Amartha dan ICFH Gelar Program 'Tumbuhkan Peluang' di Palu

Kolaborasi lintas sektor membuka peluang bagi 200 UMKM perempuan di Palu untuk mengembangkan usaha dan memperkuat kesehatan finansial.

Amartha dan ICFH Gelar Program 'Tumbuhkan Peluang' di Palu

Amartha Financial sebagai inisiator Koalisi Indonesia untuk Kesehatan Keuangan / Indonesian Coalition for Financial Health (ICFH) menggandeng Women’s World Banking dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menggelar program nasional bertajuk "Tumbuhkan Peluang" di Palu, Sulawesi Tengah. Hal ini dilakukan untuk membuka peluang bagi UMKM lokal untuk memperluas usaha dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Inisiatif kolaboratif ini hadir untuk mengoptimalkan potensi ekonomi Sulawesi Tengah yang tumbuh pesat hingga 8,47 persen pada 2025.

Kegiatan ini merupakan rangkaian lokakarya untuk mempertemukan sekitar 200 UMKM perempuan di Palu dengan mitra industri dan pembeli besar (offtaker) untuk memperluas akses pasar, memfasilitasi legalitas usaha, hingga memperkuat ketahanan finansial.

Chairman Amartha.org sekaligus Head of Secretariat ICFH, Aria Widyanto, menjelaskan bahwa penguatan kapasitas pengusaha perempuan memerlukan dukungan ekosistem yang menyeluruh dan berkelanjutan, agar membantu usaha menjadi lebih formal.

"Penguatan UMKM perempuan tidak cukup hanya dengan membuka akses pembiayaan. Mereka membutuhkan ekosistem yang membantu usaha menjadi lebih formal, mampu mengakses pasar lebih luas, sekaligus memiliki ketahanan dan kesehatan finansial. Melalui kolaborasi lintas sektor seperti ini, kami ingin memastikan lebih banyak perempuan pelaku UMKM di daerah tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga naik kelas," kata Aria dalam press release di Palu, Jumat (16/10/2026).

Dalam lokakarya tersebut, peserta mendapatkan edukasi dan pendampingan pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) langsung dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP). Selain NIB, program ini turut memfasilitasi sertifikasi Halal, PIRT, hingga pembukaan rekening bank guna mempercepat proses formalisasi usaha mikro.

Guna memperluas jangkauan bisnis, para pelaku UMKM—yang didominasi sektor pertanian dan pangan olahan—dihubungkan langsung dengan pembeli besar (offtaker) dan mitra pasar lokal. Beberapa di antaranya meliputi Toko Oleh-Oleh Sri Rejeki, Toko Oleh-Oleh Sal-Han, G.I (Gampiri Interaksi Lestari), dan Nina Agro Jaya.

Pada 2025, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencatat nilai tambah Rp67,96 triliun, sementara industri makanan dan minuman mencapai Rp7,24 triliun . Potensi ini membuka ruang bagi UMKM untuk memperluas pasar melalui penguatan kualitas produk dan pemahaman terhadap kebutuhan pembeli.

menggelar program nasional bertajuk "Tumbuhkan Peluang" di Palu, Sulawesi Tengah. (Foto: Humas)

Dukungan terhadap program ini juga ditegaskan oleh Asisten Deputi PUG Bidang Perekonomian, Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan KemenPPPA, Eni Widiyanti. Ia menilai integrasi akses pasar dan legalitas merupakan fondasi penting bagi kemandirian ekonomi perempuan.

"Pemberdayaan ekonomi perempuan tidak cukup hanya dengan meningkatkan keterampilan berusaha, tetapi juga harus memastikan perempuan memiliki akses yang setara terhadap pembiayaan, legalitas usaha, teknologi, dan pasar," jelas Eni.

Tak berhenti di situ, aspek kesehatan finansial (financial health) turut menjadi pilar utama dalam kegiatan ini. Senior Policy Strategist Southeast Asia Women’s World Banking, Desi Vicianna, menambahkan bahwa pendampingan intensif oleh fasilitator lokal akan terus dilakukan pasca-acara guna memastikan pengelolaan keuangan usaha berjalan optimal.

“Kesehatan finansial merupakan bagian penting dari pemberdayaan ekonomi perempuan. Kegiatan hari ini akan dilanjutkan dengan pendampingan intensif oleh fasilitator lokal untuk membantu pengusaha mikro perempuan memperkuat praktik pengelolaan keuangan dan pengembangan usaha sehingga kemajuan usaha dapat berjalan beriringan dengan kesehatan finansial yang lebih kuat,” kata dia.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)