Jatuh Bangun IHSG Dalam Tiga Dekade
Dalam tiga dekade terakhir, IHSG beberapa kali mengalami guncangan akibat banyak faktor. Pengalaman menunjukkan dari setiap kejatuhan, IHSG mampu bangkit kembali dalam kurun waktu 1-1,5 tahun.
Dalam tiga dekade terakhir, IHSG beberapa kali mengalami guncangan akibat banyak faktor. Pengalaman menunjukkan dari setiap kejatuhan, IHSG mampu bangkit kembali dalam kurun waktu 1-1,5 tahun.
Pasar modal Indonesia kembali terguncang di paruh kedua 2026. Pada perdagangan awal pekan, Senin (19/10/2026), indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka dengan tekanan di level 4.996,61 dan merosot lebih dalam hingga ditutup pada level 4.669.
Gejolak di pasar saham Indonesia telah berlangsung sejak awal tahun ini. IHSG sempat mencapai level tertinggi di angka 9.133,87 pada 19 Januari 2026. Namun, dipenghujung bulan IHSG terkoreksi sekitar 8% ke level 8.232.
Memasuki semester pertama (Februari–Juni) 2026, bursa saham terdampak sentimen makroekonomi global yang bergejolak. Lonjakan harga minyak mentah dunia, kenaikan imbal hasil (yield) U.S. Treasury, serta ketidakpastian suku bunga The Fed secara konsisten menekan saham-saham berkapitalisasi besar, terutama di sektor perbankan. Akibatnya, IHSG sempat anjlok hingga 41,5% dari puncaknya, menyentuh level terendah paruh pertama di 5.342,14 pada awal Juni 2026.
Tren pemulihan sempat muncul di semester kedua ketika indeks kembali merangkak naik ke level 6.686,44 pada awal akhir Agustus hingga September. Namun, evaluasi dari MSCI di bulan Oktober kembali menghentak. MSCI mengumumkan pertimbangan untuk menurunkan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Pengumuman ini memicu aksi jual yang mengakibatkan IHSG anjlok 11,6% hanya dalam sehari pada Jumat (16/10) ke level 5.185,10, dan berlanjut turun 3,64% pada Senin (19/10). Penurunan dua hari beruntun yang merupakan terburuk dalam tiga dekade ini mendorong otoritas bursa menerapkan langkah darurat berupa penyesuaian batas bawah penolakan otomatis (auto-rejection bawah) menjadi 7% untuk meredam kepanikan pasar.
Kejatuhan pasar modal kali ini bukanlah yang pertama di tanah air. Bursa saham Indonesia telah beberapa kali mengalami guncangan.
Pada rentang waktu 1990-1994, IHSG pernah mengalami tren penurunan berkepanjangan. Indeks jatuh dari level 638,80 menjadi 226,68. Dibutuhkan waktu sekitar 18 bulan untuk kembali ke titik tertinggi sebelumnya.
Selanjutnya, saat krisis finansial Asia 1997-1999, IHSG pun terjun bebas. Pada 4/1990 IHSG berada di level 638,80 dan turun bertahap hingga di titik terendah di level 226,68 pada 10/1991. IHSG berangsur membaik dan kembali di level 600-an pada awal tahun 1994. Dibutuhkan 18 bulan untuk pulih kembali dari titik tertinggi sebelumnya. Pola serupa juga terjadi saat krisis keuangan global melanda pada 2008. Indeks yang berada di 2.721,94 pada awal 2008 terjun ke level 1.256,7 pada Oktober.
Memasuki dekade berikutnya, siklus koreksi dan pemulihan ini kembali berulang dengan waktu pemulihan yang berada di kisaran satu hingga satu setengah tahun. Pada gejolak pasar periode 2013-2014 serta pelemahan komoditas 2015-2016, pasar saham yang turut terdampak terkoreksi tajam dari level puncak 5.000-an membutuhkan waktu masing-masing 14 dan 17 bulan untuk pulih.
Bahkan, koreksi indeks yang terjadi di pertengahan tahun 2018 berhasil ditutup dengan fase pemulihan dalam kurun waktu 10 bulan. Saat pandemi Covid-19 menyapu bursa global dan menyeret IHSG turun ke level 4.538 pada Maret 2020, pasar saham domestik kembali membuktikan daya tahannya dengan pemulihan dalam waktu sekitar 12 bulan.
Menjelang tren penurunan beruntun tahun ini, IHSG juga menunjukkan dinamika di periode 2024-2025. Dari rekor 7.670,73 pada Agustus 2024, indeks terhempas ke 6.270,60 pada Februari 2025, sebelum akhirnya menunjukkan peningkatan hingga mencatatkan rekor penutupan di kisaran 8.646 pada penghujung tahun tersebut.
Fluktuasi IHSG selama lebih dari tiga dekade tak lepas dari faktor eksternal dan internal. Secara historis, krisis makroekonomi global seperti krisis Asia 1998, krisis subprime mortgage terkait pembiayaan hunian 2008, dan pandemi 2020. Selain itu, faktor ketidakpastian kebijakan moneter global terkait suku bunga AS, dan fluktuasi komoditas energi sering kali menjadi katalis kejatuhan indeks. Di sisi lain, faktor internal seperti isu struktural tata kelola emiten lebih kuat memicu koreksi indeks di tahun 2026.
Meskipun pasar saham rentan mengalami kejatuhan, sejarah membuktikan bahwa fundamental ekonomi dan langkah reformasi yang dilakukan pada akhirnya akan memulihkan IHSG.