Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai belum sepenuhnya menjadi sentimen positif bagi industri kelapa sawit nasional. Meski sebagian besar transaksi ekspor komoditas sawit dilakukan menggunakan mata uang dolar AS, namun industri ini masih hadapi tekanan kenaikan biaya yang terus meningkat.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono menuturkan kondisi pelemahan rupiah tidak otomatis meningkatkan keuntungan pelaku industri secara signifikan. Di satu sisi, pendapatan ekspor memang berpotensi meningkat ketika dikonversi ke rupiah, namun di sisi lain industri masih menghadapi tekanan biaya produksi yang terus meningkat.
Kondisi tersebut terjadi karena sejumlah kebutuhan utama dalam industri sawit masih bergantung pada impor.
“Pelemahan rupiah membuat harga berbagai komponen produksi mengalami kenaikan, mulai dari pupuk, bahan kimia, hingga suku cadang mesin untuk kebutuhan pabrik pengolahan. Bahkan, harga pupuk dilaporkan mengalami kenaikan hingga 30 persen, sehingga menambah beban operasional perusahaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit di berbagai daerah,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (17/5/2026).
Kenaikan biaya produksi itu dinilai dapat mengurangi manfaat yang diperoleh dari penguatan pendapatan ekspor berbasis dolar AS. Industri sawit nasional saat ini masih membutuhkan efisiensi yang tinggi agar tetap mampu menjaga daya saing di pasar global.
Eddy menambahkan jika biaya operasional terus meningkat, maka margin keuntungan perusahaan dapat tergerus meskipun harga jual ekspor relatif membaik akibat pelemahan nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, peluang ekspor minyak sawit Indonesia juga dinilai belum sepenuhnya pulih karena masih dipengaruhi berbagai kebijakan pemerintah. Ekspor minyak sawit saat ini tetap diatur melalui sejumlah instrumen seperti Persetujuan Ekspor (PE), domestic market obligation (DMO), serta bea keluar (BK).
“Kebijakan tersebut diterapkan untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga minyak goreng di dalam negeri, namun pada saat bersamaan turut mempengaruhi fleksibilitas pelaku usaha dalam meningkatkan ekspor,” ujar dia.
Baca juga:

Meski menghadapi berbagai tantangan, kinerja industri sawit nasional sepanjang 2025 masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. Gapki mencatat produksi crude palm oil (CPO) Indonesia mencapai 51,66 juta ton pada 2025. Angka tersebut meningkat 7,26 persen dibandingkan produksi tahun sebelumnya yang sebesar 48,16 juta ton. Peningkatan produksi ini mencerminkan bahwa sektor sawit nasional masih memiliki kapasitas produksi yang kuat di tengah tekanan global dan fluktuasi nilai tukar.
Sementara itu, total ekspor sawit Indonesia pada 2025 tercatat mencapai 32,34 juta ton atau naik 9,51 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 29,54 juta ton. Kenaikan ekspor terutama ditopang oleh meningkatnya pengiriman minyak sawit olahan yang mencapai 22,73 juta ton dari sebelumnya 20,45 juta ton. Pertumbuhan tersebut menunjukkan permintaan pasar internasional terhadap produk sawit Indonesia masih cukup tinggi, sekaligus menjadi indikator bahwa industri sawit tetap menjadi salah satu penopang penting kinerja ekspor nasional.
Dampak beragam
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno menuturkan Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memberikan dampak yang beragam bagi para eksportir nasional.
Bagi perusahaan yang berorientasi ekspor, kondisi ini umumnya dapat meningkatkan pendapatan karena hasil penjualan dalam dolar AS akan bernilai lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah. Situasi tersebut membuat sejumlah sektor ekspor seperti perkebunan, perikanan, tekstil, hingga pertambangan berpotensi memperoleh tambahan keuntungan, terutama apabila sebagian besar biaya produksinya masih menggunakan komponen lokal.
“Keuntungan dari pelemahan rupiah tidak selalu dirasakan secara maksimal oleh seluruh eksportir. Banyak pelaku usaha masih bergantung pada bahan baku, mesin, maupun komponen produksi impor yang dibayar menggunakan dolar AS,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (17/5/2026).
Ketika rupiah melemah, biaya produksi ikut meningkat sehingga dapat mengurangi margin keuntungan perusahaan. Kondisi ini terutama dirasakan industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor bahan penolong dan teknologi dari luar negeri.
Peningkatan biaya impor
Ekonom sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik Junaidi Rachbini mengatakan Pelemahan nilai tukar rupiah berdampak pada meningkatnya biaya impor berbagai barang dan bahan baku yang dibutuhkan industri dalam negeri.
“Ketika rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, perusahaan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli produk impor, mulai dari mesin, bahan baku industri, hingga barang modal lainnya. Kondisi tersebut dapat memicu kenaikan biaya produksi yang pada akhirnya berpengaruh terhadap harga jual barang dan jasa di pasar domestik,” ujar dia dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (17/5/2026).
Selain sektor industri, pelemahan rupiah juga berdampak pada daya beli masyarakat. Harga sejumlah barang konsumsi yang memiliki kandungan impor cenderung mengalami kenaikan, termasuk produk elektronik, pangan tertentu, hingga bahan bakar dan kebutuhan produksi lainnya. Jika kondisi berlangsung dalam jangka panjang, tekanan inflasi dapat meningkat sehingga masyarakat harus mengeluarkan pengeluaran lebih besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga dapat memberikan keuntungan bagi sektor yang berorientasi ekspor dan pariwisata. Produk Indonesia menjadi relatif lebih murah di pasar internasional sehingga berpotensi meningkatkan daya saing ekspor nasional.