Global South merujuk pada negara-negara yang sedang berkembang di wilayah Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang kini menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam lanskap ekonomi global.
Berdasarkan data UN Conference on Trade and Development (UNCTAD), sejak tahun 1995 hingga 2024, terjadi pergeseran struktural di mana dominasi perdagangan antarnegara maju (North to North) merosot tajam dari pangsa pasar 56,8% menjadi hanya 37,8%. Namun, dari sisi nominal nilainya tumbuh dari 2.773,6 miliar dolar AS ke 9.113,4 miliar dolar AS.
Sebaliknya, perdagangan antarnegara berkembang (South to South) melonjak signifikan dari pangsa pasar 10,4% (505,6 miliar dolar AS) menjadi 25,7% dengan nilai mencapai 6.177,2 miliar dolar AS. Fenomena ini menandakan kemandirian ekonomi yang semakin kuat di antara negara-negara selatan.
Kekuatan Global South saat ini didorong oleh diversifikasi kemitraan perdagangan yang sangat kompetitif. Data indeks diversifikasi 2024 menunjukkan bahwa China (3,3), Uni Emirat Arab (3,2), dan India (3,2) memimpin di Global South, bahkan mengungguli negara maju seperti Uni Eropa (3,1), Jepang (2,9) dan Korea Selatan (2,8). Adapun indeks diversifikasi Indonesia di angka 2,8.
Diversifikasi yang tinggi ini mencerminkan kemampuan negara-negara tersebut dalam menjalin relasi mitra dagang baik dengan intraregional maupun antar wilayah (cross regional), guna diversifikasi dan memperkuat rantai pasok. Hal ini menjadi dasar penting bagi ketangguhan ekonomi mereka dalam menghadapi gejolak pasar internasional.
Integrasi ekonomi di kawasan Asia menjadi motor penggerak utama dalam dinamika ini. Perdagangan intra-regional di Asia dan Oseania mencatatkan pertumbuhan yang luar biasa, dari hanya 381,6 miliar dolar AS (7,8% pangsa global) pada 1995, melesat menjadi 4.529,8 miliar dolar AS dengan penguasaan pasar mencapai 18,8% pada 2024.
Lonjakan ini menegaskan bahwa pusat gravitasi perdagangan dunia telah bergeser ke Timur. Selain itu, aliran perdagangan dari Selatan ke Utara (South to North) juga meningkat dari 16,0% menjadi 20,3% (4.883,3 miliar dolar AS), yang menunjukkan bahwa negara-negara maju kini semakin bergantung pada pasokan dari Global South.
Dominasi ekonomi Global South juga terlihat dari penguasaan sektor perusahaan unggulan dunia. Di sektor energi, Saudi Aramco dari Arab Saudi memimpin dengan kapitalisasi pasar sebesar 1.547,9 miliar dolar AS. Sementara itu, Taiwan Semiconductor Manufacturing (TSMC) menguasai sektor teknologi informasi dengan nilai pasar 987 miliar dolar AS.
Kekuatan korporasi ini juga merambah ke sektor digital dan keuangan melalui raksasa Tiongkok seperti Tencent (636 miliar dolar AS), Alibaba (287,7 miliar dolar AS), serta bank-bank besar seperti ICBC dan China Construction Bank yang mendominasi daftar perusahaan elit di Global South.
Meskipun menunjukkan performa yang impresif, tantangan kesenjangan kapital masih ada, terutama di sektor teknologi informasi tingkat tinggi yang masih dikuasai perusahaan Amerika Serikat seperti Nvidia (4.238,8 miliar dolar AS).
Namun, dengan penguasaan sepertiga perdagangan jasa dunia oleh negara berkembang yang dipelopori oleh Tiongkok dan India, Global South berada di jalur yang tepat untuk terus meningkatkan pengaruhnya. Dengan tren pertumbuhan nilai perdagangan yang terus naik, kelompok negara ini tidak lagi hanya menjadi penonton, melainkan sutradara dalam pembentukan tatanan ekonomi global masa depan.