Elektrifikasi Kendaraan Jadi Peluang Baru Industri Komponen Otomotif

Pelaku usaha di industri komponen otomotif pun didorong untuk terus melakukan inovasi dan penyesuaian produk, mengikuti dengan tuntutan pasar yang terus berkembang dan bergerak secara dinamis.

Elektrifikasi Kendaraan Jadi Peluang Baru Industri Komponen Otomotif
Warga berada di dalam bus listrik saat uji coba di Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (6/4/2026).ANTARA FOTO/Ahmad Naufal Oktavian/agr
Daftar Isi

Gelombang elektrifikasi kendaraan membuka babak baru bagi industri komponen otomotif. Tidak hanya memberikan tantangan baru, tetapi peralihan ke kendaraan listrik yang mendorong kebutuhan teknologi baru juga menghadirkan peluang inovasi produk bagi pelaku usaha di industri tersebut.

Pelaku usaha di industri komponen otomotif pun didorong untuk terus melakukan inovasi dan penyesuaian produk, mengikuti dengan tuntutan pasar yang terus berkembang dan bergerak secara dinamis.

PT Kayaba Indonesia (KYB), produsen shock absorber yang berdiri sejak tahun 1976 lalu, juga mulai mencermati peralihan elektrifikasi kendaraan dari internal combustion engine (ICE) menjadi electric vehicle (EV). Anak perusahaan PT Astra Otoparts Tbk tersebut pun terus menjaga eksistensinya di tengah perubahan besar industri otomotif dengan melakukan adaptasi.

Product Manager KYB Yandi Hermanto menyebut pihaknya tidak memandang elektrifikasi kendaraan sebagai sebuah hambatan, melainkan peluang baru untuk KYB tetap relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan konsumennya.

“Jadi sebenarnya elektrifikasi kendaraan di Indonesia ini merupakan peluang bagi Kayaba untuk membuktikan teknologi suspensinya, strategi Kayaba pasti akan mempelajari kebutuhan dari pengguna mobil listrik itu,” ucap Yandi, Selasa (21/04/2026).

Kayaba Indonesia tengah mencermati kebutuhan dari para pengguna kendaraan listrik. Kayaba pun tengah berupaya untuk mendorong pengembangan teknologi suspensi yang mampu menjawab kebutuhan baru seperti menopang bobot baterai kendaraan yang cukup berat, sambil menjaga stabilitas dan kenyamanan pengendara di tengah kecepatan akselerasi kendaraan listrik yang terbilang cukup cepat.

“Selain itu kita juga sadar mobil listrik itu memiliki torsi yang instan dengan kecepatan akselerasi yang instan, otomatis hal itu pasti memerlukan teknologi suspensi yang stabil, tentunya dengan kenyamanan mobil listrik yang senyap pasti akan kita imbangi dengan mengurangi body roll dan juga getaran,” jelasnya.

Inovasi-inovasi pun akan terus dilakukan, demi menjaga eksistensi Kayaba  yang telah berdiri selama 50 tahun di Indonesia. 

“Ke depannya kita pasti akan terus berinovasi, agar tetap relevan dengan perkembangan zaman di mana mungkin saat ini juga ada elektrifikasi, dalam hal ini Kayaba pasti akan mempelajarinya dan akan mengeluarkan produknya,” kata Yandi.

Setidaknya, ada tiga strategi utama Kayaba dalam menjaga eksistensinya selama ini. Selain kepercayaan dari original equipment manufacturing (OEM) dan aftermarket, Kayaba tak henti memperkuat jaringan distribusinya.

“Kita juga harus tetap relevan dengan perkembangan zaman di mana kualitas dan teknologi dari Jepang ini kita bawa ke Indonesia sesuai dengan kondisi jalanan di Indonesia,” tegasnya.

Di kesempatan yang sama, Director in Charge PT Kayaba Indonesia Abun Gunawan mengatakan perjalanan panjang Kayaba di industri komponen otomotif ini juga tidak semudah yang dibayangkan. Perubahan pasar, pola perilaku konsumen, hingga pertumbuhan industri itu sendiri juga menjadi tantangan yang harus dihadapi.

“Ke depan, tantangan industri otomotif akan semakin kompleks, baik dari sisi teknologi, perubahan preferensi customer, maupun tekanan kompetisi, untuk itu kita perlu memastikan setiap langkah yang kita ambil tetap berfokus pada tiga hal utama yaitu kualitas yang konsisten, harga yang kompetitif, dan ketersediaan stok,” jelas Abun.

Pengembangan produk yang lebih adaptif terhadap tren kendaraan seperti elektrifikasi dan kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berubah juga dilihat industri sebagai potensi besar untuk terus melakukan inovasi.

PT Kayaba Indonesia meluncurkan produk hasil inovasinya sebagai strategi bertahan di tengah tantangan yang dihadapi industri komponen otomotif, Jakarta Pusat, Selasa (21/04/2026). (Foto: Gema Dzikri/Suar.id)

Merayakan kehadirannya di Indonesia selama 5 dekade, KYB Indonesia meluncurkan produk barunya yakni KYB Premium dengan konsep original specification, KYB Ultra dengan konsep special performance, KYB Heavy Duty dengan konsep extra load performance, dan KYB Zeto sebagai shock absorber high performance. Peluncuran ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi merupakan kunci utama dalam keberlangsungan dunia usaha.

Ikuti perkembangan zaman

Pengamat industri otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu, menilai gelombang elektrifikasi kendaraan ini menambah kompleksitas dari upaya adaptasi perusahaan di industri dalam mengikuti perkembangan zaman agar tetap relevan dengan masyarakat.

“Munculnya kebutuhan komponen baru EV dan hilangnya komponen lama menambah kompleksitas adaptasi. Dengan demikian, kondisi industri saat ini bukan sekadar mengalami tekanan siklus, tetapi sedang memasuki fase transformasi struktural yang menuntut efisiensi, inovasi, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi secara cepat,” ucap Yannes.

Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik, Grup Astra Kembangkan Produk Komponen EV
Merespon tren berkembangnya kendaraan listrik, perusahaan produsen komponen mobil Astra Otoparts, ikut mengembangkan komponen mobil listrik.

Tekanan tidak juga datang dari elektrifikasi saja, tetapi juga datang dari kondisi melemahnya daya beli masyarakat dan juga kenaikan biaya operasional dari meningkatnya harga BBM dan logistik.

Berdasarkan pengamatan Yannes, industri komponen otomotif dalam negeri saat ini sudah tidak lagi tumbuh secara signifikan dan bahkan malah tertekan cukup dalam sejak beberapa tahun terakhir. Maka dari itu, untuk memulihkan industri tersebut, pasar aftermarket kendaraan harus dibangkitkan lagi dan bahkan sampai mengekspor produk hingga ke luar negeri.

“Sementara, segmen EV memberikan peluang baru, tetapi belum sepenuhnya mengkompensasi hilangnya permintaan dari kendaraan konvensional yang masih mendominasi produksi dalam negeri dan menyebabkan disrupsi pada 47% industri komponen tier 2 dan 3,” ungkapnya.

Tantangan utama yang kini dihadapi oleh industri komponen otomotif saat ini tidak lagi hanya soal biaya produksi atau persaingan harga saja, tetapi lebih soal perubahan teknologi kendaraan menuju EV yang mengubah fundamental industri komponen otomotif.

Perubahan ini juga membutuhkan biaya dan investasi yang besar, salah satunya akibat terjadinya pergeseran teknologi yang tadinya berbasis mekanik menjadi elektronik, robotik, dan bahkan kimia.

“Tantangan utama industri komponen dalam negeri saat ini adalah sebuah paradoks bagaimana memulai program reinvestasi mesin produksi mereka berikut reskilling dan upskilling SDM-nya, di tengah tekanan menurunnya demand dari para agen pemegang merek, agar dapat membangun kapabilitas teknologi dan ekosistem yang kuat agar tidak tertinggal dalam transformasi industri,” tutupnya.

Baca selengkapnya

Ω