di angka 30,1%. Sejak itu peran sektor industri terus menurun hingga di tahun 2025 menjadi 19,07%. Penurunan yang tajam terjadi pada periode 2009-2010, yakni dari 26,38% (2009) menjadi 22,04% (2010). Tahun 2022, peran sektor industri berada di titik terendah, yakni 18,34%.
Dalam struktur ekonomi Indonesia, sektor industri manufaktur mendominasi dengan persentase berkisar 19-20%. Disusul oleh sektor pertanian (14-15%) dan sektor perdagangan (12-13%). Meski sektor industri manufaktur menyumbang peran terbesar dalam struktur ekonomi, porsi tenaga kerja terbanyak bukan terserap di sektor tersebut.
Pada tahun 2025, sektor yang menyerap tenaga kerja terbanyak adalah sektor pertanian (28%) dan perdagangan (18-19%). Sementara porsi tenaga kerja yang terserap di sektor industri manufaktur berkisar 13-14% atau sekitar 41 juta tenaga kerja. Dari jumlah tersebut, industri yang menyerap tenaga kerja terbesar adalah industri makanan (1,7 juta orang), industri tekstil dan pakaian jadi (1,1 juta orang), serta industri kayu (400-500 ribu orang).
Meski menjadi sektor yang paling dominan dalam perekonomian Indonesia, industri manufaktur belum bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lebih dari 6%. Data BPS menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan di angka 5% sejak tahun 2013. Pertumbuhan diperkirakan akan tetap di angka tersebut jika Indonesia tidak melakukan reindustrialisasi.
Keunggulan ekonomi Indonesia yang selama ini ditopang oleh sumber daya alam yang melimpah harus didorong untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih besar agar bisa tumbuh lebih tinggi. Pertumbuhan ekonomi yang mengandalkan sumber daya alam hanya akan menghasilkan pertumbuhan yang rapuh dan tidak stabil karena bergantung pada fluktuasi harga komoditas di pasar global.
Komoditas-komoditas yang menjadi andalan, baik di sektor perkebunan atau pertambangan, diupayakan untuk tidak diekspor langsung dalam kondisi mentah, tetapi diolah terlebih dahulu di dalam negeri. Mendorong hilirisasi dari komoditas mentah berarti membuka peluang meningkatnya ekspor dan daya saing Indonesia.
Reindustrialisasi menjadi kunci untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Kinerja sektor industri harus dioptimalkan melalui kebijakan deregulasi, efisiensi, inovasi, dan tentunya investasi. Untuk menunjang hal tersebut, kualitas sumber daya manusia juga perlu ditingkatkan untuk menguasai teknologi yang kian modern.
Jika hal itu dilakukan, produktivitas nasional akan meningkat dan tenaga kerja yang terserap juga akan lebih besar. Dengan demikian, Indonesia akan memiliki keunggulan baru selain komoditas mentah. Pada periode 2022-2025, peran sektor industri manufaktur perlahan meningkat yang jika terus berlanjut bisa menjadi periode atau tahap awal reindustrialisasi.