Industri Perbankan Pasang Kuda-Kuda Arungi Triwulan Kedua

Selain mendiversifikasi portofolio pembiayaan, perbankan mulai mempersiapkan kuda-kuda memonitor kesehatan finansial nasabah demi menjaga kualitas penyaluran kredit dan arus kas mulai triwulan kedua dan seterusnya.

Industri Perbankan Pasang Kuda-Kuda Arungi Triwulan Kedua
Foto oleh Gizem Nikomedi / Unsplash
Daftar Isi

Sejumlah bank jumbo Tanah Air baru saja merilis kinerja keuangan triwulan pertama 2026. Kendati masih mencetak laba, namun pertumbuhan labanya melambat dibandingkan sebelumnya. Selain mendiversifikasi portofolio pembiayaan, perbankan mulai mempersiapkan kuda-kuda memonitor kesehatan finansial nasabah demi menjaga kualitas penyaluran kredit dan arus kas mulai triwulan kedua dan seterusnya.

Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA) Hendra Lembong mengumumkan pembukuan laba Rp14,7 triliun pada Kuartal I 2026 dalam Konferensi Pers Paparan Publik di Jakarta, Kamis (23/4/2026). Berkaca dari kinerja keuangan kuartal I-2025, kala itu laba BCA mencapai Rp 14,15 triliun, maka laba BCA periode terkini itu terbilang stagnan.

Dalam porsi laba tersebut, BCA mencatat total kredit tumbuh 5,6% Year on Year (YoY) mencapai Rp994 triliun, komposisi dana giro dan tabungan (CASA) sebesar Rp1.089 triliun, tumbuh 11,2% YoY. Porsi CASA tersebut mencakup 85,2% dari total DPK BCA sebesar Rp1.292,4 triliun.

Pertumbuhan tersebut tidak lepas dari capaian penyaluran kredit produktif sebesar Rp760,2 triliun, kredit pembiayaan ke sektor-sektor berkelanjutan sebesar Rp258,4 triliun, kredit UMKM dengan outstanding Rp146 triliun, serta kredit hijau (green financing) sebesar Rp113 triliun, termasuk pembiayaan proyek energi baru dan terbarukan (EBT) yang tumbuh 53,5% YoY.

"BCA berkomitmen menyalurkan kredit dengan prinsip kehati-hatian dan penerapan manajemen risiko yang disiplin. Rasio loan at risk (LAR) dan non performing loan (NPL) terjaga, masing-masing 5,1% dan 1,8%. Rasio pencadangan LAR dan NPL ada pada level solid, masing-masing 69,7% dan 174,6%," ucap Hendra.

Presiden Direktur PT. Bank Central Asia Tbk., Hendra Lembong. Foto: Bank Central Asia

Melengkapi penjelasan Hendra, Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim menyatakan seluruh capaian perseroan sepanjang triwulan pertama tersebut sejalan dengan rencana bisnis bank (RBB) yang tidak akan direvisi meskipun bayang-bayang ketidakpastian global menguat memasuki Kuartal II 2026.

"Proyeksi pertumbuhan kredit kami tetap di kisaran 8-10%, dan tentu kita berharap ada perbaikan ekonomi dan permintaan kredit. Kami melihat rencana kerja yang ada dapat diteruskan. Target net interest margin berkisar pada pencapaian saat ini di level 5,4%, tetapi tentu kita harapkan ada dorongan pertumbuhan baik di sisi kredit maupun di sisi pendanaan," ujar Vera.

Wakil Presiden Direktur BCA John Kosasih menambahkan, meskipun hasil stress test menunjukkan indikator permodalan masih kuat dan risiko kredit macet dalam level terkendali, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan nasabah, terutama nasabah korporasi, untuk memantau kondisi finansial saat ini, sekaligus menelaah kapasitas nasabah memitigasi situasi ke depan.

Pemantauan tersebut mencakup monitoring risiko konsentrasi kredit, termasuk penggunaan limit kredit dan kualitas portofolio, menjaga komunikasi dengan debitur yang bisnisnya diperkirakan terdampak, serta melakukan evaluasi sektor industri dengan pertimbangan prospek usaha serta penetapan limit untuk pembiayaan tertentu dengan menyesuaikan potensi risiko.

"Sejauh ini, para nasabah masih menjalankan usaha dengan baik dan kami akan memonitor kondisinya. Tentu implikasi lonjakan harga komoditas terhadap kredit korporasi sudah diperhitungkan, malah sudah diantisipasi sejak jauh hari. Koordinasi baik dengan nasabah kami lakukan sehingga kami juga mengantisipasi berbagai risiko yang dapat terjadi," kata Kosasih.

Kinerja Bank Mandiri

Sementara itu dari perbankan jumbo lainnya, Bank Mandiri tetap mampu menunjukkan resiliensi bisnis dengan membukukan kinerja yang solid pada kuartal I 2026.

Bank berkode emiten BMRI ini mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp15,4 triliun atau tumbuh 16,6% YoY, dengan profitabilitas yang terjaga kokoh tercermin dari Return on Equity (ROE) di level 22,1%, serta fondasi permodalan yang kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) di level 19,7%.

Posisi ini memberikan ruang yang kuat bagi Bank Mandiri untuk melanjutkan pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan sekaligus menjaga ketahanan menghadapi potensi gejolak pasar ke depan.

Direktur Utama Bank Mandiri Riduan menyampaikan, kinerja ini merupakan hasil nyata dari fokus sinergi yang dijalankan secara terarah dan berdampak.

“Bank Mandiri mengedepankan semangat Sinergi Majukan Negeri melalui penguatan sinergi UMKM dan ekonomi kreatif, serta sinergi ekosistem digital. Kinerja yang kami hasilkan bukan hanya mencerminkan pertumbuhan bisnis semata, tetapi merupakan hasil nyata dari fokus sinergi yang melibatkan berbagai unsur perekonomian nasional, sejalan dengan komitmen kami untuk terus menjadi kontributor utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Riduan dikutip dari Public Expose Kuartal I-2026 Bank Mandiri, di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Jajaran direksi Bank Mandiri dalam Public Expose Kuartal I-2026 Bank Mandiri, di Jakarta, Selasa (21/4/2026). Foto: Dokumentasi Bank Mandiri

Kinerja intermediasi Bank Mandiri pada kuartal I 2026 menunjukkan akselerasi yang konsisten di atas rata-rata industri di seluruh indikator utama. Dari sisi penyaluran kredit, penyaluran per Maret 2026 tercatat sebesar Rp1.530 triliun atau naik 17,4% YoY, di atas rata-rata industri yang tumbuh 9,37% YoY.

Di sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) bank only tercatat sebesar Rp1.675 triliun atau meningkat 21,1% YoY, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri yang sebesar 13,2% pada periode yang sama.

Struktur pendanaan juga semakin kuat, tercermin dari Current Account Saving Account (CASA) yang mencapai Rp1.201 triliun atau tumbuh 12,7% YoY. Sementara itu, produktivitas operasional semakin baik, tercermin dari perbaikan rasio BOPO ke level 58,0% atau membaik 3,48% YoY.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Corporate Banking Bank Mandiri M. Rizaldi menjelaskan, seluruh ekspansi bisnis ini secara konsisten diimbangi dengan pengelolaan kualitas aset yang disiplin, dengan NPL Gross bank only terjaga di level 0,98% atau membaik 3 basis poins (bps) YoY, jauh di bawah rata-rata industri sebesar 2,17%, didukung pencadangan yang memadai dengan NPL Coverage Ratio di level 245%.

Ketahanan tetap kuat

Dalam kesempatan berbeda, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan Dian Ediana Rae menegaskan dampak langsung konflik Timur Tengah terhadap perbankan Indonesia relatif sangat terbatas. Eksposur cukup kecil dari sisi klaim maupun liabilitas memungkinkan dampak konflik tidak langsung dihadapi permodalan maupun likuiditas perbankan.

Dian menegaskan, di tengah berbagai risiko yang berasal dari dinamika global, ketahanan perbankan Indonesia sangat kuat. Pada Februari 2026 permodalan perbankan terjaga tinggi tecermin dari rasio CAR sebesar 25,83%, sementara risiko kredit perbankan tetap terjaga baik, tecermin dari rasio NPL sebesar 2,17% serta tren coverage pencadangan CKPN yang relatif stabil.

"Di sisi lain, likuiditas perbankan masih cukup terjaga dan relatif stabil, dengan AL/DPK dan AL/NCD di atas threshold (10% dan 50%), juga dengan LDR yang baik sebesar 84,72%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) perbankan 195,64%, masih jauh di atas threshold dan mencukupi likuditas jangka pendek," katanya dalam pernyataan tertulis.

Untuk memastikan perbankan di Indonesia siaga mengendalikan risiko, OJK memantau perkembangan risiko secara reguler dan meminta perbankan untuk senantiasa melaksanakan pengelolaan risiko secara menyeluruh, dengan fokus terjaga kepada pengawasan individual bank.

"OJK juga secara rutin melakukan stress test, di samping perbankan yang juga rutin melakukan stress test secara mandiri Hasil stress test menunjukkan tingkat permodalan perbankan saat ini masih memadai untuk menghadapi berbagai skenario yang disebabkan perubahan signifikan makroekonomi," tegas Dian.

Baca juga:

Perbankan Berharap Pada Kredit UMKM
Kinerja perbankan ditopang oleh kredit pembiayaan di sektor UMKM

Ekstra hati-hati

Dihubungi secara terpisah, Ekonom Senior dan Pengajar Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto menekankan bahwa reasesmen terhadap kelancaran arus kas nasabah perbankan, khususnya nasabah dari segmen korporasi, sudah menjadi keharusan yang tidak dapat dikompromikan.

"Jika debitur itu produsen yang bahan bakunya berorientasi impor, arus kasnya saat ini pasti terganggu, sehingga debitur itu mengalami gangguan membayar kreditnya ke bank, pokok maupun bunga. Bank harus proaktif berunding dengan debitur untuk menemukan jalan keluar terbaik agar posisi debitur tidak turun kelas dan tetap di performing loan," katanya.

Dalam situasi yang tidak bersahabat, Ryan merekomendasikan agar industri perbankan tidak menutup ruang terhadap peluang restrukturisasi utang berdasarkan hasil asesmen dan kalkulasi ulang terhadap kelancaran pembayaran kredit sampai jatuh tempo. Pemetaan dapat dilakukan terhadap lini bisnis yang terdampak, baik terdampak langsung maupun tidak langsung.

""Teman-teman bankir butuh strategi agar status debitur-debitur yang ada tidak menjadi NPL. Sementara, bagi pengajuan kredit baru, bank dituntut ekstra hati-hati. Pendekatan konvensional 5C perlu dilengkapi analisis prospek usaha, profitabilitas dan arus kas, serta ketepatan waktu pembayaran," saran Ryan.

Selain lebih berhati-hati, Ryan mengingatkan jika tidak merevisi rencana bisnisnya hingga akhir tahun, bank hendaknya jangan terlalu kecewa ketika prospek kredit yang diproyeksikan OJK dan BI mencapai 9-13% di tahun ini jauh panggang dari api.

"Jangan bermimpi di siang bolong. Prediksi kredit tumbuh 10-13% di akhir tahun lalu itu disusun sebelum ada perang. Maka, hampir pasti jika bank melakukan penyesuaian rencana bisnis, prospek kredit itu perlu direvisi ke bawah, ke dalam interval yang lebih realistis di tengah situasi yang sedang tidak kondusif," tegasnya.

Senada, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Rizal Taufikurahman mengingatkan kinerja awal bank pada Kuartal I 2026 yang masih relatif solid perlu dibaca dengan kehati-hatian, karena tekanan utama justru mulai terakumulasi ke kuartal II yang saat ini sedang berjalan.

Dalam kondisi ini, Rizal menekankan tekanan global dan kenaikan yield berpotensi meningkatkan biaya dana. Karena itu, bank perlu menjaga struktur pendanaan tetap efisien dengan memperkuat dana murah (CASA), meningkatkan efisiensi operasional, dan mengoptimalkan sumber likuiditas domestik. Tanpa langkah ini, margin perbankan akan tertekan dan ruang intermediasi menyempit.

"Perbankan perlu menggeser strategi dari ekspansi agresif menjadi pertumbuhan berkualitas dan terukur. Dalam situasi ketidakpastian tinggi, menjaga stabilitas dan kualitas kredit jauh lebih penting daripada mengejar target pertumbuhan jangka pendek. Jika tidak diantisipasi, tekanan di sektor riil berisiko menular ke sektor keuangan dan melemahkan intermediasi secara keseluruhan," tegasnya.

Author

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ekspor-Impor, Ketenagakerjaan, dan Teknologi

Baca selengkapnya

Ω