Produk Domestik Bruto (PDB) berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61% secara tahunan (year-on-year) pada triwulan pertama 2026. Lonjakan performa ekonomi ini lebih disokong oleh tingginya pengeluaran pemerintah.
Di tengah catatan makro yang baik, tantangan ketidakpastian global akibat eskalasi situasi geopolitik dunia khususnya di kawasan Timur Tengah membayangi stabilitas perekonomian nasional. Menghadapi dinamika yang penuh risiko ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan perlunya langkah antisipatif melalui instrumen fiskal guna memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga dari potensi guncangan eksternal.
Sepanjang 2026, pemerintah telah mengalokasikan stimulus ekonomi hampir Rp 40 triliun. Di paruh awal tahun ini, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp 12,8 triliun dan memasuki semester II sebesar Rp 26,34 triliun sebagai stimulus ekonomi.
Intervensi fiskal melalui stimulus ini didistribusikan ke beberapa sektor seperti ketahanan pangan, transportasi, ketenagakerjaan, hingga insentif industri. Tidak sekadar diarahkan untuk mempertahankan daya beli masyarakat, stimulus juga difungsikan sebagai jangkar stabilitas yang responsif dalam menjaga kelangsungan dunia usaha domestik di tengah fluktuasi pasar internasional.
Anggaran stimulus ekonomi di tahun 2026 ini terutama fokus pada sektor bantuan pangan dan stabilitas harga dengan porsi yang besar. Pada semester II-2026 pemerintah menganggarkan sektor tersebut menerima gelontoran stimulus sebesar Rp 18,04 triliun guna menjamin rantai pasok kebutuhan pokok tetap aman.
Sektor ketenagakerjaan dan vokasi menyusul dengan alokasi sebesar Rp 6,26 triliun. Selanjutnya sektor transportasi dan liburan yang mendapatkan suntikan dana senilai Rp 2,04 triliun untuk mengawal pergerakan masyarakat pada masa libur sekolah serta perayaan Natal dan Tahun Baru.
Sementara itu, untuk menopang ketahanan operasional sektor riil, pemerintah menyertakan paket insentif perpajakan dan industri dengan estimasi nilai manfaat ekonomi yang diproyeksikan mencapai sekitar Rp 2,25 triliun.
Hal menarik dari stimulus ekonomi 2026 ini terletak pada dominasi alokasi anggaran pada sektor pangan. Di semester II saja, dari total Rp 26,34 triliun, lebih dari Rp 18,04 triliun atau sekitar 68% tersedot untuk kelanjutan bantuan pangan dan stabilisasi harga (seperti subsidi kedelai). Jaring pengaman sosial sektor pangan masih menjadi fokus pemerintah dalam menjaga roda perekonomian terutama untuk kelompok desil 1–4 agar kebutuhan tetap aman di tengah ketidakpastian ekonomi.
Di sisi lain, insentif kelas menengah dieksekusi lewat stimulus transportasi seperti diskon tiket berkala dan pembebasan PPN DTP 100% untuk tiket pesawat domestik kelas ekonomi guna memicu perputaran roda pariwisata. Selain itu, stimulus ekonomi dengan orientasi visi jangka menengah diperkuat melalui alokasi Rp 6,26 triliun untuk program magang dan pelatihan vokasi terintegrasi bagi 220 ribu peserta, termasuk 50 ribu korban PHK.
Pemerintah juga memberikan penurunan tarif PPh Final royalti penulis menjadi 1,5% yang menandai babak baru keberpihakan negara terhadap pertumbuhan industri kreatif nasional.
Paket stimulus ekonomi bernilai puluhan triliun rupiah tersebut berperan sebagai jaring pengaman sosial jangka pendek sekaligus investasi produktivitas jangka panjang. Melalui sinergi perlindungan kesejahteraan di tingkat akar rumput dan pemotongan biaya operasional logistik industri seperti penerapan bea masuk 0% bagi impor LPG dan suku cadang pesawat.
Dengan dorongan stimulus ekonomi semester II tersebut, diharapkan momentum positif pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus terjaga.