Rapat kerja Komisi XI DPR RI bersama Bank Indonesia (BI) di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta (18/5), berlangsung dinamis. Rapat yang dihadiri Gubernur Bi Perry Warjiyo dengan salah satu fokus pembahasan mengenai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) itu, diwarnai pertanyaan bertubi sejumlah anggota dewan.
Kebetulah, hari itu nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah 33 poin atau sekitar 0,19 persen ke level Rp17.630 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.597 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh penguatan dolar AS di pasar global, ketidakpastian ekonomi dunia, serta arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang.
Para wakil rakyat pun mempertanyakan langkah dan strategi yang ditempuh bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah meningkatnya tekanan eksternal global. Mereka meminta Bank Indonesia memperkuat koordinasi kebijakan moneter dan menjaga stabilitas pasar keuangan agar pelemahan rupiah tidak berlangsung berkepanjangan.
Upaya otoritas moneter optimal
Meski begitu ada juga yang mengapresiasi langkan BI yang mampu mengerem arah pelemahan yang terus memburuk. Anggota Komisi XI DPR Harris Turino adalah salah satu yang memberi apresiasi terhadap berbagai langkah yang telah ditempuh BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi.
Upaya intervensi yang dilakukan dinilai cukup agresif, mulai dari penggunaan cadangan devisa, penguatan instrumen moneter, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) untuk menjaga likuiditas pasar keuangan domestik.
“Langkah tersebut dianggap penting untuk menahan tekanan pelemahan rupiah yang terus dipengaruhi penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian ekonomi global,” ujar dia.
Salah satu kebijakan yang mendapat pujian adalah peningkatan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga mencapai 6,41 persen guna menarik aliran modal asing kembali masuk ke pasar keuangan nasional. Selain itu, BI juga tercatat membeli SBN sebesar Rp332 triliun sepanjang 2025 dan kembali menambah pembelian senilai Rp 133 triliun pada kuartal I-2026.
Kebijakan tersebut dipandang sebagai bentuk sinergi antara kebijakan moneter dan stabilitas fiskal untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia
Tak hanya itu, BI juga memperketat kebijakan pembelian dolar AS dengan menurunkan batas maksimal transaksi dari sebelumnya US$50.000 menjadi US$25.000.
“Kebijakan ini dilakukan untuk mengurangi tekanan permintaan dolar di pasar domestik sekaligus menjaga stabilitas cadangan devisa nasional. Meski demikian, pelemahan rupiah terhadap dolar AS tetap memberikan dampak terhadap meningkatnya nilai impor, yang pada akhirnya dapat memicu kenaikan harga barang dan biaya produksi di berbagai sektor industri nasional,” ujar dia.
Krisis kepercayaan publik
Harris menilai tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi persoalan domestik, terutama terkait kepercayaan publik terhadap pengelolaan fiskal dan anggaran negara.
Namun demikian, depresiasi rupiah saat ini dinilai berbeda dengan kondisi saat Krisis Moneter 1998 karena fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat, didukung perbankan yang lebih sehat, cadangan devisa yang memadai, serta koordinasi kebijakan yang lebih solid antara pemerintah dan otoritas moneter.
Ia menilai BI perlu melakukan pengaturan ulang terhadap kebutuhan dolar bagi hedge fund baik di sektor keuangan maupun sektor riil agar tekanan terhadap rupiah dapat dikendalikan.
“BI bisa memperketat pengawasan treasury bank domestik agar nilai tukar rupiah yang dinilai sudah undervalued dapat kembali menguat secara bertahap,” ungkap dia.
Harris juga mendorong agar BI mempertimbangkan opsi kenaikan suku bunga sebagai langkah tambahan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam tekanan di pasar keuangan.
Gubernur bank sentral diminta mundur
Berbeda dengan Harris, anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Primus Yustisio menyarankan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, mempertimbangkan mengundurkan diri di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Ia menyampaikan bahwa usulan tersebut bukan dimaksudkan sebagai bentuk penghinaan terhadap pimpinan Bank Indonesia, melainkan sebagai sikap yang dinilai “gentleman” dalam menghadapi tekanan terhadap kredibilitas lembaga.
“Kenapa ini? Pak Perry yang saya hormati, kadang kalau kita ambil tindakan gentleman, itu bukan penghinaan. Saya berikan contoh, mungkin saatnya sekarang bapak mengundurkan diri. Tidak ada yang salah, selanjutnya terserah bapak tentu saja,” ujar dia.
Menurut Primus, Bank Indonesia dinilai telah kehilangan kepercayaan dan kredibilitas publik, setelah nilai tukar rupiah terus mengalami deviasi dari asumsi dasar makro dalam APBN 2026 yang ditetapkan di kisaran Rp16.500 per dolar AS. Pelemahan rupiah yang kini bergerak di atas level Rp17.600 per dolar AS dianggap menunjukkan tekanan serius terhadap efektivitas kebijakan moneter dan stabilitas pasar keuangan nasional.
Ia juga menyoroti kondisi yang disebutnya sebagai anomali ekonomi, yakni ketika pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mampu mencapai 5,61 persen secara tahunan, namun di saat yang sama nilai tukar rupiah justru terus mengalami tekanan.
“Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan terkait efektivitas transmisi kebijakan ekonomi dan koordinasi antara sektor fiskal dan moneter dalam menjaga stabilitas makroekonomi nasional,” ungkap dia.
Menguatkan UMKM menguatkan rupiah
Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Marwan Cik Asan meyakini perbaikan kondisi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat memberikan dampak positif terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
Menurutnya, penguatan sektor riil melalui peningkatan kapasitas UMKM akan memperkuat fundamental ekonomi domestik sehingga ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dapat berkurang. “Saya yakin, kalau begini, kalau UMKM-nya membaik, dolar juga akan ikut melemah dan rupiah akan membaik,” ujar dia.
Marwan menilai capaian kinerja Bank Indonesia yang mencatat realisasi indikator kinerja sebesar 109,31 persen seharusnya tidak hanya tercermin pada aspek stabilitas moneter, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap penguatan sektor UMKM dan perekonomian nasional secara keseluruhan.
Menurutnya, keberhasilan kebijakan moneter perlu diiringi peningkatan akses pembiayaan dan penguatan daya tahan pelaku usaha kecil agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Ia juga mengingatkan adanya amanat dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK), khususnya Pasal 35A dan 35B, yang memberikan peran kepada Bank Indonesia untuk mengembangkan pembiayaan inklusif dan keuangan berkelanjutan guna memperkuat sektor UMKM.
“Saya berharap BI dapat memperbesar dukungan terhadap pembiayaan produktif, digitalisasi UMKM, serta perluasan akses keuangan bagi pelaku usaha kecil di berbagai daerah,” ungkap dia.
Menurut Marwan, sektor UMKM memiliki kontribusi sangat besar terhadap perekonomian nasional karena menyumbang lebih dari 60 persen produk domestik bruto (PDB). Selain itu, sektor tersebut juga menyerap sekitar 135 juta tenaga kerja dari total sekitar 140 juta lapangan kerja di Indonesia.
Dengan besarnya kontribusi tersebut, penguatan UMKM dinilai menjadi salah satu kunci utama menjaga stabilitas ekonomi nasional, meningkatkan daya tahan domestik, serta mendukung penguatan nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.
Prediksi Perry, Rupiah menguat Juli
Setelah menerima banyak curhatan dari wakil rakyat juga rentetan pertanyaan dari anggota Komisi XI DPR RI terkait pelemahan nilai tukar rupiah, Gubernur BI Perry Warjiyo menjanjikan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan mulai menguat pada Juli 2026.

Perry optimistis tekanan terhadap rupiah bersifat sementara dan masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan oleh otoritas moneter melalui berbagai instrumen stabilisasi yang telah ditempuh bank sentral. “Indikator pelemahan atau depresiasi rupiah saat ini masih berada pada level yang wajar, yakni sekitar 5,4 persen,” ungkap dia.
Ia menjelaskan bahwa angka tersebut masih tergolong stabil karena Bank Indonesia menggunakan pendekatan rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun, dengan mempertimbangkan posisi tertinggi maupun terendah dalam periode tertentu. Dengan metode tersebut, fluktuasi rupiah saat ini dinilai belum mencerminkan kondisi krisis ataupun tekanan yang berlebihan terhadap fundamental ekonomi nasional.
Perry juga menyampaikan bahwa dalam pengalamannya selama berada di Bank Indonesia, tekanan terhadap rupiah umumnya terjadi pada periode April hingga Juni setiap tahun.
“Pada rentang waktu tersebut biasanya terjadi peningkatan kebutuhan valuta asing, baik dari pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat, sehingga permintaan dolar AS di pasar domestik meningkat cukup signifikan,” ujar dia.
Kondisi musiman itu, menurutnya, menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah dalam beberapa bulan terakhir.
Ia menjelaskan, kebutuhan belanja pemerintah dan korporasi dalam bentuk dolar AS cenderung meningkat pada pertengahan tahun, terutama untuk pembayaran impor, utang luar negeri, hingga kebutuhan transaksi perdagangan internasional.
Selain itu, permintaan dolar dari masyarakat untuk berbagai kebutuhan juga turut memengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan valuta asing di pasar domestik.
Meski demikian, Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar, penguatan instrumen moneter, serta koordinasi dengan pemerintah.
Perry menegaskan BI akan terus memantau perkembangan global dan domestik secara ketat agar volatilitas rupiah tetap terkendali. Ia pun berharap mulai semester kedua 2026 kondisi pasar keuangan global akan lebih stabil sehingga nilai tukar rupiah dapat kembali menguat secara bertahap terhadap dolar AS.
Menyelesaikan dengan kombinasi kebijakan
Dihubungi terpisah, Pengamat Ekonomi Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menuturkan penguatan nilai tukar rupiah dapat dilakukan melalui kombinasi kebijakan moneter, fiskal, dan penguatan sektor riil.
Dari sisi moneter, Bank Indonesia dapat menjaga stabilitas pasar keuangan melalui intervensi valas, penguatan cadangan devisa, serta pengaturan suku bunga untuk menjaga daya tarik investasi di dalam negeri.
“Stabilitas inflasi juga menjadi faktor penting karena inflasi yang terkendali akan meningkatkan kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional dan membantu menjaga kestabilan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS),” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (18/5/2026).
Selain itu, penguatan sektor riil dan peningkatan ekspor juga menjadi kunci penting memperkuat rupiah. Pemerintah perlu mendorong industri manufaktur, hilirisasi sumber daya alam, serta pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar produksi dalam negeri meningkat dan ketergantungan terhadap impor berkurang.
Ia mengatakan semakin besar devisa hasil ekspor yang masuk ke Indonesia, maka pasokan dolar AS akan meningkat sehingga tekanan terhadap rupiah dapat berkurang. Di sisi lain, peningkatan investasi asing langsung juga dapat membantu memperkuat aliran modal masuk ke pasar domestik.