PMDN Dominasi Realisasi Investasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

PMDN Dominasi Realisasi Investasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Dalam dua tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran realisasi investasi tercatat Rp 3.923,19 triliun. Capaian tersebut didominasi oleh realisasi penanaman modal dalam negeri dan tingginya porsi modal pada sektor tersier dan sekunder.

PMDN Dominasi Realisasi Investasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Berdasarkan rilis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, total nilai investasi konsisten mengalami kenaikan pada setiap kuartalnya, dimulai dari sebesar Rp 452,80 triliun pada kuartal keempat (Q4) 2024 hingga menjadi Rp 528,66 triliun pada kuartal ketiga (Q3) 2026. 

Realisasi investasi yang konsisten meningkat pada periode tersebut tumbuh sebesar 16,75%. Hal itu menggambarkan daya tarik berinvestasi masih stabil dan berkesinambungan.

Dilihat dari sumber pendanaannya, penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencatatkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan penanaman modal asing (PMA). Total realisasi PMDN selama kurun waktu dua tahun tersebut tercatat sebesar Rp 1.998,71 triliun atau mendominasi dengan porsi 50,9% dari total keseluruhan investasi. Sementara itu, PMA menyumbang porsi sebesar Rp 1.924,48 triliun atau sekitar 49,1%. 

Pertumbuhan nilai PMDN juga bisa terbilang agresif, naik sekitar 24,87% dari Rp 206,99 triliun pada Q4-2024 menjadi Rp 258,47 triliun pada Q3-2026. Di sisi lain, laju nilai PMA tumbuh di kisaran 9,9%, yakni dari Rp 245,81 triliun menjadi Rp 270,19 triliun pada rentang waktu yang sama.

Dilihat per sektor, sektor tersier menjadi penyumbang terbesar bagi realisasi investasi nasional. Sektor tersier ini memimpin dengan total capaian sebesar Rp 1.728,02 triliun, yang merepresentasikan 44,05% dari total investasi selama dua tahun. 

Sektor sekunder menyusul dengan total realisasi mencapai Rp 1.618,51 triliun atau sebesar 41,25%. Sedangkan sektor primer menempati urutan terakhir yang menyumbang Rp 576,67 triliun atau sekitar 14,70% dari akumulasi investasi.

Sektor tersier mencetak angka pertumbuhan sebesar 28,14%, yang naik secara bertahap dari Rp 171,72 triliun menjadi Rp 220,05 triliun. 

Sektor sekunder juga tumbuh sebesar 20,1%, bergerak naik dari angka awal Rp 205,55 triliun menjadi Rp 246,87 triliun. Tren positif pada dua sektor tersebut berkebalikan dengan sektor primer yang mengalami kontraksi investasi sebesar 18,27%, di mana nilainya menyusut dari Rp 75,53 triliun di awal periode menjadi hanya Rp 61,73 triliun pada akhir pengamatan.

Dilihat per unit sektor, industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya masih menjadi sektor utama dengan total realisasi Rp 531,55 triliun atau menyumbang 13,55% dari total investasi. Industri Logam Dasar ini mengalami lonjakan pertumbuhan sebesar 120,6%, berawal dari Rp 50,57 triliun pada Q4-2024 dan melonjak hingga Rp 111,57 triliun pada Q3-2026. 

Sektor penyumbang terbesar berikutnya secara berurutan adalah Transportasi, Gudang dan Telekomunikasi sebesar Rp 308,89 triliun atau 7,87% dari total. Sektor pertambangan sebesar Rp 258,91 triliun atau 6,60% dari total, sektor jasa lainnya sebesar Rp 211,20 triliun atau 5,38% dari total, serta sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran sebesar Rp 200,02 triliun atau 5,10% dari total. Selain industri logam, sektor jasa lainnya mencatat pertumbuhan tertinggi kedua, yakni melonjak hingga 117,7% selama periode tersebut.

Tingginya porsi penanaman modal pada sektor tersier dan sekunder yang berjalan beriringan dengan penyusutan pada sektor primer menggambarkan pergeseran minat investasi dari tiga sektor utama.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)