Hijau Seharian, IHSG Rayakan Ekonomi Tumbuh 5,61%

Seiring respons pasar terhadap rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melampaui ekspektasi, dengan indeks dibuka naik 0,41% ke level 7.086,34 dan ditutup menguat 0,50% ke posisi 7.092,46.

Hijau Seharian, IHSG Rayakan Ekonomi Tumbuh 5,61%
Main hall Bursa Efek Indonesia. Foto:Nana/Suar.id
Daftar Isi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat sepanjang perdagangan Rabu, (6/5/2026), seiring respons pasar terhadap rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melampaui ekspektasi, dengan indeks dibuka naik 0,41% ke level 7.086,34 dan ditutup menguat 0,50% ke posisi 7.092,46.

Sejak awal perdagangan, IHSG langsung bergerak di zona hijau dengan kenaikan 29,23 poin. Dalam beberapa menit pertama, penguatan berlanjut hingga menyentuh level 7.092,62 atau naik 0,50% pada pukul 09.05 WIB. Kinerja ini melanjutkan tren positif dari perdagangan sebelumnya, meskipun masih diwarnai aksi jual bersih investor asing.

Pergerakan saham pada sesi pembukaan didominasi penguatan, tercermin dari 292 saham yang naik, dibandingkan 190 saham melemah dan 201 saham stagnan. Aktivitas pasar juga menunjukkan peningkatan dengan volume transaksi mencapai 2,7 miliar saham, frekuensi 194.722 kali, dan nilai transaksi sekitar Rp1,5 triliun.

Memasuki sesi pertama, penguatan IHSG semakin terkonfirmasi. Indeks ditutup pada jeda siang di level 7.102,72 atau naik 0,65%. Sepanjang sesi pagi, IHSG bergerak dalam rentang 7.049,92 hingga 7.127,72. Sentimen positif tercermin dari dominasi saham yang menguat sebanyak 377 emiten, sementara 240 saham terkoreksi dan 194 saham tidak berubah.

Secara sektoral, hampir seluruh sektor mencatatkan kenaikan pada sesi pertama. Sektor transportasi memimpin dengan penguatan 2,28%, diikuti bahan baku 1,98%, teknologi 1,52%, dan properti 1,42%. Sektor industri dan barang konsumen primer juga menguat, masing-masing 1,36% dan 1,35%. Sementara itu, sektor keuangan menjadi satu-satunya yang berada di zona merah dengan penurunan 0,87%.

Hingga jeda siang, total volume perdagangan mencapai 22,5 miliar saham dengan frekuensi 1,49 juta transaksi dan nilai sebesar Rp10,4 triliun. Pada kelompok saham unggulan LQ45, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) memimpin penguatan dengan kenaikan 8,84%, diikuti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Essa Industries Indonesia Tbk (ESSA).

Pada penutupan perdagangan, IHSG tetap bertahan di zona hijau meskipun kenaikannya lebih terbatas. Indeks ditutup naik 35,36 poin ke level 7.092,46, dengan rentang pergerakan harian tetap berada antara 7.049,92 hingga 7.127,72. Secara keseluruhan, sebanyak 341 saham menguat, 290 saham melemah, dan 186 saham stagnan.

Penguatan IHSG didukung sentimen domestik yang positif, terutama setelah rilis data Badan Pusat Statistik yang mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% secara tahunan pada kuartal I 2026. Secara nominal, Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku tercatat Rp6.187,2 triliun dan Rp3.447 triliun atas dasar harga konstan. Selain itu, inflasi April 2026 tetap terjaga di level 2,42% secara tahunan.

Dari sisi global, sentimen turut ditopang meredanya ketegangan geopolitik, terutama setelah adanya upaya dari Amerika Serikat untuk menurunkan eskalasi di kawasan Timur Tengah. Di sisi domestik, rencana pemerintah untuk menyiapkan stimulus tambahan juga turut menjaga kepercayaan pelaku pasar.

Arus Keluar Dana Asing Masih Deras

Meski demikian, tekanan eksternal masih membayangi pergerakan pasar. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat arus keluar dana asing masih terjadi di pasar saham domestik, dipengaruhi faktor global seperti kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi alias Kiki, menyatakan bahwa kondisi tersebut merupakan bagian dari dinamika global.

“Dapat kami sampaikan kalau teman-teman lihat terjadi outflow ya, karena memang saat ini kondisi dari faktor geopolitik dan geoekonomi secara global, dimana tentu kalau dari The Fed higher for longer, makanya pada outflow. Namun selama kita yakini fundamental kita baik, kita harapkan ini akan bisa berbalik,” ujar Kiki.

Dengan kondisi tersebut, OJK melihat bahwa dinamika outflow yang terjadi saat ini merupakan bagian dari siklus global, sementara penguatan struktur pasar domestik terus dilakukan untuk menjaga stabilitas IHSG dan pasar modal secara keseluruhan.

“Namun demikian, dapat kami sampaikan bahwa setelah market event, yaitu yang dicetuskan dari semenjak akhir Januari kemarin dari MSCI, dapat kami sampaikan bahwa seluruh hal-hal yang menjadi concern dari global investor terkait dengan transparansi dari pasar modal Indonesia, di mana data dari 1 persen pemegang saham sudah kita buka, kemudian granularity dari data dari 9 klasifikasi menjadi 39 sudah kita sampaikan, sudah sangat granular,” tuturnya.

Selain keterbukaan data kepemilikan saham, OJK juga mengungkap informasi terkait ultimate beneficial owner serta memperkuat ketentuan likuiditas saham melalui pengaturan free float. Upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas pasar dan memperkuat fondasi jangka panjang.

Kiki menambahkan bahwa pergerakan saham di pasar domestik saat ini mulai mencerminkan kinerja fundamental emiten, seiring dengan perbaikan yang dilakukan otoritas. Ia juga menyinggung potensi penyesuaian pasar terkait evaluasi indeks global.

“Jadi saham-saham yang sekarang pergerakannya sudah lebih ke fundamental, dan kalau kita melihat nanti mungkin pengumuman di Mei oleh MSCI, dan juga nanti di Juni untuk terkait market kita, mungkin kalau di Maret nanti akan ada rebalancing dari indeks MSCI kita, mungkin kita expect akan terjadi penyesuaian, namun kita sampaikan ini adalah dampak temporary dari perbaikan yang kita lakukan,” ungkapnya.

Baca juga:

Status Pasar Modal Indonesia Tidak Diturunkan FTSE, Masih Setara India dan China
Posisi Indonesia pada klasifikasi secondary emerging setara dengan negara lain seperti India dan China. Adapun negara-negara dengan klasifikasi developed antara lain seperti Amerika Serikat, Singapura, Kanada, dan lain-lain.

OJK juga terus mendorong penguatan pasar melalui peningkatan transparansi data serta pendalaman basis investor domestik. Dalam satu tahun terakhir, jumlah investor pasar modal meningkat sekitar 5 juta Single Investor Identification (SID), yang dinilai menjadi penopang stabilitas pasar di tengah volatilitas global.

Sepanjang hari, aktivitas perdagangan tercatat tinggi dengan total volume mencapai 36 miliar saham, frekuensi 2,4 juta kali transaksi, serta nilai transaksi sebesar Rp17 triliun, mencerminkan likuiditas pasar yang tetap terjaga di tengah dinamika eksternal dan domestik.

Pertumbuhan Ekonomi Kuat, IHSG Tetap Rentan

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% pada kuartal I 2026 belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental yang merata, sehingga pergerakan IHSG diperkirakan masih terbatas di tengah tekanan arus keluar dana asing dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Menurut Liza, pertumbuhan ekonomi yang melampaui ekspektasi tersebut terutama ditopang oleh konsumsi pemerintah yang meningkat signifikan serta dorongan program fiskal. Namun, kontribusi tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan penguatan sektor riil secara luas.

“Pertumbuhan ini masih banyak ditopang stimulus fiskal dan proyek awal, oleh karenanya belum tercermin pada indikator riil yang berkualitas (upah, kemiskinan, konsumsi) maupun perbaikan neraca eksternal,” kata Liza kepada SUAR.

Selain itu, investasi yang tercermin dalam Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) memang tumbuh 5,96% secara tahunan, didukung proyek hilirisasi bernilai sekitar USD 7 miliar. Namun, dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja dinilai masih terbatas. Di sisi lain, sektor pertambangan justru mengalami kontraksi akibat pembatasan produksi.

Dari sisi eksternal, tekanan terhadap rupiah menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pasar keuangan domestik. Mata uang rupiah tercatat melemah ke kisaran Rp17.400 per dolar AS, seiring pertumbuhan impor yang melampaui ekspor serta arus keluar dana asing yang mencapai sekitar Rp46,5 triliun secara tahun berjalan.

Kondisi tersebut, imbuhnya, turut tercermin pada pasar saham. IHSG memang berhasil menguat 1,22% ke level 7.057 dan kembali berada di atas level psikologis 7.000. Namun, penguatan tersebut belum diikuti oleh aliran dana asing, yang masih mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp318 miliar di pasar reguler.

“Secara sektoral, penguatan indeks dipimpin oleh sektor bahan baku, infrastruktur, dan keuangan, sementara sejumlah sektor lain seperti industri, kesehatan, teknologi, dan properti masih berada di zona negatif. Hal ini menunjukkan pergerakan pasar yang cenderung selektif di tengah kondisi yang belum sepenuhnya stabil,” jelas Liza.

Di tengah dinamika domestik tersebut, sentimen global cenderung memberikan dukungan. Pasar saham Amerika Serikat mencatatkan penguatan dengan indeks utama seperti S&P 500 dan Nasdaq mencapai rekor tertinggi baru, didorong oleh kinerja sektor teknologi dan perkembangan industri kecerdasan buatan (artificial intelligence). Selain itu, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut meningkatkan minat risiko (risk appetite) investor global.

Meski demikian, Liza menyebut faktor global belum sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan domestik, terutama terkait nilai tukar dan aliran dana. Penyempitan selisih imbal hasil antara obligasi Indonesia dan Amerika Serikat serta ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama menjadi faktor yang membatasi aliran dana ke pasar domestik.

Dalam jangka pendek, dia memperkirakan IHSG masih memiliki ruang penguatan menuju level teknikal tertentu, namun pergerakannya cenderung terbatas dan rentan terhadap volatilitas.

“Di sisi kebijakan, pemerintah dan otoritas moneter saat ini masih mengedepankan pendekatan stabilisasi melalui koordinasi, tanpa langkah intervensi agresif baru terhadap pelemahan rupiah. Kondisi ini membuat pasar cenderung bergerak hati-hati, dengan investor lebih selektif dalam menentukan alokasi aset di pasar saham dan instrumen keuangan lainnya,” pungkasnya.

Tertahan Outflow Asing

Senada, berdasarkan riset Samuel Sekuritas Indonesia, penguatan indeks pada hari Selasa terjadi seiring pergeseran alokasi dana ke saham-saham utama, khususnya sektor komoditas dan perbankan. Kinerja ini juga tercermin pada Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang menguat 0,46% ke level 252,7.

“Meski demikian, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp317,9 miliar di pasar reguler dan Rp200,4 miliar di pasar negosiasi. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian investor global di tengah ketidakpastian eksternal dan tekanan domestik, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp17.425 per dolar AS,” ungkap Samuel Sekuritas.

Secara sektoral, kenaikan IHSG dipimpin sektor bahan baku seiring meningkatnya minat terhadap saham berbasis komoditas. Sektor keuangan turut menopang indeks, meskipun pergerakannya tidak merata karena sebagian saham perbankan masih tertekan.

Pada level emiten, saham BRPT dan TPIA mencatat lonjakan masing-masing 24,7% dan 19,7%, diikuti BBRI yang menguat. Sebaliknya, saham seperti INCO dan BYAN mengalami penurunan. Dari sisi aliran dana, investor asing terlihat selektif, dengan dana masuk ke BBRI, BRPT, dan BBNI, sementara aksi jual terjadi pada BMRI, BBCA, dan ANTM.

Sentimen eksternal juga memengaruhi pergerakan pasar. Bursa Asia bergerak campuran, sementara harga minyak Brent turun ke sekitar USD113 per barel dan emas naik ke USD4.546 per ons, mencerminkan pergeseran sebagian investor ke aset safe haven.

Di sisi lain, laporan BRI Danareksa Sekuritas mencatat arus keluar dana asing di pasar ekuitas mencapai sekitar Rp40 triliun secara tahun berjalan. Tekanan ini dipicu kekhawatiran terhadap stabilitas nilai tukar serta menurunnya daya tarik aset domestik.

Pelemahan rupiah yang telah menembus Rp17.300 per dolar AS turut meningkatkan risiko investasi dan menekan valuasi saham. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi global dan domestik mendorong pergeseran portofolio ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Dari sisi fundamental, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan 5,61% pada kuartal I 2026 serta keberlanjutan surplus perdagangan. Namun, faktor tersebut belum sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan eksternal terhadap arus modal.

Pelaku pasar juga mencermati potensi penyesuaian indeks global seperti MSCI serta penilaian peringkat kredit, yang berpotensi memengaruhi sentimen dan aliran dana.

“Sementara itu, dari sisi fundamental, kondisi fiskal Indonesia masih relatif terjaga dengan defisit di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB) dan rasio utang sekitar 40% terhadap PDB. Hal ini menjadi penopang stabilitas jangka menengah, meski belum cukup kuat untuk mendorong reli pasar saham dalam waktu dekat,” tulis BRI Danareksa Sekuritas.

Author

Uswatun Hasanah
Uswatun Hasanah

Wartawan Pasar Modal

Baca selengkapnya

Ω