Indonesia berhasil mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, tercermin dari kinerja neraca perdagangan Maret 2026 yang tetap mencapai surplus USD3,32 miliar, meski menghadapi tekanan bertubi-tubi dari disrupsi rantai pasok global.
Dalam Rilis Berita Statistik di Jakarta, Senin (4/5/2026), Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai total ekspor Indonesia pada Maret 2026 mencapai USD22,53 miliar, turun 3,10% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Year on Year/YoY).
Sementara itu, nilai total impor Indonesia pada Maret 2026 tercatat USD19,21 miliar, naik 1,51% YoY. Dengan demikian, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan pada Maret 2026 sebesar USD3,32 miliar, atau naik dari surplus neraca perdagangan bulan Februari 2026 sebesar USD1,27 miliar.
Ekspor pertanian, kehutanan, dan perikanan merosot
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, penurunan ekspor pada Maret 2026 didorong penurunan ekspor nonmigas yang turun 2,52% YoY mencapai USD21,25 miliar, sementara ekspor migas turun menjadi USD1,28 miliar.
Menurut Ateng, penurunan ekspor nonmigas tersebut tidak lepas dari penurunan nilai ekspor dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang merosot hingga 44,14% YoY, dengan total nilai ekspor hanya mencapai USD0,32 miliar.
"Penurunan secara tahunan disebabkan penurunan nilai ekspor beberapa komoditas, yaitu kopi, buah-buahan tahunan, tanaman obat, aromatik dan rempah-rempah, sarang burung, serta cengkih. Sementara itu, ekspor pertambangan dan manufaktur juga mengalami penurunan, masing-masing 2,15% dan 1,26%," katanya.
Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi tiga negara tujuan ekspor utama Indonesia pada Maret 2026. Nilai ekspor nonmigas ke Tiongkok menduduki tempat tertinggi sebesar USD16,50 miliar, dengan komoditas besi dan baja mendominasi 25,98% di antaranya.
Sementara itu, ekspor ke AS dan India masing-masing mencapai USD7,29 miliar dan USD4,50 miliar dengan komoditas dominan mesin dan perlengkapan elektrik ke AS dan bahan bakar mineral ke India, masing-masing memberikan andil 16,47% dan 32,21% terhadap total ekspor ke masing-masing negara tersebut.
Kenaikan impor sektor nonmigas
Sementara itu, nilai impor tumbuh 1,51% YoY menjadi USD 19,21 miliar, didorong kenaikan impor nonmigas sebesar USD16,04 miliar, tumbuh 1,54% YoY. Peningkatan terjadi di seluruh golongan penggunaan, dengan nilai impor bahan baku tetap menjadi yang tertinggi sebesar USD13,77 miliar, tumbuh 2,15 % secara YoY.
Nilai impor tiga komoditas utama yaitu mesin/peralatan mekanis sebesar USD9,44 miliar, mesin/perlengkapan elektrik sebesar USD8,02 miliar, dan impor plastik serta barang dari plastik sebesar USD2,55 miliar. "Ini memberikan kontribusi sebesar 37,77% terhadap total impor nonmigas dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” jelas Ateng.
Secara kumulatif, BPS mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia sejauh ini mencapai USD5,55 miliar, atau turun dibandingkan surplus neraca perdagangan Januari-Februari 2025 yang mencapai USD10,91 miliar.
"Selain peningkatan defisit neraca perdagangan migas sebesar USD0,24 miliar secara tahunan, kemerosotan neraca perdagangan nonmigas kumulatif sebesar USD5,12 miliar ikut mendorong penurunan ini," ujar Ateng.
Perlunya diversifikasi ekspor
Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jakarta Irwandy Rajabasa menyatakan penurunan ekspor sudah diperkirakan sebelumnya, lebih-lebih di tengah gejolak geopolitik.
Berkurangnya permintaan dari tujuan ekspor tradisional amat berpengaruh pada penurunan tersebut, selain kenaikan bahan bakar, biaya logistik, dan kalkulasi margin jika dibandingkan pasar dalam negeri. Di tengah situasi itu, fluktuasi nilai tukar rupiah yang terus tertekan sejatinya tidak serta-merta disyukuri eksportir.
Di satu sisi, eksportir dapat meningkatkan kinerja dan memanfaatkan selisih kurs yang menguntungkan. Di sisi lain, industri tentu terbebani, terutama yang bergantung bahan baku impor. "Namun, jika dolar menguat, produk Indonesia juga jadi lebih kompetitif dan bisa meningkatkan permintaan dari negara tujuan ekspor,” katanya.
Dalam situasi seperti ini, Irwandy berharap pemerintah dapat mendorong diversifikasi ekspor juga ditujukan pada segmentasi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu menembus pasar global. Dukungan itu dapat berbentuk edukasi berkelanjutan, kemudahan proses ekspor, serta insentif regulasi yang menarik.
“Ekspor mendatangkan devisa sebagai penggerak pertumbuhan. Di sisi lain, perlindungan bagi ketahanan industri dalam negeri juga perlu dimaksimalkan. Keseimbangan dibutuhkan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” tegas Irwandy.
Pergeseran tekanan antar-komoditas dan antar-sektor
Senada, CEO dan Founder Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menilai penurunan ekspor pada Maret 2026 belum dapat disimpulkan sebagai awal penurunan ekspor berkepanjangan, tetapi sudah menjadi sinyal pelemahan yang harus diantisipasi.
“Data BPS menunjukkan ekspor Maret 2026 turun 3,10% secara tahunan. Namun secara kumulatif Januari–Maret 2026, total ekspor masih naik tipis 0,34% dan ekspor nonmigas masih tumbuh 0,98%. Artinya, tekanan pada Maret belum sepenuhnya mengubah tren kumulatif, tetapi ruang pertumbuhan ekspor memang semakin sempit,” ujar Setijadi kepada SUAR, Senin (4/5/2026).
Ia menilai risiko penurunan ekspor akan meningkat bila disrupsi rantai pasok global berlanjut, terutama akibat eskalasi konflik, kenaikan biaya energi, gangguan pelayaran, dan pelemahan permintaan dari negara tujuan utama.
Tekanan komoditas berbasis sumber daya alam, seperti bahan bakar mineral yang secara kumulatif turun US$674 juta atau 8,35%, serta sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang turun 32,18%.
Ekspor industri pengolahan masih tumbuh 3,96% secara kumulatif, terutama ditopang oleh nikel dan barang daripadanya yang naik 60,60%.
Di sisi lain, Setijadi menilai ada faktor penahan yang cukup penting. Ekspor industri pengolahan masih tumbuh 3,96% secara kumulatif, terutama ditopang oleh nikel dan barang daripadanya yang naik 60,60%.
“Ini menunjukkan bahwa ekspor Indonesia tidak seluruhnya melemah, yang terjadi lebih tepat disebut sebagai pergeseran tekanan antar-komoditas dan antar-sektor. Artinya, selama ekspor manufaktur dan produk hilirisasi masih tumbuh, penurunan ekspor berpotensi bersifat sementara,” tuturnya.
Memperkuat ketahanan ekspor
Beberapa risiko yang harus dipersiapkan eksportir ke depan untuk menghadapi tekanan adalah memperkuat ketahanan ekspor melalui tiga langkah. Pertama, pemerintah dan pelaku usaha perlu mempercepat diversifikasi pasar ekspor, tidak hanya bergantung pada pasar utama seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan India yang kontribusinya mencapai 44,48% terhadap ekspor nonmigas.
Kedua, perlu penguatan ekspor bernilai tambah, terutama industri pengolahan, hilirisasi mineral, produk kimia, otomotif, elektronik, serta produk agroindustri, agar Indonesia tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi harga komoditas mentah.
“Ketiga, dan saya pikir terpenting, adalah menyusun mitigasi biaya dan risiko logistik melalui kontrak pelayaran jangka menengah, alternatif rute, konsolidasi muatan ekspor, peningkatan efisiensi pelabuhan, serta penguatan sistem early warning terhadap gangguan rantai pasok global,” jelasnya.